Oleh: Sri Wahyuni (Tutor PKBM Al Zaytun)
lognews.co.id, Indonesia - Pernikahan sering dipahami sebagai peristiwa dua insan. Namun di PKBM Al Zaytun, pernikahan menjelma menjadi peristiwa kolektif: ruang belajar kebersamaan, kekeluargaan, dan kesadaran hidup bersama. Di sanalah nilai-nilai pendidikan tidak hanya diajarkan di ruang kelas, tetapi dihidupkan dalam denyut kehidupan nyata.
Momentum itu terasa kuat pada rangkaian pernikahan Rasyid Asshidiq bin Edi Suwignyo (alm), putra dari almarhum tutor PKBM Al Zaytun, dengan Rima Nurjanah binti Slamet Riyadi dari Subang, yang dilangsungkan pada Sabtu, 24 Januari 2026. Sebuah pernikahan yang disiapkan dengan konsep sederhana namun sarat makna: tanpa seremoni berlebih, tanpa kemegahan yang membebani, tetapi penuh kehangatan, kebersamaan, dan rasa kekeluargaan.
Kesederhanaan itu bukan tanpa alasan. Arahan disampaikan dengan bijak: cukup menunggu tamu, makan bersama, bernyanyi, dan berbagi bahagia. Efektif, manusiawi, dan meriah. Inilah wajah lain dari PKBM Al Zaytun, sebuah keluarga besar yang memahami kondisi, menjaga empati, dan menjadikan kebahagiaan sebagai milik bersama
Akad nikah yang berlangsung khidmat di RM Bakar Subang diawali lantunan ayat suci Al-Qur’an, disaksikan dua keluarga besar serta sahabat tutor dan warga belajar. Sambutan penyerahan mempelai putra yang disampaikan oleh Ustadz Suwandi, tutor PKBM Al Zaytun, menjadi salah satu momen paling menyentuh. Dengan ketulusan, beliau menyerahkan Rasyid sebagai amanah, disertai pesan agar kekurangan diperlakukan dengan kasih, sebagaimana mendidik anak kandung sendiri. Sebuah sambutan yang tidak hanya formal, tetapi penuh nilai kemanusiaan. Sambutan ditutup pantun yang mencairkan suasana dan mengundang tawa hangat hadirin.
Ketika akad dinyatakan sah dan hamdalah menggema serempak, suasana berubah menjadi haru. Puncaknya, saat pengantin putri melangkah anggun menghampiri suami yang telah sah. Rasyid membalikkan badan, dan air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Haru yang mungkin lahir dari ingatan pada orang tua yang telah tiada, sekaligus syukur karena takdir akhirnya mempertemukan cinta dalam ikatan suci. Air mata itu menular. Hadirin pun ikut menunduk, merasakan keagungan momen tersebut.

Kebersamaan tidak berhenti di akad. Sehari setelahnya, Ahad, 25 Januari 2026, rumah Bu Hasnawati di Gantar menjadi pusat walimatul ‘arsy. Sejak rapat persiapan yang digelar jauh hari, tampak jelas wajah PKBM Al Zaytun sebagai komunitas belajar yang hidup. Tutor dan warga belajar duduk bersama, membagi peran, menyusun tanggung jawab, dan bergerak dalam koordinasi yang rapi.
Dekorasi sederhana bertema back to nature, memadukan bunga kain, kertas, dan daun maduan. Tanaman liar yang diolah menjadi indah, menjadi simbol kesadaran ekologis. Alam tidak dieksploitasi, tetapi dirangkul. Keindahan lahir dari kesederhanaan dan kreativitas. Di sinilah trilogi kesadaran Syaykh Al Zaytun menemukan bentuk nyatanya: kesadaran filosofis tentang makna hidup bersama, kesadaran ekologis dalam harmoni dengan alam, dan kesadaran sosial dalam kerja kolektif yang tulus.
Hari itu, rumah mempelai dipenuhi senyum. Tamu datang silih berganti. Hidangan dinikmati bersama. Karaoke sederhana justru menjadi magnet kebahagiaan sebagai ruang ekspresi, tawa, joget ringan, dan pelepas sekat sosial. Tutor dan warga belajar tak lagi berdiri sebagai peran formal, tetapi sebagai keluarga. Hadir pula istri Direktur Utama PKBM Al Zaytun, Ibu Dewi Asih Nusantari, menegaskan bahwa ikatan ini melampaui struktur organisasi.
Di PKBM Al Zaytun, walimahan bukan sekadar pesta. Ia adalah laboratorium nilai, tempat belajar paling jujur tentang kebersamaan. Di sanalah pendidikan menemukan maknanya yang paling hakiki: menumbuhkan manusia yang sadar, peduli, dan saling menguatkan.
Dan hari itu, kebahagiaan benar-benar menjadi milik bersama.(Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah


