Wednesday, 28 January 2026

Bukan Tahlilan, Bukan Ritual Mistis: Ini Makna Kliwonan di Ma’had Al Zaytun

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos. (Kepala MI Ma'had Al Zaytun) 

lognews.co.id, Indonesia - Ma’had Al Zaytun secara konsisten merawat tradisi spiritual yang berakar pada kebudayaan Nusantara melalui kegiatan Kliwonan, yang dilaksanakan setiap malam Jum’at Kliwon. Tradisi Jawa ini dihidupkan dengan muatan nilai-nilai keislaman yang mendalam sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT, sekaligus ikhtiar merawat kesadaran ruhani dan kebudayaan secara berimbang. Pada Kamis malam, 22 Januari 2026, giliran guru-guru MI Ma’had Al Zaytun yang mendapatkan amanah untuk mengisi kegiatan Kliwonan melalui khataman Al-Qur’an secara berjamaah.

1000298156

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan pembacaan Ummul Kitab (Surah Al-Fatihah) sebagai penanda penyatuan niat dan doa. Inti kegiatan Kliwonan adalah khataman Al-Qur’an 30 juz, yang dibacakan oleh 30 qori, masing-masing menyelesaikan satu juz Al-Qur’an. Khataman ini bukan sekadar pembacaan teks suci, tetapi simbolisasi bahwa Al-Qur’an adalah rujukan hukum utama kehidupan, sebagai Hudan (petunjuk), Bayyinah (penjelas), dan Furqan (pembeda antara yang benar dan salah).

Setelah khataman, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan Asmaul Husna dan Asmaun Nabi 201, yang diakhiri dengan doa bersama. Rangkaian ini menegaskan bahwa pendidikan dan pengabdian di Al Zaytun tidak dilepaskan dari kesadaran ketuhanan dan keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai pusat nilai. Acara kemudian ditutup secara resmi, dan dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana berupa sajian snack dan kue muih, sebagai simbol kebersamaan, persaudaraan, dan kemanusiaan yang hangat.

Kliwonan di Ma’had Al Zaytun menunjukkan bagaimana tradisi lokal tidak dipertentangkan dengan Islam, melainkan diisi, dimaknai, dan ditinggikan nilainya. Inilah wajah Islam sebagai peradaban, yang mampu merangkul budaya, bukan menghapusnya; memandu tradisi, bukan memusnahkannya. Kegiatan ini juga menjadi sarana menanam kesadaran filosofis, bahwa hidup tidak hanya diukur dari produktivitas fisik, tetapi juga dari kedalaman makna, orientasi nilai, dan hubungan manusia dengan Tuhan serta sesamanya.

Melalui Kliwonan, Ma’had Al Zaytun menegaskan kembali komitmennya dalam Menanam Kesadaran Menumbuhkan Kemanusiaan bahwa Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi dihadirkan sebagai pusat kesadaran hidup, sumber etika, dan fondasi peradaban yang manusiawi, berakar, dan berkelanjutan. (Amri-untuk Indonesia) 

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah