Thursday, 29 January 2026

Siap atau Tersingkir? : Pendidikan Indonesia di Tengah Dunia yang di Perintah Hukum Rimba

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Oleh Ali Aminulloh 

lognews.co.id, Indonesia - Di saat dunia global berjalan pincang dimana ekonomi melambat, geopolitik gaduh, dan kedaulatan bangsa-bangsa kian rapuh, pendidikan justru dituntut berlari lebih jauh. Paradoksnya, ketika banyak institusi pendidikan sibuk mengejar angka dan akreditasi, Ma’had Al Zaytun memilih jalan sunyi: menyiapkan manusia agar siap menghadapi perjalanan panjang sejarah.

Pada pelatihan pelaku didik pekan ke-33, Ahad, 18 Januari 2026, di Ma’had Al Zaytun, Syaykh AS Panji Gumilang memberikan penggulungan sekaligus respons reflektif atas paparan Prof. Ir. Hari Eko Irianto, Ph.D.. Forum ini bukan sekadar diskusi akademik, melainkan pembacaan zaman: tentang kesiapan, kemandirian, dan keberanian pendidikan untuk berdiri tegak di tengah arus global.

1000295083

Syaykh membuka dengan satu tesis kesadaran: orang yang memahami perjalanan panjang, pasti mempersiapkan diri. Kesiapan bukan jargon, apalagi jawaban seremonial. Dalam dunia yang diwarnai “hukum rimba”, ketika kekuatan besar mudah mengobok-obok negara lain, pendidikan tak boleh melahirkan generasi yang kaget saat badai datang. Pendidikan harus melatih mental siap, bukan sekadar lulus.

Dari sinilah gagasan global education ditegaskan: pendidikan yang menumbuhkan global thinking tanpa kehilangan pijakan lokal. Dunia harus dibaca, tetapi diri sendiri lebih dulu dipahami. Kemandirian menjadi kata kunci. Sejarah mengajarkan, upaya mandiri sering kali dibalas tekanan, seperti yang dialami Bung Karno. Namun tanpa kemandirian, bangsa hanya akan menjadi penonton di panggung global.

1000295085

Respons Syaykh atas paparan Prof. Hari Eko menemukan titik temu yang tak terduga: rumput laut. Apa yang semula tampak sebagai isu perikanan, bergulir menjadi strategi besar pendidikan, ekologi, dan ekonomi. Rumput laut bukan sekadar komoditas, melainkan simbol cara berpikir baru: memadukan ilmu, riset, dan keberanian bertindak. Kandungan makro-mikro nutriennya, potensi fermentasi organik, hingga siklus panen 60 hari. Semua dibaca sebagai ilmu yang dipraktikkan, bukan berhenti di wacana.

Di sinilah pendidikan berasrama ala Al Zaytun menampakkan jati dirinya: berpikir jauh dan bertindak konkret. Program penghijauan produktif dengan menanam puluhan ribu pohon durian, bukan romantisme agraria. Ia dirancang sebagai ekosistem kemandirian: dari pupuk organik berbasis rumput laut, pengelolaan lahan ratusan hektare, hingga cita-cita kesejahteraan guru dan tenaga pendidik. Pendidikan tak boleh memiskinkan pendidiknya.

Lebih jauh, Syaykh menegaskan dimensi etik: menghidupkan bumi agar manusia tetap hidup. Merusak bumi adalah bunuh diri peradaban. Maka, ihya’ al-mawat (menghidupkan lahan mati) tak boleh berhenti sebagai konsep fikih; ia harus menjelma kebijakan pendidikan dan praksis ekonomi. Di titik ini, ilmu, iman, dan kemanusiaan dipertautkan.

Forum pekan ke-33 ini akhirnya menegaskan satu pesan: transformasi revolusioner pendidikan bukan slogan. Ia adalah keberanian membaca dunia, menata diri, dan menanam masa depan, bahkan dari sesuatu yang kerap diremehkan, seperti rumput laut. Di tengah dunia yang gaduh, pendidikan dipanggil untuk bersiap. Bukan dengan gaduh pula, melainkan dengan kesadaran, ilmu, dan kerja panjang.

(Amri-untuk Indonesia) 

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah