Oleh Ali Aminulloh
Antara Astronomi, Cuaca, dan Trilogi Kesadaran
lognews.co.id - Ada keganjilan kecil yang memantik percakapan tahun ini. Biasanya, Imlek identik dengan hujan. Rintik yang turun di pagi hari dianggap sebagai pertanda rezeki, langit yang merestui pergantian tahun. Namun Imlek kali ini datang tanpa setetes air pun. Langit cerah, udara tenang. Hujan justru turun sehari setelahnya, 18 Februari. Sebagian orang pun bertanya dengan nada setengah bercanda, setengah serius: "apakah ada salah perhitungan? Apakah kalender keliru membaca langit?
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan yang lebih dalam: kita sering mencampuradukkan simbol dengan sistem, tafsir dengan fakta, dan kebiasaan dengan hukum alam.
Secara astronomi, penetapan Tahun Baru Imlek bukan perkara spekulatif. Kalender Tionghoa menggunakan sistem lunar–solar. Imlek jatuh pada bulan baru kedua setelah titik balik matahari musim dingin (winter solstice). Fase bulan baru bukan sesuatu yang kira-kira. Ia bisa dihitung dengan presisi tinggi, sebagaimana gerhana matahari dan bulan dapat diprediksi ratusan tahun sebelumnya. Sains modern hanya memperkuat akurasi yang sejak ribuan tahun telah diamati oleh peradaban Tiongkok kuno.
Maka jika 17 Februari ditetapkan sebagai Imlek, itu bukan karena ramalan cuaca, apalagi intuisi mistis. Itu karena posisi Matahari dan Bulan pada garis edar kosmiknya. Mengaitkan benar-salahnya Imlek dengan hujan berarti mencampuradukkan dua sistem berbeda: astronomi dan meteorologi.
Cuaca bekerja dalam skala yang jauh lebih fluktuatif. Hujan di Indonesia pada Februari dipengaruhi angin muson Asia, suhu permukaan laut, tekanan udara, hingga dinamika global seperti El Niño atau La Niña. Ia tidak tunduk pada kalender budaya. Bahwa selama ini Imlek sering bertepatan dengan hujan, itu karena Februari memang berada di puncak musim hujan. Korelasi musiman itu kemudian berubah menjadi asosiasi simbolik: Imlek sama dengan hujan.
Di sinilah kita masuk pada wilayah refleksi yang lebih dalam, yang dapat dibaca melalui trilogi kesadaran: filosofis, ekologis, dan sosial.
Pertama, kesadaran filosofis. Mengapa ketiadaan hujan memicu pertanyaan tentang kesalahan perhitungan? Karena manusia cenderung mencari keteraturan simbolik. Kita nyaman ketika alam berperilaku sesuai narasi yang kita bangun. Hujan saat Imlek menjadi tanda keberkahan. Ketika tanda itu absen, kita merasa ada yang tidak beres. Padahal, makna bukan terletak pada peristiwa alamnya, melainkan pada tafsir kita terhadapnya.
Kesadaran filosofis mengajak kita membedakan antara simbol dan substansi. Substansi Imlek adalah pergantian siklus waktu, pembaruan diri, momentum refleksi. Simbolnya bisa berupa hujan, lampion merah, kembang api, atau makan malam reuni. Ketika simbol berubah, substansi tidak otomatis hilang. Justru di saat simbol absen, kita diuji: apakah kita merayakan hakikat, atau hanya kebiasaan?
Langit yang cerah pada Imlek mungkin bukan kekeliruan kosmis, melainkan undangan untuk melihat bulan baru dengan lebih jernih. Pembaruan tidak selalu ditandai gemuruh. Kadang ia datang dalam keheningan.
Kedua, kesadaran ekologis. Dalam perspektif ini, cuaca tidak bisa dipaksa mengikuti ekspektasi budaya. Alam memiliki hukum dan ritmenya sendiri. Awan terbentuk karena proses kondensasi, bukan karena kalender menunjukkan tanggal tertentu. Ketika kita menganggap hujan sebagai “keharusan” pada hari raya, kita secara halus menempatkan alam sebagai pelayan simbolik manusia.
Kesadaran ekologis justru mengajarkan kerendahan hati. Alam tidak sedang mengirim pesan khusus karena ia tidak hujan di hari Imlek. Ia hanya bekerja sesuai sistemnya. Ketidakhadiran hujan bukanlah anomali spiritual, melainkan dinamika atmosfer. Dengan memahami ini, kita diajak keluar dari pola pikir antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat segala makna.
Lebih jauh, kesadaran ekologis juga mengingatkan kita bahwa perubahan pola hujan bisa menjadi tanda perubahan iklim global. Alih-alih mempertanyakan “salah hitung” dalam kalender, mungkin yang perlu kita refleksikan adalah bagaimana perilaku manusia memengaruhi keseimbangan lingkungan. Jika musim mulai bergeser, itu bukan karena langit salah tanggal, melainkan karena bumi sedang menanggung beban aktivitas kita.
Ketiga, kesadaran sosial. Pada akhirnya, perayaan Imlek bukan soal cuaca, melainkan soal relasi. Ia adalah momen keluarga berkumpul, leluhur dihormati, solidaritas diperkuat melalui angpao dan doa. Makna sosial inilah yang menjadi inti perayaan. Hujan atau tidak hujan tidak mengubah kualitas kebersamaan.
Namun ketika perhatian publik lebih tertuju pada tanda-tanda lahiriah, ada risiko makna sosial terpinggirkan. Kita sibuk mencari simbol, tetapi lupa membangun substansi hubungan. Kesadaran sosial menuntun kita untuk menempatkan perayaan sebagai ruang memperkuat empati dan harmoni, bukan sekadar membaca pertanda.
Di titik ini, kita melihat bahwa keganjilan kecil yaitu Imlek tanpa hujan, sebenarnya membuka ruang refleksi yang luas. Ia memperlihatkan bagaimana manusia sering mengandalkan pola yang berulang untuk menciptakan rasa aman. Ketika pola itu berubah, kita gelisah. Padahal perubahan adalah hukum alam.
Pendekatan mistis pun sebenarnya tidak sepenuhnya keliru jika dipahami sebagai bahasa simbolik. Dalam tradisi Tionghoa, hujan sering diasosiasikan dengan unsur air, yang melambangkan kemakmuran. Tetapi simbol hanyalah cara budaya menerjemahkan realitas. Ia tidak memiliki kuasa kausal terhadap peristiwa fisik. Jika hujan turun sehari setelah Imlek, bukan berarti “rezeki terlambat sehari.” Itu hanya kebetulan waktu.
Yang lebih penting adalah bagaimana kita memaknai pergantian tahun itu sendiri. Tahun baru, dalam tradisi apa pun, selalu membawa pesan pembaruan. Ia adalah kesempatan untuk menata ulang niat, memperbaiki relasi, dan menyelaraskan diri dengan ritme kehidupan. Hujan bisa menjadi metafora berkah, tetapi berkah tidak pernah tergantung pada cuaca.
Justru mungkin, langit yang cerah pada Imlek tahun ini adalah simbol yang lebih subtil: bahwa pembaruan tidak perlu selalu dramatis. Ia bisa hadir dengan tenang, tanpa guntur, tanpa rintik. Yang dibutuhkan hanyalah kesadaran untuk menangkap maknanya.
Trilogi kesadaran mengajarkan kita membaca peristiwa secara utuh. Kesadaran filosofis menjaga kita dari kekeliruan tafsir. Kesadaran ekologis menuntun kita memahami hukum alam secara ilmiah. Kesadaran sosial memastikan kita tidak kehilangan makna relasional dalam perayaan.
Jika ketiganya berjalan bersama, maka kita tidak akan lagi gelisah ketika simbol tidak muncul sesuai kebiasaan. Kita akan mampu membedakan antara kebetulan atmosfer dan kebenaran astronomi, antara tafsir budaya dan hukum kosmos.
Langit mungkin tidak selalu menangis di hari raya. Tetapi yang lebih penting adalah apakah kita mampu menurunkan ego dan prasangka saat memasuki tahun yang baru. Karena pada akhirnya, pembaruan bukan soal hujan yang turun dari atas, melainkan kesadaran yang tumbuh dari dalam.(Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah


