Thursday, 29 January 2026

Politeknik Tanah AIR : Laporan Reflektif Kepemimpinan

User Rating: 3 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh: Ustazah Ridaningsih

lognews.co.id, Indonesia - Pengawasan pada hari ini menyoroti secara khusus pelaksanaan apel pagi (briefing pagi) yang dimulakan tepat pukul 07.00 sebuah praktik kepemimpinan khas Al-Zaytun yang tidak sekadar berfungsi sebagai pengantar kerja, melainkan sebagai ruang penyelarasan jiwa, nilai, dan tanggung jawab kolektif sebelum seluruh aktivitas dimulai. Selasa, (6/1/26)

Briefing pagi dipimpin oleh empat orang pengawas bersama satu orang insinyur dan komandan lapangan, serta diikuti oleh seluruh karyawan yang bertugas pada hari tersebut: unsur keamanan, operator alat berat beserta tim, tim penanaman pohon, dan para saik (sopir). Kehadiran seluruh unsur ini memperlihatkan satu kesadaran bersama bahwa kerja di Al-Zaytun adalah kerja lintas peran yang disatukan oleh tujuan yang sama.

Rangkaian briefing diawali dengan basmalah, dilanjutkan menyanyikan Indonesia Raya tiga stanza, pembacaan Sapta Janji Darma Bakti, Asmaul Husna dan Asma Nabi , dan doa pagi. Susunan ini bukan sekadar formalitas, melainkan arsitektur nilai yang secara sadar dibangun untuk menegakkan tiga pilar utama kepemimpinan Al-Zaytun: spiritualitas, kebangsaan, dan pengabdian. Pada tahap ini, kepemimpinan tidak dimulai dari instruksi, melainkan dari penyucian niat.

Setelah arahan teknis ketugasan disampaikan oleh komandan lapangan, Penanggung Jawab pengawas hari Selasa  Abi Syaifuddin, M.Pd. memberikan penguatan reflektif mengenai makna briefing pagi sebagai fondasi kerja sadar. Beliau mengajak seluruh peserta memahami tubuh manusia sebagai entitas yang sebagian besar tersusun dari air, dan bagaimana air merespons kata-kata, niat, serta energi yang diberikan kepadanya sebagaimana telah dibuktikan dalam berbagai penelitian.

Dari perumpamaan ini, beliau menegaskan bahwa manusia yang lebih dari 70 persen tubuhnya adalah air sangat dipengaruhi oleh kata-kata dan suasana batin yang mengiringi aktivitasnya. Oleh karena itu, lantunan Indonesia Raya, Sapta Janji Darma Bakti, Asmaul Husna, dan doa pagi bukanlah rangkaian simbolik semata, melainkan instrumen kepemimpinan batin: membentuk suasana positif, menenangkan jiwa, menumbuhkan kegembiraan, serta menyelaraskan tubuh dan hati dengan kerja-kerja yang bernilai suci.

Dalam kondisi batin yang selaras tersebut, kelelahan tidak lagi dipersepsi sebagai beban. Yang tumbuh adalah keikhlasan bekerja, rasa ringan dalam beraktivitas, dan kesadaran bahwa setiap tugas adalah bagian dari ibadah dan pengabdian.

Refleksi kepemimpinan kemudian diarahkan pada pemahaman tentang kepemilikan kolektif proyek yang sedang dikerjakan. Ditegaskan bahwa proyek ini adalah milik bersama: direncanakan bersama, didanai bersama, dan dikerjakan bersama. Pada titik ini, struktur hierarki melebur dalam kesadaran tujuan. Tidak ada atasan dan bawahan—yang ada adalah amanah bersama yang menuntut tanggung jawab, keseriusan, dan kekhusyukan dari setiap individu.

Dari perspektif kepemimpinan, briefing pagi hari ini memperlihatkan bahwa tujuan utama pengarahan tugas bukan semata efektivitas kerja, melainkan penciptaan kebahagiaan dalam beraktivitas. Kebahagiaan tersebut diposisikan sebagai bentuk darma bakti kepada ibu sejati, yakni Ibu Pertiwi. Pembangunan politeknik yang sedang dilaksanakan dimaknai bukan sekadar proyek fisik, melainkan ikhtiar membangun peradaban, tempat ilmu, kerja, dan nilai kemanusiaan disemai secara berkelanjutan.

Secara reflektif, briefing pagi ini menunjukkan bahwa kepemimpinan di Al-Zaytun tidak bertumpu pada perintah semata, melainkan pada penyadaran. Pemimpin hadir bukan hanya untuk mengatur, tetapi untuk menata niat, menjaga makna, dan memastikan bahwa setiap langkah kerja tetap berpijak pada nilai kasih sayang, kebersamaan, dan tanggung jawab peradaban.

Demikian laporan reflektif kepemimpinan ini disusun sebagai catatan pengawasan sekaligus pembelajaran, bahwa di Al-Zaytun, kepemimpinan sejati dimulai dari kesadaran jiwa, lalu menjelma menjadi kerja nyata. (Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah