Wednesday, 28 January 2026

Masihkah Kita Berilmu, Jika Kehilangan Kesadaran?

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Oleh : Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I. ME (Sekretariat JKI)

Tarqiyatul Ilmi, Solusi Ilahi di Setiap Era, dan Jalan Pulang Manusia

lognews.co.id - Apa arti kepintaran jika manusia makin kehilangan arah? Pertanyaan itu seperti palu kecil yang mengetuk kesadaran. Tidak keras, tetapi menghunjam. Di tengah dunia yang melesat oleh teknologi, Tarqiyatul Ilmi hadir sebagai ruang jeda, tempat manusia menengok ulang relasi antara ilmu, iman, dan kemanusiaan.

1000297141

Ilmu yang Bangkit dari Kevakuman

Rabu, 21 Januari 2026, setelah vakum empat tahun akibat pandemi, Jamaah Kabatullah Indonesia kembali menghidupkan Tarqiyatul Ilmi. Bertempat di Gedung Bazaar Al Zaytun Mekarjaya Kecamatan Gantar, Indramayu, forum ini menjadi sarana pembinaan rutin untuk merajut sawasiayah: kebersamaan, visi, dan kesadaran para pengurus serta jamaah di tingkat daerah.

JKI selama ini dikenal aktif dalam istighasyah, khataman Al-Qur’an, distribusi bakti Ramadhan dan udhiyah dari Ma’had Al Zaytun, serta kajian keilmuan. Tarqiyatul Ilmi menjadi simpul yang menyatukan semua itu: ilmu yang tidak berhenti di kepala, tetapi bergerak dalam tindakan.

Acara berlangsung pukul 11.00–13.00 WIB, diawali basmalah, pemaparan materi, dialog, ditutup makan bersama dan shalat Dhuhur berjamaah. Acaranya sederhana, namun sarat makna.

Solusi Ilahi di Setiap Era

Sekretaris JKI, Dr. Ali Aminulloh, membuka paparan dengan mengutip perintah ilahi agar manusia meneliti perjalanan penciptaan dan perkembangan kecerdasan manusia (Al Ankabut: 20). Baginya, wahyu sejak awal telah mengarahkan manusia untuk berpikir evolutif: dari yang sederhana menuju kompleks, namun tetap berporos pada petunjuk Allah.

Dr. Ali mengingatkan kegelisahan Nabi Muhammad yang terekam dalam Al-Qur’an (Al Furqan:30): umat yang membaca, tetapi mengabaikan pengamalan. Di sinilah persoalan zaman bermula. Al-Qur’an hadir secara fisik, tetapi absen dalam praksis hidup. Maka, setiap era membutuhkan solusi ilahi agar ilmu tidak menyesatkan manusia.

Era Print: Membaca dengan Cara Qur’ani

Pada fase ketika ilmu bertumpu pada buku, kitab, dan catatan, solusi ilahinya adalah iqra’: membaca dengan cara Allah. Ilmu bukan sekadar teks, tetapi jalan pembentukan akhlak dan peradaban. Orang pintar bukan yang menimbun pengetahuan, melainkan yang memahami makna.

Era Search: Mencari dengan Kesadaran Sejarah

Ketika manusia memasuki era pencarian digital, solusi ilahinya adalah perintah siiru (Al Ankabut:20): berjalan, mengamati, dan meneliti. Mencari informasi harus disertai kesadaran historis dan refleksi, bukan sekadar membandingkan data tanpa hikmah.

Era Algoritma: Tabayyun sebagai Penjaga Kebenaran

Di fase ketika informasi justru “diantar” oleh algoritma sesuai selera pengguna, kebenaran menjadi bias. Viral menggantikan valid. Inilah zaman post-truth. Solusi ilahinya tegas: tabayyun (Al Hujurat:6). Tanpa klarifikasi, manusia terjerumus pada kebodohan yang menyesakkan dan penyesalan sosial.

Era Generative AI: Bertanya kepada Ahlu Dzikir

Saat mesin mampu memberi jawaban, berdiskusi, bahkan berkreasi, kepintaran bergeser pada kualitas pertanyaan. Solusi ilahinya adalah adab bertanya: fas’aluu ahla dzikr (An-Nahl:43). Dzikir, menurut tradisi ulama, melibatkan indra, rasio, dan hati. Ilmu yang hidup, bukan dingin.

Era Agentic AI: Manusia sebagai Pemandu Nilai

Ketika kecerdasan buatan memasuki fase bertindak, Al-Qur’an menegaskan kembali posisi manusia sebagai khalifah. Alam ditundukkan untuk manusia, tetapi manusia bertanggung jawab menuntunnya dengan nilai dan akhlak. Puncak dari semua fase ini, tegas Dr. Ali, adalah kesadaran, sebagaimana digagas Syaykh Al Zaytun: kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial. Inilah puncak kemuliaan manusia.

1000297146

Paparan Ketua JKI Syafruddin Ahmad: Akar, Batang, dan Buah Kehidupan

Paparan kemudian dilanjutkan Ketua JKI, Syafruddin Ahmad, SH. MH. dengan membawa jamaah pada matsalul a’la: perumpamaan tertinggi dalam Al-Qur’an tentang pohon yang baik.

Cara hidup orang beriman, jelasnya, seperti pohon yang kokoh: memiliki akarnyang menghunjam, batang kokoh, dan buah setiap saat.

Akar: Kesadaran Filosofis

Akar adalah fondasi berpikir: dasar hukum, ilmu, pertimbangan, dan perencanaan. Membaca Al-Qur’an harus dengan bacaan ilahi, sehingga program hidup memiliki arah dan legitimasi nilai.

Batang: Kesadaran Ekologis

Setiap perilaku berdampak pada alam. Ekonomi tidak boleh merusak, tetapi menumbuhkan. Alam adalah teman hidup. Dicontohkan bagaimana Syaykh Al Zaytun menanam “emas hijau” dengan durian terbaik: simbol pembangunan yang bersahabat dengan semesta.

Buah: Kesadaran Sosial

Jika akar kuat dan batang tegak, buahnya adalah kesejahteraan sosial. Masyarakat yang saling menjaga, damai, aman, dan sejahtera.

Sebaliknya, manusia yang tidak percaya pada tatanan ilahi digambarkan seperti pohon buruk, tercerabut akarnya. Problem kehidupan, termasuk pendidikan dan tata kelola bangsa, terjadi karena tercerai-berainya fondasi. Tauhid semestinya menyatukan, bukan memecah.

Pesannya jelas: terus bergerak. Meski langkah kecil, asal bermakna dan konsisten.

Diskusi Kian Membumi: Refleksi KH. Humaidi

Diskusi kemudian semakin dekat dengan realitas keseharian. KH. Humaidi mengambil alih ruang dialog, menurunkan gagasan besar ke ranah pengalaman hidup.

Beliau mengajak jamaah bersyukur atas sinergi dan kebangkitan kembali Tarqiyatul Ilmi. Namun syukur, katanya, harus melahirkan kualitas. Rasulullah pernah mengingatkan tentang umat yang banyak jumlahnya, tetapi lemah seperti buih Bukan karena sedikit, melainkan karena cinta dunia berlebihan dan takut mati.

Solusinya bukan keluhan, melainkan peningkatan kualitas iman, ilmu, dan akhlak. Kesabaran saat diuji, keteladanan Nabi yang tetap mendoakan orang yang mencelakainya, dan tekad menghindari kemiskinan serta kebodohan dengan belajar dan berbuat nyata.

Jalan Pulang Bernama Kesadaran

Tarqiyatul Ilmi hari itu menegaskan satu hal: setiap era memiliki tantangan, dan setiap tantangan telah disediakan solusi ilahinya.

Ketika manusia kembali membaca Al-Qur’an dengan kesadaran, bukan sekadar suara, tetapi sikap hidup, maka ilmu berubah menjadi cahaya. Cahaya yang menuntun manusia pulang pada kemuliaan kemanusiaannya. (Amri-untuk Indonesia) 

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah