Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos
lognews.co.id, Indonesia - Organisasi Pelajar Ma’had Al Zaytun (OPMAZ) Darma Bakti 23 kembali menyelenggarakan salah satu agenda terpenting dalam kaderisasi kepemimpinan pelajar, yakni Pilihan Raya 30 Besar Calon Presiden OPMAZ DB 23. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 14 Januari 2026, sebagai lanjutan dari rangkaian panjang proses demokrasi pelajar yang dirancang secara sistematis, modern, dan berorientasi pada pembentukan karakter kepemimpinan.
Menurut hasil wawancara dengan Ketua Komisi Pilihan Raya (KPR), Kirana Sekar Palupi, pelajar kelas 12 asal Bekasi yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden OPMAZ Darma Bakti 22, Pilihan Raya 30 besar ini merupakan tahapan strategis setelah sebelumnya dilaksanakan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) bagi 100 besar Calon Presiden OPMAZ DB 23. LDK tersebut membekali para calon dengan materi mendasar namun krusial, antara lain Psikologi Organisasi, Perencanaan Program Kerja, Team Building, serta Penyusunan Visi dan Misi Diri sebagai pemimpin pelajar.
Dari proses pembinaan dan pembekalan tersebut, dilakukan seleksi lanjutan melalui mekanisme Pilihan Raya untuk menentukan 30 besar calon presiden. Yang menarik, seluruh proses pemilihan dilakukan dengan melibatkan 489 pemilih, yaitu seluruh pelajar kelas 11 MA Ma’had Al Zaytun (angkatan ke-23). Hal ini menegaskan bahwa kedaulatan pemilihan benar-benar berada di tangan pelajar, sebagaimana prinsip dasar demokrasi.
Secara teknis, Pilihan Raya ini tidak menggunakan sistem kertas atau pencoblosan tradisional, melainkan memanfaatkan aplikasi berbasis teknologi digital secara utuh. Penggunaan sistem ini tidak hanya melatih pelajar dalam literasi teknologi, tetapi juga menanamkan nilai efisiensi, transparansi, akuntabilitas, dan kejujuran dalam proses demokrasi modern. Pelajar belajar bahwa teknologi adalah alat untuk memperkuat nilai, bukan menggantikannya.
Setelah terpilih 30 besar calon presiden, proses belum berhenti. Tahapan berikutnya adalah serangkaian uji kelayakan dan kepatutan, yang akan menyaring kembali kandidat menjadi 10 besar calon presiden OPMAZ DB 23, sebelum akhirnya ditentukan satu pemimpin pelajar terpilih. Rangkaian panjang ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hasil popularitas sesaat, melainkan buah dari proses, kapasitas, integritas, dan kesiapan mental.

Lebih dari sekadar pemilihan ketua organisasi, Pilihan Raya OPMAZ Darma Bakti 23 merupakan pembelajaran demokrasi aplikatif yang selaras dengan nilai Demokrasi Pancasila. Pelajar tidak hanya diajarkan konsep demokrasi secara teoritis, tetapi mengalaminya secara langsung: berproses, berbeda pendapat, memilih dengan sadar, serta menerima hasil dengan lapang dada.
Dalam konteks pendidikan Ma’had Al Zaytun, proses ini juga menanamkan kesadaran kemanusiaan. Pelajar diajak memahami bahwa kepemimpinan adalah amanah untuk melayani, bukan sekadar kekuasaan; bahwa demokrasi bukan ajang menang-kalah, melainkan ruang belajar menghargai martabat manusia, keadilan, dan kebersamaan.
Melalui Pilihan Raya OPMAZ DB 23, Ma’had Al Zaytun kembali menegaskan komitmennya mencetak generasi muda yang melek demokrasi, berkarakter, beretika, dan berjiwa kemanusiaan, siap menjadi pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial.
(Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah


