Thursday, 12 February 2026

Pelajar MI Tak Sekadar Sekolah: Mereka Dilatih Menjadi Warga Bangsa Lewat Pemilihan Raya OPMAZ

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos.

lognews.co.id, Indramayu - Rabu, 11 Februari 2026, Gedung Serbaguna Al Akbar lantai 2 Ma’had Al Zaytun sejak pukul 07.00 hingga 16.30 WIB menjadi saksi sebuah peristiwa pendidikan yang penting: Pemilihan Raya Presiden Organisasi Pelajar Ma’had Al Zaytun (OPMAZ) Darma Bakti 23 untuk masa bakti 2026/2027. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Raya (KPR) dan diikuti oleh seluruh pelajar, termasuk pelajar Madrasah Ibtidaiyah (MI) sebagai pemilih aktif.

 1000312323

Bagi MI Ma’had Al Zaytun, keterlibatan pelajar MI dalam Pemilihan Raya ini bukanlah formalitas, melainkan pembelajaran peradaban sejak usia dini. Anak-anak MI tidak hanya “ikut-ikutan memilih”, tetapi sedang belajar menjadi manusia yang sadar bahwa setiap pilihan memiliki nilai, makna, dan tanggung jawab.

Belajar Demokrasi Sejak Dini, Bukan Sekadar Hafalan

Dalam kurikulum nasional, Kementerian Pendidikan mengarusutamakan Program Pendidikan Profil Pelajar Pancasila (P5) serta mata pelajaran PKn/PPKn. Namun, Pemilihan Raya Presiden OPMAZ menghadirkan sesuatu yang jauh lebih konkret: demokrasi sebagai pengalaman hidup, bukan sekadar materi di buku teks.

1000312308

Pelajar MI belajar bahwa demokrasi Pancasila bukan tentang keributan tetapi tentang musyawarah gagasan, perbedaan pilihan yang tetap beradab, serta penghormatan terhadap hasil bersama.

Di sinilah pendidikan afektif, kognitif, dan sosial bertemu dalam satu peristiwa nyata.

Teknologi sebagai Sarana Pendidikan, Bukan Gaya-Gayaan

Pemilihan Raya OPMAZ Darma Bakti 23 dilaksanakan menggunakan teknologi informasi secara utuh. Tidak ada kertas undangan, tidak ada surat suara, dan tidak ada proses mencoblos konvensional. Setiap pelajar cukup menginput Nomor Induk Siswa dan tanggal lahir, lalu memilih dengan mengklik di laptop yang telah disediakan.

1000312317

Dari sudut pandang MI, ini mengajarkan banyak hal sekaligus: efisiensi dan kepedulian lingkungan, kejujuran dan tanggung jawab personal, dan literasi digital yang beretika.

Perhitungan suara dilakukan secara digital dan real time. Begitu pelajar terakhir menyelesaikan pilihannya, saat itu pula hasil Pemilihan Raya dapat diketahui. Anak-anak MI menyaksikan langsung bahwa kejujuran sistem dan kecepatan kerja adalah bagian dari peradaban modern.

Menanam Kesadaran: Anak Bukan Objek, tapi Subjek Bangsa

Keterlibatan pelajar MI dalam Pemilihan Raya ini menanamkan kesadaran filosofis yang sangat penting: anak adalah manusia yang sedang bertumbuh, bukan manusia yang ditunda kemanusiaannya. Mereka belajar bahwa suara mereka dihitung, pendapat mereka dihormati, dan kehadiran mereka bermakna.

1000312329

Inilah bentuk nyata pendidikan yang menumbuhkan kemanusiaan dimana anak belajar memilih tanpa membenci, berbeda tanpa merendahkan, menang tanpa sombong, serta kalah tanpa merusak persaudaraan.

Miniatur Indonesia dan Investasi Peradaban

Pemilihan Raya Presiden OPMAZ Darma Bakti 23 adalah miniatur Indonesia dalam skala pendidikan. Pelajar MI diperkenalkan sejak dini pada kehidupan berbangsa yang majemuk, demokratis, dan beradab. Ini sejalan dengan cita-cita besar Al Zaytun: menyiapkan generasi Indonesia Abadi generasi yang mampu memimpin dirinya, komunitasnya, bahkan bangsanya di masa depan.

Bagi MI Ma’had Al Zaytun, kegiatan ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi investasi peradaban: menanam benih kepemimpinan, tanggung jawab, dan kesadaran kebangsaan sejak anak-anak masih belajar membaca dunia.

Karena bangsa yang besar tidak dibangun oleh pemimpin yang tiba-tiba dewasa, tetapi oleh anak-anak yang sejak kecil diajari cara memilih dengan nurani dan akal sehat. (Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah