Thursday, 29 January 2026

Syaykh Al Zaytun, Syaykh Panji Gumilang : Ketika Dendam Ditahan, Bangsa Diselamatkan

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh: Ali Aminuloh (Refleksi Setengah Tahun Pelatihan Pelaku Didik Al Zaytun)

Dua pemimpin, dua badai besar, dan satu pilihan sunyi yang menentukan arah sejarah.

lognews.co.id, Indonesia - Ada paradoks yang kerap terlewat dalam sejarah: ketika sebuah bangsa disakiti sedalam-dalamnya, justru di situlah kebijaksanaan pemimpinnya diuji. Saat emosi menuntut balasan, pemimpin sejati memilih menahan diri. Saat luka menganga, ia memilih merawat masa depan. Sejarah mencatat, keputusan yang tampak “tidak heroik” pada masanya, justru sering menjadi fondasi kejayaan di kemudian hari.

Dari puing-puing Hiroshima dan Nagasaki, dunia mengenal satu sikap tenang yang mengubah arah Jepang. Dari badai fitnah dan kriminalisasi, Indonesia hari ini menyaksikan pilihan serupa: bangkit dari dalam. Dua tokoh, dua zaman, dua panggung berbeda, namun satu benang merah: kepemimpinan yang menolak dendam dan memilih pembangunan.

Jepang Pasca-Bom: Menahan Emosi, Menata Negeri

Nama Shigeru Yoshida tak selalu muncul sebagai pengambil keputusan penyerahan Jepang. Itu adalah keputusan Kaisar Hirohito. Namun peran Yoshida justru menentukan fase paling krusial setelah perang. Ia memimpin Jepang sebagai perdana Menteri (1946–1947; 1948–1954), di saat negeri itu luluh lantak, harga diri nasional remuk, dan luka kolektif belum kering.

Alih-alih menyalakan api balas dendam kepada Amerika Serikat, pihak yang menjatuhkan bom atom, Yoshida memilih jalan yang sunyi dan rasional: rekonstruksi melalui pendidikan dan ekonomi. Amerika yang semula “musuh” dirangkul sebagai mitra strategis untuk mengamankan stabilitas dan mempercepat pemulihan. Dari keputusan itulah lahir apa yang kemudian dikenal sebagai Yoshida Doctrine: fokus pada pertumbuhan ekonomi, reformasi pendidikan, dan integrasi internasional.

Hasilnya? Jepang bangkit, bukan sebagai bangsa pendendam, melainkan raksasa ekonomi dengan sumber daya manusia unggul. Sejarah membuktikan: menahan emosi bisa menyelamatkan generasi.

Badai Fitnah: Remontada dari Dalam

Di panggung yang berbeda, Indonesia menyaksikan kisah yang secara ruh memiliki kemiripan. Syaykh AS. Panji Gumilang menghadapi bombardir yang tak kalah dahsyat: fitnah publik, kriminalisasi, tuduhan penistaan, tuduhan perkara TPPU, hingga perampasan aset lembaga pendidikan. Dalam situasi seperti itu, banyak yang memilih berhenti, menyerang balik, atau membiarkan kehancuran merambat.

Namun jalan yang diambil justru sebaliknya: "Remontada from within" , bangkit dari dalam. Bukan dengan hiruk-pikuk pembalasan, melainkan melanjutkan pembangunan dan melakukan transformasi revolusioner pendidikan berasrama menuju Indonesia modern abad ke-21.

Transformasi itu hadir dalam novum gradum: pendekatan LSTEAMS (Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, and Spiritual); Trilogi Kesadaran (filosofis, ekologis, sosial); penguatan ekosistem akademik dengan kehadiran para profesor setiap Ahad untuk memperluas wawasan pendidik; pembangunan politeknik Tanah Air; hingga pengembangan perkebunan durian duri hitam sebagai kemandirian ekonomi pendidikan. Di tengah tekanan, pembangunan tidak dihentikan, ia dipercepat dengan arah baru.

Pelajaran Kepemimpinan: Keputusan Menentukan Takdir

Dua kisah ini mengajarkan satu hal sederhana namun mahal: keputusan pemimpin tidak hanya menyelesaikan krisis hari ini, tetapi menentukan watak bangsa esok hari. Dendam mungkin memuaskan sesaat; pembangunan menyejahterakan berpuluh tahun. Emosi bisa membakar; visi membangun.

Sejarah tidak selalu mengingat teriakan paling keras. Ia mengingat keputusan paling tenang. Ketika pemimpin memilih pendidikan di atas balas dendam, kerja sama di atas permusuhan, dan transformasi di atas stagnasi, di sanalah masa depan menemukan jalannya.

Pada akhirnya, bangsa besar lahir dari pemimpin yang berani menahan diri. Dan dari keputusan-keputusan sunyi itulah, peradaban bergerak maju.(Amri-untuk Indonesia)