Oleh: Latief WeHa
lognews.co.id, Indonesia - Ketika Islam dipahami hanya sebatas agama ritual, yang kerap muncul justru kegaduhan tanpa ujung. Perdebatan antar sesama muslim—tentang isu-isu seperti najisnya anjing atau boleh tidaknya mengucapkan selamat hari raya agama lain—terus berulang, sementara substansi berislam yang lebih besar sering terabaikan.
Energi umat habis pada polemik, bukan pada kemajuan.
Padahal, bila Islam dipandang sebagai peradaban, wajahnya menjadi berbeda. Islam hadir dengan nilai-nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan.
Dalam kerangka ini, kegaduhan tak menemukan tempatnya. Yang tumbuh adalah kerja bersama: membangun pendidikan, memajukan pertanian dan kelautan, mengembangkan teknologi yang ramah alam, menjaga toleransi, serta merawat perdamaian.
Kesadaran Islam sebagai peradaban inilah yang dapat membawa Indonesia melangkah lebih maju. Umat tidak bisa diadu domba oleh ceramah-ceramah provokatif yang memelihara konflik dogmatis.
Sebaliknya, umat bersatu, kompak, dan fokus pada kerja-kerja nyata demi kemaslahatan bersama.
Dalam konteks ini, Syaykh Al-Zaytun, A.S. Panji Gumilang, menempatkan Islam sebagai peradaban yang terus dibangun melalui pendidikan. Upaya tersebut tak jarang menghadapi gangguan dari mereka yang memandang Islam semata sebagai agama ritual.
Jika Al-Zaytun dibiarkan berkembang, pendekatan peradaban ini berpotensi menjadi motor penggerak kemajuan Indonesia—dan mungkin itulah yang dianggap sebagai ancaman oleh sebagian pihak, baik dari dalam maupun luar negeri.
Pertanyaannya kini sederhana namun mendasar: sampai kapan cara berpikir kita dibatasi oleh pemahaman sempit? Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk abai terhadap pertanian, ketahanan pangan, konservasi alam, toleransi, dan perdamaian.
Justru semua itu adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab peradaban.
Mari bersama kita wujudkan Indonesia yang kuat, Indonesia Must Be Strong, AL-ZAYTUN Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian menuju masyarakat yang Sehat, Cerdas, dan Manusiawi.Mendidik dan membangun semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Merdeka !!! (Amri-untuk Indonesia)


