lognews.co.id, Jakarta - Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengidentifikasi ada empat risiko utama yang berpotensi membayangi perekonomian Indonesia pada 2026. Dalam Media Briefing Outlook 2026 di Jakarta, Rabu, Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS Deni Friawan mengatakan, kombinasi faktor eksternal dan domestik membuat prospek ekonomi Indonesia ke depan sarat ketidakpastian.
Adapun beberapa resiko adalah mengenai pengangguran muda dan gejolak harga pangan-energi sebagai risiko utama ekonomi Indonesia 2026 adalah pengangguran muda yang meningkat dengan banyaknya pemutusan hubungan kerja, menurut data dari Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker) melalui situs satudata Kemnaker sepanjang Januari–November 2025 terdapat 79.302 orang tenaga kerja terdampak PHK yang terklasifikasi sebagai peserta program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP), terkonsentrasi Jawa Barat, Banten, dan Jawa Timur. Penyerapan tenaga kerja banyak di sektor informal. Pengangguran muda terdidik berisiko jadi "bom waktu" karena vokal dan melek digital.
Gelombang PHK terbesar terjadi pada bulan Februari 2025 sebanyak 3,973 orang di wilayah Jawa Barat dan 8,333 orang di wilayah Jawa Tengah dengan total terkena PHK terbanyak sepanjang tahun 2025 adalah jawa barat sebanyak 17,234 dan Jawa tengah sebanyak 14,005 orang.
Sementara itu PHK di Kabupaten Tangerang naik 93,08 persen sepanjang 2025 yaitu sebanyak 9.766 pekerja. Angka ini hampir dua kali lipat dari 5.058 pekerja pada 2024.
Kepala Bidang Hubungan Industrial Disnaker Kabupaten Tangerang, Hendra, sebut kenaikan disebabkan biaya produksi tinggi, penurunan order buyer akibat persaingan global, serta peralihan teknologi, salah satu contohnya adalah keputusan yang diambil oleh PT Victory Chingluh Indonesia yang melakukan PHK terhadap 3.000 karyawan pabrik Sepatu. "PHK 2025 naik nyaris 100 persen dibanding 2024," ujarnya, Selasa (6/1/2026) ujar Hendra.
(Amri-untuk Indonesia)


