Prof. Siti Musdah Mulia: Islam Harus Melahirkan Manusia Paripurna, Bukan Sekadar Ritual

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

INDRAMAYU, Lognews.co.id – Akademisi dan aktivis kemanusiaan Prof. Dr. Siti Musdah Mulia menegaskan bahwa Islam seharusnya melahirkan manusia paripurna yang menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan, bukan berhenti pada pelaksanaan ibadah ritual semata. Pesan tersebut ia sampaikan saat menjadi pembicara utama dalam launching dan bedah buku Islamku Islam Al-Zaytun: Refleksi Diri Menuju Basharan Sawiyah.

Dalam forum bedah buku tersebut, Prof. Musdah mengapresiasi hadirnya karya yang ditulis sebagai refleksi pengalaman keagamaan sekaligus upaya memperkaya khazanah pemikiran Islam melalui tradisi literasi dan dialog akademik. Menurutnya, gagasan yang tertuang dalam sebuah buku perlu dibaca, ditelaah, dipertanyakan, dan didiskusikan secara terbuka.

“Kerja-kerja intelektual seperti ini adalah bagian dari perintah Iqra. Iqra bukan sekadar membaca, tetapi membangun literasi, membangun pemahaman yang holistik tentang Islam, ketuhanan, kemanusiaan, dan alam semesta,” ujar Prof. Musdah.

Ia menilai tantangan terbesar masyarakat Indonesia saat ini adalah masih rendahnya budaya membaca dan menulis. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk meninggalkan kebiasaan memberikan penilaian hanya berdasarkan informasi yang belum diverifikasi.

“Jangan berkomentar sebelum membaca bukunya. Biasakan tabayun, cek dan ricek, bukan sekadar mengikuti ‘katanya’,” tegasnya.

Prof. Musdah juga menjelaskan makna Basharan Sawiyah yang menjadi subjudul buku tersebut. Menurutnya, istilah itu merujuk pada manusia paripurna, yaitu manusia yang utuh, merdeka dari berbagai bentuk belenggu, dan menjadikan tauhid sebagai landasan untuk membangun kehidupan yang bermartabat.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa keberagamaan tidak boleh hanya diukur dari kuatnya ritual. Islam, kata dia, harus tercermin dalam kehidupan sosial yang menghadirkan keadilan, kedamaian, serta menolak diskriminasi, kekerasan, dan korupsi.

“Semakin kuat ritualitas seseorang, seharusnya semakin tinggi spiritualitasnya, sehingga mampu mencegah perbuatan yang keji dan munkar,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Prof. Musdah turut mengapresiasi pendekatan pendidikan Al-Zaytun yang menurutnya berupaya memadukan spiritualitas, rasionalitas, dan pemberdayaan masyarakat. Ia menilai eksperimen pendidikan seperti itu penting untuk terus didiskusikan dalam ruang akademik.

Menutup pemaparannya, Prof. Musdah mengajak seluruh peserta menjadikan buku Islamku Islam Al-Zaytun sebagai titik awal memperkuat tradisi membaca, menulis, dan berlomba menghadirkan manfaat bagi sesama.

“Orang terbaik adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat kepada manusia dan seluruh alam,” pungkasnya. (Saheel untuk Indonesia)