INDRAMAYU, Lognews.co.id – Akademisi dan aktivis kemanusiaan Prof. Dr. Siti Musdah Mulia mengajak umat Islam mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat kehidupan sosial yang terbuka bagi semua kalangan, termasuk perempuan, penyandang disabilitas, musafir, hingga masyarakat yang membutuhkan layanan sosial dan kesehatan.
Gagasan tersebut disampaikan Prof. Musdah saat menjadi pembicara utama dalam launching dan bedah buku Islamku Islam Al-Zaytun: Refleksi Diri Menuju Basharan Sawiyah. Menurutnya, rumah ibadah tidak semestinya hanya menjadi tempat menjalankan ritual keagamaan, tetapi juga menjadi ruang yang menghadirkan nilai kemanusiaan dan kebermanfaatan bagi masyarakat.
“Masjid itu seharusnya menjadi pusat kehidupan masyarakat Muslim, tempat semua orang mendapatkan manfaat dan merasa diterima,” ujar Prof. Musdah.
Ia menilai masih banyak masjid yang belum memberikan akses dan pelayanan yang setara bagi seluruh jamaah. Salah satu yang menjadi sorotannya adalah fasilitas bagi perempuan dan penyandang disabilitas yang menurutnya masih sering terabaikan.
Kritik terhadap Fasilitas Masjid yang Belum Inklusif
Dalam pemaparannya, Prof. Musdah mengaku kerap menemukan kondisi tempat ibadah yang menyediakan ruang ibadah perempuan dengan fasilitas yang kurang layak dibandingkan ruang laki-laki.
“Saya sering mampir ke masjid-masjid di daerah. Tempat perempuan berada di bagian yang sempit, becek, kurang nyaman, sementara tempat laki-laki luas dan bersih. Mengapa di rumah Tuhan masih ada diskriminasi seperti itu?” katanya.
Selain itu, ia mempertanyakan sejauh mana masjid telah ramah terhadap kelompok difabel. Menurutnya, rumah ibadah harus dirancang agar dapat diakses semua orang tanpa terkecuali.
“Apakah masjid-masjid kita sudah memiliki akses bagi penyandang disabilitas? Kalau masjid adalah rumah Tuhan, maka rumah itu harus terbuka untuk semua,” ujarnya.
Masjid Tidak Hanya Tempat Ritual
Prof. Musdah menjelaskan bahwa fungsi masjid pada masa Rasulullah SAW tidak terbatas sebagai tempat salat. Masjid juga menjadi ruang pendidikan, pelayanan sosial, hingga tempat masyarakat saling membantu.
Karena itu, ia berharap masjid-masjid di Indonesia dapat menghadirkan layanan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat, seperti kegiatan donor darah, pelayanan kesehatan dasar, bantuan bagi korban kekerasan, hingga tempat singgah bagi musafir.
“Bisa tidak masjid menjadi tempat masyarakat mendapatkan akses kesehatan yang cepat, tempat berbagi makanan bagi yang membutuhkan, atau tempat musafir beristirahat sejenak? Menurut saya, itu sangat manusiawi,” tutur Prof. Musdah.
Ia menambahkan, keberadaan masjid di tengah lingkungan masyarakat merupakan potensi besar untuk memperkuat solidaritas sosial apabila dikelola dengan pendekatan yang inklusif.
Islam Harus Hadir sebagai Rahmat bagi Semua
Dalam bedah buku tersebut, Prof. Musdah juga mengaitkan fungsi sosial masjid dengan konsep Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Menurutnya, nilai tersebut harus tercermin dalam praktik kehidupan sehari-hari melalui sikap yang menghormati keberagaman, menolak diskriminasi, dan memberikan manfaat kepada seluruh makhluk.
Ia menilai ukuran keberhasilan kehidupan beragama tidak hanya terlihat dari banyaknya aktivitas ritual, tetapi juga dari hadirnya kedamaian, keadilan, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
“Islam harus menjadi rahmat, bukan hanya untuk sesama Muslim, tetapi juga bagi seluruh manusia dan alam semesta,” katanya.
(Saheel untuk Indonesia)



