الجمعة، 28 آب/أغسطس 2026

Pelajar Ekstrakurikuler Perkapalan Al Zaytun Bangun Kapal 2.200 Gross Tonnage

تقييم المستخدم: 3 / 5

تفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

INDRAMAYU, logmews.co.id – Puluhan pelajar kelas XI Ekstrakurikuler Perkapalan Mahad Al Zaytun mengikuti kegiatan orientasi, observasi, sekaligus praktik industri di Galangan Kapal Samudra Biru, Desa Eretan, Kabupaten Indramayu, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran lapangan agar para pelajar tidak hanya memahami teori di kelas, tetapi juga merasakan langsung proses pembangunan kapal di dunia industri.

Dalam kegiatan tersebut, para pelajar mempelajari sekaligus mempraktikkan sejumlah tahapan pembangunan KM Ratu Connie RB yang memiliki kapasitas 2.200 gross tonnage.

Kegiatan ini juga dipantau dan diliput secara langsung oleh reporter Delili dari Radio Prima FM. Dari tengah aktivitas pembangunan kapal, Delili mewawancarai pelajar, guru pembimbing, hingga mentor galangan untuk menggali pengalaman belajar para peserta serta visi besar Mahad Al Zaytun dalam membangun sumber daya manusia di sektor kemaritiman.

Sebelum memulai kegiatan, seluruh peserta mengikuti briefing bersama guru pembimbing. Mengenakan seragam biru khas kemaritiman, para pelajar kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mengikuti rangkaian orientasi, observasi, dan praktik di area galangan kapal.

Praktik Industri Berikan Pengalaman Berharga

Salah seorang pelajar, Bagus Tiramadhan, mengaku sangat antusias bisa belajar langsung di lingkungan industri perkapalan. Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan pemahaman yang jauh lebih nyata dibandingkan hanya mempelajari teori di kelas.

Rombongan berangkat dari Mahad Al Zaytun sekitar pukul 06.15 WIB dan tiba di Galangan Kapal Samudra Biru sekitar pukul 07.00 WIB.

"Perasaan saya sangat takjub dan bahagia karena dapat langsung terjun ke tempat industri perkapalan. Di sini kami bisa melihat sekaligus belajar bagaimana sebuah kapal dibangun secara nyata," ujarnya.

Bagus mengatakan, keberadaan galangan kapal yang dimiliki Mahad Al Zaytun menjadi bukti bahwa lembaga pendidikan tidak hanya berupaya mencetak lulusan yang mampu mengoperasikan kapal, tetapi juga mampu membangun kapal serta menciptakan sumber daya manusia yang unggul di bidang kemaritiman.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari visi besar membangun Indonesia sebagai negara maritim yang mandiri dengan memanfaatkan potensi laut yang sangat luas.

"Kita tidak hanya membeli kapal, tetapi juga membangun sumber daya manusianya agar mampu membuat kapal sendiri dan mendukung ketahanan pangan melalui sektor perikanan," katanya.

Wujud Pengembangan Blue Economy

Guru pembimbing, Ustadz Nugroho Wahyudodo, menjelaskan bahwa ekstrakurikuler perkapalan di Mahad Al Zaytun lahir dari gagasan membangun blue economy atau ekonomi berbasis kelautan.

Menurutnya, Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas sehingga dibutuhkan fasilitas pendukung seperti galangan kapal untuk mencetak generasi yang mampu mengelola kekayaan laut secara mandiri.

"Karena ingin mengembangkan ekonomi kelautan, maka dibangunlah galangan kapal ini. Harapannya kapal-kapal yang dibuat nantinya dapat dimanfaatkan untuk mengelola kekayaan laut Indonesia," jelasnya.

Ia menambahkan, pembangunan galangan kapal juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan kemandirian pangan, khususnya dalam sektor perikanan.

"Selama ini kita masih membeli hasil perikanan dari luar. Dengan memiliki kapal sendiri serta sumber daya manusia yang terampil, kita berharap mampu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri, termasuk kebutuhan ikan bagi ribuan pelajar di Mahad Al Zaytun," ujarnya.

Praktik Lapangan Lengkapi Pembelajaran di Kelas

Ustadz Nugroho menegaskan bahwa pengalaman belajar di lapangan memiliki manfaat besar karena para pelajar dapat melihat langsung kondisi industri yang sebenarnya.

Menurutnya, selama di sekolah para pelajar memperoleh dasar-dasar ilmu perkapalan melalui teori dan praktik di workshop. Namun di Galangan Kapal Samudra Biru, mereka dihadapkan langsung pada proses pembangunan kapal dalam skala besar.

"Kalau di kelas mereka belajar teori, kemudian praktik di workshop sebagai miniatur. Di sini mereka belajar menggunakan fasilitas industri yang sebenarnya sehingga memahami bagaimana bekerja secara profesional," katanya.

Ia berharap pengalaman tersebut mampu membentuk karakter disiplin, tanggung jawab, dan profesionalisme para pelajar sebelum nantinya terjun ke dunia kerja.

Dari Simulasi Menuju Dunia Industri

Anggota Galangan Kapal Samudra Biru, Untung, menjelaskan bahwa kegiatan diawali dengan pengenalan kawasan Pusat Pembuatan Kapal Tradisional (PPKT) Mahad Al Zaytun Samudra Biru, sejarah pembangunan galangan, kapal-kapal yang telah diproduksi, material yang digunakan, hingga prosedur keselamatan kerja.

Setelah mendapatkan materi orientasi, para pelajar kemudian mengikuti praktik lapangan dengan didampingi mentor agar memahami secara langsung setiap tahapan pembangunan kapal.

Menurut Untung, selama di sekolah para pelajar memang telah mempelajari teori dan praktik dasar di workshop menggunakan kapal berukuran kecil sebagai media simulasi. Saat memasuki kelas XI, mereka mulai diterjunkan ke Galangan Kapal Samudra Biru agar mengenal dunia industri yang sesungguhnya.

"Di workshop mereka belajar teori dan simulasi. Di sini mereka mulai belajar di industri yang sebenarnya. Mereka melihat, mempraktikkan, dan memahami bagaimana proses pembangunan kapal dilakukan secara profesional," jelasnya.

Ia menegaskan bahwa tujuan pendidikan perkapalan di Mahad Al Zaytun bukan sekadar mencetak tenaga kerja, tetapi membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga kedaulatan maritim Indonesia.

"Kami ingin mereka sadar bahwa Indonesia adalah negara maritim. Ketika kesadaran itu tumbuh, mereka akan memiliki semangat untuk ikut membangun dan menjaga kekayaan laut Indonesia melalui kemampuan yang mereka miliki," ujarnya.

Mempersiapkan Generasi Penerus Maritim Indonesia

Melalui kegiatan orientasi, observasi, dan praktik industri ini, Mahad Al Zaytun berharap para pelajar tidak hanya menguasai keterampilan teknis di bidang perkapalan, tetapi juga memiliki wawasan kemaritiman yang kuat.

Perpaduan antara pembelajaran teori di kelas, praktik di workshop, dan pengalaman langsung di Galangan Kapal Samudra Biru diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang siap menjadi pelanjut pembangunan sektor maritim Indonesia, sekaligus mendukung terwujudnya kemandirian bangsa dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan.

(Delili untuk Indonesia)