lognews.co.id, Jakarta – Pernah merasa cemas berlebihan setelah membaca informasi yang belum jelas kebenarannya? Kondisi tersebut dikenal dengan istilah fear mongering, yakni praktik penyebaran informasi secara berlebihan untuk menimbulkan rasa takut pada individu atau kelompok tertentu. Fenomena ini kian marak seiring masifnya arus informasi di media sosial.
Fear mongering merupakan tindakan yang dilakukan secara sengaja, baik oleh individu maupun kelompok, dengan menyebarkan rumor atau informasi yang belum terverifikasi. Informasi tersebut sering kali dibungkus secara dramatis sehingga memicu kepanikan, meski secara logika terdengar tidak masuk akal. Namun, karena disebarkan berulang dan masif, banyak orang akhirnya mempercayainya.
Contoh fear mongering antara lain isu bahaya vaksin tanpa dasar ilmiah, penyebaran kabar tsunami pascagempa tanpa pernyataan resmi, hingga narasi negatif tentang gangguan mental yang membuat penderitanya merasa terisolasi. Praktik ini dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, keamanan, politik, hingga ekonomi.
Dampak negatif fear mongering cukup serius. Paparan informasi menakutkan secara terus-menerus dapat memicu kecemasan berlebihan, menurunkan kepercayaan terhadap informasi, memecah belah masyarakat, hingga berdampak pada kesehatan fisik dan mental. Ketakutan berkepanjangan diketahui dapat melemahkan sistem imun dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti depresi dan penyakit jantung.
Selain itu, fear mongering kerap dimanfaatkan untuk keuntungan material, misalnya mendorong masyarakat membeli produk tertentu demi menghindari ancaman yang sebenarnya belum tentu nyata.
Meski lebih banyak berdampak negatif, fear mongering dalam batas tertentu dapat meningkatkan kewaspadaan dan mendorong masyarakat menjadi lebih kritis dalam menyaring informasi. Rasa takut terhadap ancaman kesehatan, misalnya, bisa mendorong perilaku pencegahan yang lebih disiplin.
Namun demikian, para ahli menekankan pentingnya menjaga keseimbangan. Ketika muncul rasa takut berlebihan akibat suatu informasi, masyarakat disarankan untuk menunda reaksi emosional dan mencari konfirmasi dari sumber resmi dan tepercaya. Informasi terkait kesehatan sebaiknya diverifikasi melalui lembaga pemerintah atau otoritas yang berwenang.
Dengan literasi informasi yang baik, fear mongering dapat ditekan sehingga masyarakat tidak mudah terjebak kepanikan massal yang berujung pada kerugian sosial dan psikologis. (Amri-untuk Indonesia)


