Wednesday, 04 February 2026

Tim Peneliti Ragukan Prasasti Cikapundung, Diduga Ukiran Modern

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Bandung – Tim peneliti arkeologi meragukan batu berukir yang berada di dekat Sungai Cikapundung, Gang Cimaung, Kelurahan Tamansari, Kota Bandung, sebagai prasasti kuno dari abad ketujuh. Keraguan tersebut disimpulkan setelah kajian lapangan dan akademik yang difasilitasi pemerintah daerah.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, menjelaskan bahwa temuan ekskavasi pada 2025 memunculkan sejumlah indikasi kuat yang bertentangan dengan dugaan awal sebagai prasasti kuno. Di sekitar batu ditemukan sampah modern seperti plastik dan keramik, serta lapisan tanah urukan yang tidak sesuai konteks arkeologis.

Dari sisi epigrafi, goresan aksara pada batu dinilai berbeda dari ciri prasasti kuno pada umumnya. Bentuk ukiran terlihat acak dan tidak serapi tulisan kuno. Fakta lain yang menjadi penentu adalah pengakuan seorang warga setempat yang menyatakan mengukir batu tersebut pada 1987 menggunakan obeng dan palu saat berusia 12 tahun, didorong minat pribadi terhadap aksara asing.

Pengakuan tersebut, menurut Adi, mengubah status batu berukir dari dugaan peninggalan sejarah menjadi karya modern. Batu yang memuat 12 aksara beserta relief tengkorak dan tapak kaki itu sebelumnya sempat diduga berasal dari masa Sunda Kuno dan menjadi polemik akademik sejak 2010. Publikasinya sejak 2011 bahkan pernah menjadi objek penelitian akademik.

Meski diragukan sebagai prasasti kuno, tim peneliti menilai batu tersebut tetap memiliki nilai budaya dan sosial. Batu berukir itu telah menjadi bagian dari cerita rakyat setempat dan memori kolektif warga, sekaligus pengingat bahwa pemaknaan sejarah perlu ditinjau dari sudut ilmiah dan pengalaman masyarakat.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung berencana mengundang pihak yang mengklaim sebagai pengukir batu serta melanjutkan diskusi dengan tim peneliti untuk menetapkan kesimpulan akhir. (Amri-untuk Indonesia)