Friday, 30 January 2026

Menanam Kesadaran Menumbuhkan Kemanusiaan, Diskusi Kurikulum LSTEAMS Al Zaytun di Awal Tahun 2026

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Oleh: Ali Aminulloh 

lognews.co.id, Indonesia - Mengawali tahun baru 2026, ruang khas Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin Al Zaytun tidak sekadar menjadi tempat pertemuan, tetapi ruang permenungan arah pendidikan masa depan. Kamis, 1 Januari 2026, sejak pukul 10.00 hingga 11.15 WIB, Syaykh Al Zaytun memimpin diskusi strategis tentang implementasi kurikulum LSTEAMS, dihadiri Ketua dan Sekretaris Majelis Guru, Ketua Majelis Pengendali Asrama Pelajar, para kepala sekolah dan wakil dari PAUD hingga MA, Ketua Kosmaz, serta unsur pembina yayasan.

Diskusi ini bukan rapat administratif. Ia adalah forum gagasan tentang bagaimana pendidikan tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi menumbuhkan kesadaran. Sejak awal, Syaykh menegaskan bahwa kurikulum hanyalah garis besar. Ketika dirinci ia menjadi silabus, dan ketika diperdalam lagi ia menuntut kemahiran guru. Ath-tharîqah ahammu minal mâddah (metode lebih penting daripada materi). Namun bahkan metode pun akan kehilangan makna jika tidak ditopang kualitas guru. Di titik inilah guru diletakkan sebagai pusat peradaban pendidikan.

LSTEAMS, menurut Syaykh, bukan paket jadi yang kaku. Ia adalah ajakan agar para guru saling mengenal unsur-unsurnya yaitu Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, dan Spiritual. Lalu merajutnya menjadi satu kesatuan hidup. Karena itu dibutuhkan tim khusus di tiap bidang, yang kemudian digabungkan, sebab kurikulum tidak pernah berdiri sendiri. Ia harus bersambung, menyambung, dan saling menguatkan.

Contoh konkret menjadi penekanan utama. Ketika Law diperkenalkan di tingkat PAUD, ia tidak hadir sebagai pasal dan larangan, tetapi sebagai hukum kepatutan. Kebersihan kelas dijadikan pintu masuk. Anak-anak diajak menghitung berapa “sampah” di kelas, ke mana dibuang, dan berapa yang tersisa. Di situ hukum bertemu matematika, etika bertemu praktik. Inilah kemanusiaan yang adil dan beradab yang dipelajari bukan dari buku, tetapi dari pengalaman sehari-hari.

Matematika pun diajarkan secara praktikal, seperti menghitung sisa setelah dijual, memahami sebab-akibat angka dalam kehidupan nyata. Sains tidak berhenti di teori, tetapi disertai praktik sebagai bekal memasuki dunia politeknik, sebab poli berarti praktik. Teknologi, termasuk kecerdasan buatan, dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu belajar dan pencarian informasi, selama diarahkan dan dikendalikan. Pendidikan tidak alergi pada zaman, justru menuntun agar zaman tidak kehilangan arah.

Syaykh juga menyinggung sejarah kebebasan berpikir dalam peradaban Islam. Dari Al-Khawarizmi yang melahirkan aljabar dan algoritma, hingga seni musik yang menemukan sistem nada melalui pemahaman bahasa dan irama. Seni, bagi Syaykh, bukan sekadar keindahan, tetapi ekspresi kesadaran filosofis dan sosial yang tertata seperti syair Imam Syafi’i atau logika puitik para filosof.

Pada titik inilah tujuan besar pendidikan Al Zaytun ditegaskan kembali: menanamkan trilogi kesadaran yaitu kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial. Tanpa kesadaran filosofis, manusia akan mentah dan dangkal. Tanpa kesadaran ekologis, ia tercerabut dari lingkungannya. Tanpa kesadaran sosial, ia kehilangan empati. Ketiganya adalah satu kesatuan: akar, batang, dan buah. Kesadaran filosofis berakar pada rububiyah, kesadaran ekologis menumbuhkan tanggung jawab mulkiyah, dan pa kesadaran sosial mengarahkan manusia pada uluhiyah, yaitu pengabdian yang melampaui diri.

Dimensi spiritual tidak diposisikan sebagai beban tambahan, melainkan ruh yang menyatu. Ulumu al-din, fikih, dan akidah diajarkan secara kontekstual, berangkat dari Al-Qur’an dan hadis, tanpa menjadikannya doktrin kaku. Syaykh mengingatkan bahaya ketika manusia “men-Tuhankan” figur nabi, kiai, atau mazhab, bukan Tuhan itu sendiri. Pendidikan justru harus membebaskan akal dan menuntun iman agar hidup.

Pendekatan usia pun diperhatikan. Anak usia dini dikenalkan nilai secara alamiah. Usia 7–9 tahun diarahkan pada logika, bukan doktrin. Diskusi dan pencarian mandiri diperkenalkan secara bertahap, termasuk penggunaan teknologi yang terkendali. Pada jenjang lebih tinggi, Law diperluas hingga hukum positif yaitu Pancasila sebagai sumber hukum tertinggi, UUD 1945, hingga KUHP, agar lahir pemahaman hukum yang progresif dan berkeadaban.

Yang tak kalah penting, diskusi ini menegaskan pendidikan global sebagai horizon LSTEAMS. Syaykh menanamkan cara pandang global thinking, global setting, dan global solidarity. Pelajar diajak berpikir global tanpa kehilangan akar, siap beradaptasi lintas budaya tanpa tercerabut dari identitas, serta memiliki kepekaan kemanusiaan universal.

Syaykh merumuskannya dengan metafora yang sederhana namun kuat: Indonesia adalah rumahku, Asia adalah halaman rumahku, sementara Amerika, Eropa, dan Australia adalah tempat rekreasiku. Dunia bukan ancaman, melainkan ruang perjumpaan. Pelajar Al Zaytun tidak dididik untuk minder di hadapan peradaban global, tetapi juga tidak larut kehilangan jati diri.

Global thinking menumbuhkan keluasan nalar, global setting melatih kesiapan hidup di berbagai konteks dunia, dan global solidarity membentuk empati lintas batas. Dalam kerangka ini, predikat pesantren tidak berhenti sebagai simbol religius, tetapi menjelma etos peradaban: pesantren dengan sistem modern, berakar pada spiritualitas, dan terbuka pada dunia.

1000281208

Menjelang akhir diskusi, pesan Syaykh mengerucut pada tujuan akhir pendidikan: lahirnya manusia dengan kesadaran utuh. Kullun ya‘malu ‘alâ syâkilatih (setiap orang berbuat sesuai kecakapannya). Pendidikan tidak memaksa semua anak menjadi sama, tetapi menolong setiap anak menemukan jalan hidupnya.

Diskusi pagi itu berakhir tanpa gegap gempita. Namun gagasan yang lahir justru bergema panjang. Dari ruang khas Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, sebuah ikhtiar sunyi dimulai: menanam kesadaran, merangkai iman, ilmu, dan dunia, agar kelak lahir generasi yang merasa betah di rumahnya sendiri, sekaligus siap berjalan percaya diri di panggung. "Mendidik dan membangun semata-Mata hanya untuk beribadah kepada Allah" (Amri-untuk Indonesia)