Oleh : Ali Aminulloh
lognews.co.id, Indonesia - Di tengah manusia yang kian berpikir pendek, ketika alam dieksploitasi tanpa rasa bersalah, dan pertikaian sosial dianggap sesuatu yang wajar, pendidikan justru sering dipersempit maknanya. Ia direduksi menjadi angka, ijazah, dan tiket pasar kerja. Paradoksnya, di saat teknologi melesat jauh ke depan, kesadaran manusia justru tertinggal. Maka pertanyaan mendasarnya: pendidikan macam apa yang sedang kita bangun. Apakah yang memanusiakan, atau yang justru mempercepat kerusakan peradaban?

Hari Pendidikan Internasional yang diperingati setiap 24 Januari hadir sebagai pengingat global atas pertanyaan tersebut. Sejak ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2019, berdasarkan resolusi Majelis Umum PBB tanggal 3 Desember 2018 yang diusulkan Nigeria dan didukung oleh 58 negara anggota, peringatan ini menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar urusan domestik suatu negara, melainkan agenda kemanusiaan dunia. Pendidikan adalah hak asasi manusia, tanggung jawab publik, dan sarana utama untuk mewujudkan perdamaian serta pembangunan berkelanjutan.
Pasal 26 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia secara tegas menyatakan bahwa setiap orang berhak memperoleh pendidikan, dengan pendidikan dasar yang wajib dan gratis serta akses pendidikan tinggi yang terbuka bagi semua. Komitmen ini diperkuat dalam Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan, di mana pendidikan ditempatkan sebagai kunci keberhasilan seluruh 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Tanpa pendidikan yang inklusif, adil, dan bermutu, dunia tidak akan mampu keluar dari jerat kemiskinan, ketimpangan gender, konflik sosial, dan krisis ekologis.
Namun realitas global masih jauh dari cita-cita tersebut. Berdasarkan catatan UNESCO, sekitar 244 juta anak dan remaja di dunia tidak bersekolah. Lebih dari 617 juta anak dan remaja tidak mampu membaca dan melakukan matematika dasar. Di Afrika Sub-Sahara, kurang dari 40 persen anak perempuan menyelesaikan pendidikan menengah pertama. Sekitar empat juta anak dan remaja pengungsi terputus dari akses pendidikan. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan potret kegagalan kolektif umat manusia dalam menjaga martabatnya sendiri.
Karena itu, peringatan Hari Pendidikan Internasional kini diarahkan pada tema besar the power of youth in co-creating education. Kaum muda yang jumlahnya lebih dari separuh populasi dunia adalah mesin utama inovasi, perubahan sosial, dan pembangunan berkelanjutan. Karena hidup dan masa depan mereka langsung dibentuk oleh pendidikan, mereka harus menjadi mitra aktif dalam merancang ulang sistem pembelajaran. Di tengah transformasi teknologi yang cepat, keterlibatan generasi muda menjadi syarat mutlak agar pendidikan tetap relevan, inklusif, dan sesuai dengan aspirasi zaman.

Selain partisipasi kaum muda, dunia juga menyadari bahwa kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kepemimpinan. Berbagai kajian global menempatkan kepemimpinan pendidikan sebagai faktor kedua terpenting yang memengaruhi hasil belajar, setelah kualitas guru. Kepemimpinan yang efektif, baik di tingkat sekolah maupun pemerintahan, menuntut visi, kepekaan sosial, serta kemampuan membaca konteks budaya dan tata kelola. Sekolah yang baik hanya mungkin lahir dari pemimpin pendidikan yang memandang belajar sebagai proses pemanusiaan manusia.
Dalam konteks inilah, Pendidikan Al-Zaytun menjadi relevan untuk dibaca sebagai bagian dari percakapan pendidikan internasional. Dengan moto “Al-Zaytun Pusat Pendidikan, Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian Menuju Masyarakat Sehat, Cerdas, dan Manusiawi,” Al-Zaytun menempatkan pendidikan sebagai proyek peradaban, bukan sekadar proses akademik. Pendidikan dipahami sebagai jalan panjang membangun manusia yang berpikir jernih, hidup berdampingan secara damai, dan bertanggung jawab terhadap sesama serta alam.
Syaykh A.S. Panji Gumilang, sebagai pemimpin visioner, menetapkan kebijakan wajib belajar 18 tahun bagi civitas akademika Al-Zaytun. Kebijakan ini melampaui standar nasional maupun global dan menegaskan bahwa pendidikan adalah proses berkelanjutan pembentukan karakter, nalar, dan kesadaran. Pendidikan tidak berhenti pada ijazah, tetapi menjadi laku hidup yang menuntun manusia sepanjang hayatnya.
Lebih jauh, Al-Zaytun menggagas pendidikan kontemporer berbasis trilogi kesadaran: kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial. Kesadaran filosofis melatih daya pikir kritis dan reflektif agar manusia tidak terjebak pada cara pandang sempit. Kesadaran ekologis menumbuhkan tanggung jawab moral untuk menjaga keseimbangan alam. Sementara kesadaran sosial membangun empati, solidaritas, dan komitmen terhadap perdamaian. Trilogi ini menjadi jawaban atas krisis global yang pada dasarnya bersumber dari krisis kesadaran manusia.
Kerangka tersebut diperkuat melalui pendekatan LSTEAMS (Law, Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, dan Spirituality) yang oleh Syaykh Al-Zaytun disebut sebagai novum gradum, sebuah lompatan baru dalam dunia pendidikan. Integrasi antara hukum, sains, teknologi, seni, matematika, dan spiritualitas memastikan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak tercerabut dari nilai etika dan kemanusiaan. Inilah pendidikan yang mendorong kecerdasan sekaligus kebijaksanaan.
Sebagai penyempurnaan dari visi besar tersebut, Al-Zaytun tengah merancang pendirian Politeknik Tanah Air. Kehadiran politeknik ini dimaksudkan untuk menjembatani kesadaran filosofis dengan keterampilan praksis kebangsaan. Dengan moto “Menanam Kesadaran, Menumbuhkan Kemanusiaan,” Politeknik Tanah Air menegaskan bahwa pendidikan vokasional bukan sekadar soal keahlian teknis, melainkan juga pembentukan manusia yang sadar, beretika, dan berdaya guna bagi bangsa.
Sebab kemanusiaan bukan hanya seruan moral atau jargon pendidikan. Kemanusiaan lahir dalam tindakan nyata. Dari kesadaran yang ditanam secara konsisten, tumbuh perilaku yang memuliakan sesama. Dari hati yang jernih dan terbuka, lahir dunia yang saling menjaga, antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan peradabannya.
Hari Pendidikan Internasional, pada akhirnya, bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum refleksi kolektif. Ia mengingatkan bahwa masa depan dunia sedang kita didik hari ini. Dalam dunia yang diliputi konflik, krisis ekologis, dan krisis makna, Pendidikan Al-Zaytun menunjukkan bahwa pendidikan berbasis kesadaran tetap mungkin menjadi solusi. Sebab hanya dengan menanam kesadaran, kemanusiaan dapat tumbuh dan peradaban dapat diselamatkan.
(Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah


