Thursday, 29 January 2026

Belajar Menjaga Cinta: Pernikahan, Kesadaran, dan Ikhtiar Menjadi Keluarga

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh Ali Aminuloh 

lognews.co.id - Di tengah dunia yang makin cepat, justru ada yang paling rapuh: pernikahan.

Teknologi melesat, ekonomi tumbuh, informasi berlimpah, namun rumah tangga runtuh satu per satu. Angka perceraian meningkat, pertikaian pasangan kian marak, dan keluarga perlahan kehilangan maknanya. Seolah manusia modern begitu piawai mengelola dunia, tetapi gagap menjaga cinta. Di sinilah nasihat pernikahan menjadi penting. Bukan sekadar ritual, melainkan pengingat tentang esensi hidup bersama.

Sabtu pagi, 17 Januari 2026, di Joyland Haurgeulis, sebuah peristiwa sederhana namun sarat makna berlangsung. Bayu Akbar Pradana bin Ayi Jatman dari Sukabumi mengikrarkan janji suci dengan Ardina Nurul Hayati binti Carim. Sebuah akad nikah, yang bagi sebagian orang mungkin hanyalah seremoni, namun sesungguhnya adalah awal dari ibadah terpanjang dalam hidup manusia.

Dalam sesi nasihat pernikahan, Dr. Ali Aminulloh, dosen IAI Al Azis, mengajak hadirin menengok kembali makna akad nikah dari sudut yang lebih dalam. Ia mengingatkan bahwa dalam Al-Qur’an, akad pernikahan disebut mitsaqan ghalidzan: perjanjian yang kuat, berat, dan agung. Frasa ini hanya tiga kali disebut: pertama tentang perjanjian Allah dengan para nabi (QS. Al-Ahzab: 7), kedua perjanjian Allah dengan Bani Israil (QS. An-Nisa: 21), dan ketiga tentang pernikahan (QS. An-Nisa: 154). Pernikahan, dengan demikian, disejajarkan dengan perjanjian ilahiah yang paling sakral.

Lebih jauh, pernikahan disebut Nabi sebagai penyempurna setengah agama: “Man tazawwaja faqad kamala nisfa dînih, fal yattaqillâha fil bâqî” , barang siapa menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Tinggal bagaimana ia menjaga separuh sisanya dengan takwa. Maka cara seseorang memperlakukan pasangannya menjadi cermin kemuliaan dirinya. Nabi menegaskan, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istrinya.”

Pernikahan juga bukan sekadar urusan dua individu. Ia adalah jalan yang sah untuk keberlanjutan umat manusia, sekaligus jembatan yang menyatukan dua keluarga besar. Karena itu, Nabi berpesan agar pasangan dipilih dengan kesadaran: karena kecantikannya, hartanya, keturunannya, dan agamanya.

Kecantikan penting karena ia adalah fitrah naluri manusia. Allah Maha Indah dan mencintai keindahan. Bertemu pasangan setiap hari menuntut ikhtiar merawat diri, lahir dan batin. Harta juga penting, sebab bagaimana membangun ketenangan tanpa kecukupan? Mencari rezeki dalam pernikahan adalah bagian dari ibadah. Keturunan pun tak kalah penting, karena pernikahan menyatukan dua sejarah, dua silsilah, dua dunia sosial. Namun semuanya menemukan makna tertinggi pada satu hal: agama. Din adalah fondasi yang menyempurnakan ketiganya.

Sebab kecantikan bisa memudar dimakan usia, tetapi akhlak mulia membuat cinta tetap abadi. Harta bisa berkurang, bahkan hilang, tetapi qana’ah dan syukur membuat hidup tetap lapang. Keluarga besar bisa renggang, namun iman menjaga persaudaraan tetap utuh.

Di titik inilah pernikahan bertaut dengan trilogi kesadaran yang digagas Syaykh AS Panji Gumilang: kesadaran filosofis, kesadaran ekologis, dan kesadaran sosial. Pernikahan menuntut kesadaran filosofis: memahami makna hidup bersama, tujuan cinta, dan arah keluarga. Ia juga menuntut kesadaran ekologis: kemampuan merawat ruang hidup bersama dengan seimbang, tidak eksploitatif, saling menjaga. Dan tentu kesadaran sosial: bahwa keluarga adalah sel terkecil masyarakat; rusaknya keluarga adalah awal rapuhnya peradaban.

Tujuan akhirnya adalah satu: menjadikan keluarga sebagai surga. Tempat manusia membangun ketengan hidup, sakinah. Al-Qur’an menggambarkan secara indah dalam QS. Ar-Rum ayat 21: sakinah yang ditopang oleh mawadah dan rahmah. Mawadah adalah cinta yang tumbuh dari yang kasat mata: ketertarikan, relasi, dan kebersamaan. Rahmah adalah cinta yang lahir dari iman: kesadaran bahwa setiap manusia memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Maka tugas pasangan bukan membongkar aib di ruang publik atau media sosial, melainkan membangun komunikasi, saling menutup, dan saling menyempurnakan.

Ketika makna itu dipahami, lirik lagu yang pernah dinyanyikan Bunga Citra Lestari dalam Keluarga Cemara terasa bukan sekadar lagu, melainkan doa:

Harta yang paling berharga adalah keluarga.

Istana yang paling berharga adalah keluarga.

Puisi yang paling bermakna adalah keluarga.

Dan mutiara tiada tara adalah keluarga.

Di tengah dunia yang terus berubah, barangkali inilah revolusi paling sunyi namun paling menentukan: belajar menjaga cinta, merawat pernikahan, dan membangun keluarga dengan kesadaran utuh. (Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah