Friday, 30 January 2026

Mengejar 2045: Sanggupkah Kita Menjadi Raksasa Dunia Jika Masih Bangga Mencetak "Buruh Elit" untuk Bangsa Asing?

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh : Ali Aminulloh

Mungkinkah sebuah bangsa menjadi raksasa jika ia terus-menerus meminjam kaki orang lain untuk berjalan? Pantaskah kita memuja masa depan yang gemilang, namun sistem pendidikan kita justru sibuk mencetak "buruh elit" untuk memperkaya tanah asing? Sebuah paradoks besar sedang menanti di ufuk 2045: apakah kita akan terus bangga menjadi pengikut kurikulum Barat, atau berani memutus rantai ketergantungan untuk membangun kedaulatan yang benar-benar mandiri dan abadi.

 1000284945

Kesadaran akan tantangan inilah yang mendasari konsistensi Al-Zaytun dalam menggelar Pelatihan Pelaku Didik secara berkelanjutan. Menginjak sesi ke-31 pada 4 Januari 2026, lembaga ini kembali menegaskan arah perjuangannya melalui tema besar transformasi revolusioner pendidikan berasrama menuju Indonesia modern abad ke-21 dan menyongsong 100 tahun kemerdekaan Indonesia. Pertemuan ini bukan sekadar diskusi rutin, melainkan simposium strategis yang menghadirkan Guru Besar Ekonomi dan Bisnis Islam UPI Bandung, Prof. Dr. A. Jajang W. Mahri, M.Si., yang mengupas tuntas korelasi antara kesetaraan pendidikan dan pertumbuhan ekonomi. Sebagai puncak acara, Syaykh A.S. Panji Gumilang, S.Sos., M.P., memberikan ulasan tajam yang membongkar kemapanan cara berpikir kolektif kita tentang pendidikan dan masa depan bangsa.

Selama 26 tahun terakhir, penelitian mendalam telah dilakukan untuk membuktikan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) bukan sekadar angka statistik, melainkan hasil dari kesadaran yang terintegrasi.

1000284941Syaykh Panji Gumilang menekankan bahwa pendidikan kontemporer haruslah berlandaskan pada tiga pilar utama: kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial. Menariknya, ia menawarkan Pancasila sebagai dasar universal yang tidak perlu diperumit dengan label-label tertentu, karena nilai-nilainya sudah mencakup segala kebutuhan bangsa dalam membangun kesadaran manusia yang adil dan beradab. Pendidikan di sini tidak menyaring orang pintar atau bodoh, melainkan menyaring kesadaran setiap individu untuk membangun peradaban bersama.

Namun, visi besar ini sering kali terbentur oleh realitas kebijakan nasional yang dianggap melukai martabat bangsa. Syaykh memberikan kritik pedas terhadap pernyataan pejabat negara yang ingin mendidik anak-anak Indonesia hanya untuk mengisi pasar tenaga kerja di Jepang, sebuah tindakan yang ia sebut sebagai bentuk penjajahan modern yang sangat sadis. Baginya, pendidikan Indonesia ke depan harus berani melakukan perombakan drastis dengan mengalokasikan 90 persen kurikulum untuk vokasi dan politeknik, sementara jalur akademik cukup sepuluh persen saja. Strategi ini bertujuan agar lulusan kita tidak lagi menjadi "buruh elit" di negeri orang, melainkan menjadi tenaga ahli yang membangun proyek-proyek strategis di tanah air sendiri.

Cita-cita kemandirian ini dijabarkan melalui sebuah peta jalan (*roadmap*) 25 tahun yang ambisius, mencakup pembangunan pusat pendidikan di 500 kabupaten dengan lahan minimal 3.000 hektar per daerah. Syaykh juga melontarkan gagasan provokatif tentang penggunaan nama "Indonesia Abadi" sebagai pengganti simbol Garuda yang menurutnya memiliki keterbatasan usia secara biologis dan filosofis. Dalam bayangannya, pada tahun 2045, Indonesia harus menjadi lumbung pangan dunia yang mampu memberi makan dua miliar jiwa, didukung oleh jaringan kereta api yang melingkari pulau-pulau besar, kemandirian alutsista, hingga pemanfaatan energi nuklir untuk kemanusiaan.

Pada akhirnya, transformasi ini adalah tentang perubahan identitas dari mentalitas pengikut menjadi pemimpin yang berdiri di atas kaki sendiri. Kita harus mampu bertransformasi dari sekadar membanggakan kejayaan masa lalu atau silsilah "Bapak Aing" menjadi pernyataan tegas "Aku Indonesia" yang berdaulat secara intelektual dan ekonomi. Jika kita ingin benar-benar menjadi raksasa dunia di tahun 2045, maka kiblat pendidikan kita tidak boleh lagi menoleh ke Amerika atau Eropa, melainkan harus berakar kuat di negeri sendiri. Hanya dengan cara itulah, kemerdekaan yang kita rayakan akan menjadi kenyataan yang abadi bagi seluruh anak bangsa. (Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata untuk beribadah kepada Allah