Thursday, 29 January 2026

Kaya Ikan, Miskin Nilai Tambah? Saatnya Inovasi Produk Menentukan Masa Depan Perikanan Indonesia.

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Oleh: Ali Aminulloh 

lognews.co.id, Indonesia - Ma'had Al Zaytun menunjukkan konsistensi yang jarang dimiliki lembaga pendidikan: tidak hanya mengelola proses belajar-mengajar, tetapi juga memproduksi dan mendiseminasikan gagasan besar tentang masa depan Indonesia. Salah satu ikhtiar intelektual itu diwujudkan melalui pelatihan berkelanjutan bagi para pelaku pendidikan, dengan tema: Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama Menuju Terwujudnya Indonesia Modern Abad XXI dan 100 Tahun Kemerdekaan Indonesia. Forum ini tidak berhenti pada wacana pedagogik, melainkan menjangkau isu strategis bangsa: ekonomi, pangan, lingkungan, hingga kedaulatan sumber daya.

Memasuki sesi ke-33 yang diselenggarakan pada Ahad, 18 Januari 2026, Al Zaytun menghadirkan peneliti dari BRIN yaitu Prof. Ir. Hari Eko Irianto, Ph.D. Beliau mengangkat topik yang sangat kontekstual dan visioner: “Pengembangan Produk Guna Optimalisasi Nilai Tambah Komoditas Perikanan dan Dukungan terhadap Program Nasional Hilirisasi.” Tema ini menegaskan bahwa pendidikan berasrama modern tidak boleh tercerabut dari realitas geopolitik dan geoekonomi Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia.

1000295036

Dalam pemaparannya, Prof. Hari Eko Irianto, pakar pengembangan produk perikanan dan peneliti senior yang kini berkiprah di BRIN, mengajak audiens melihat kembali identitas historis bangsa Indonesia sebagai bangsa pelaut. Jejak itu tidak hanya tersimpan dalam narasi sejarah, tetapi terukir secara konkret pada relief Candi Borobudur yang menggambarkan aktivitas penangkapan ikan, pengolahan, hingga penyajian hasil laut. Pesan implisitnya tegas: ikan dan hasil laut bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan bagian dari peradaban Nusantara sejak berabad-abad silam .

Paparan kemudian bergerak ke potensi objektif Indonesia. Dengan lebih dari 17.000 pulau, garis pantai sepanjang 108 ribu kilometer, dan wilayah perairan yang mencakup dua pertiga luas nasional, Indonesia sesungguhnya memegang modal dasar yang luar biasa. Potensi sumber daya ikan laut diperkirakan mencapai lebih dari 12 juta ton per tahun, dengan batas tangkap berkelanjutan sekitar 8,6 juta ton. Namun, Prof. Hari menekankan bahwa tantangan terbesar bukan lagi pada produksi semata, melainkan pada hilirisasi. Bagaimana hasil perikanan diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan, dan memperkuat kemandirian ekonomi nasional .

Dalam konteks inilah rumput laut muncul sebagai contoh strategis. Indonesia saat ini menjadi produsen rumput laut terbesar kedua dunia, tetapi ironisnya masih didominasi ekspor bahan mentah kering. Nilai tambah justru dinikmati negara lain yang mengolahnya menjadi agar, karaginan, alginat, bioplastik, hingga produk farmasi dan pangan fungsional. Hilirisasi rumput laut, menurut Prof. Hari, bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga solusi ekologis, karena rumput laut mampu menyerap karbon, tumbuh tanpa pupuk, dan cocok dikembangkan sebagai ekonomi biru yang berkelanjutan.

1000295037

Menariknya, gagasan besar itu tidak berdiri di ruang hampa. Prof. Hari mencatat bahwa apa yang dilihatnya langsung di Al Zaytun, mulai dari budidaya perikanan, pengolahan hasil laut, hingga pendekatan zero waste, telah sejalan dengan arah kebijakan nasional tentang hilirisasi dan ekonomi biru. Pendidikan, dalam kerangka ini, tidak lagi dipahami sebatas transfer ilmu, melainkan sebagai inkubator peradaban: tempat nilai, teknologi, dan praktik keberlanjutan dipertemukan dan diuji dalam kehidupan nyata.

Lebih jauh, diskursus pengembangan produk perikanan juga dikaitkan dengan isu kesehatan publik. Konsumsi ikan yang kaya omega-3, protein berkualitas tinggi, dan mikronutrien esensial diposisikan sebagai strategi kultural untuk menekan stunting, meningkatkan kecerdasan, dan mempersiapkan Indonesia menghadapi bonus demografi serta tantangan populasi lansia. Dengan kata lain, hilirisasi perikanan tidak hanya memperkuat ekonomi, tetapi juga membangun kualitas manusia Indonesia seutuhnya .

Melalui sesi ke-33 ini, Ma'had Al Zaytun kembali menegaskan posisinya sebagai ruang dialektika antara pendidikan, sains, dan kebijakan publik.

 1000295004

Di tengah perayaan menuju satu abad kemerdekaan Indonesia, forum ini menyampaikan pesan yang jernih: bangsa besar tidak cukup kaya sumber daya, tetapi harus cerdas mengelola, mengolah, dan memaknainya. Dan di sanalah pendidikan berasrama modern menemukan relevansinya, sebagai motor transformasi menuju Indonesia maju, berdaulat, dan berkelanjutan di abad XXI. (Amri untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah