LOGNEWS.CO.ID, Indramayu - Perayaan Milad ke-27 Mahad Al Zaytun dengan tema (Menyambut 100 Tahun Indonesia dengan memperbesar investasi pendidikan yang berkualitas) pada Kamis, 27 Agustus 2026, menghadirkan berbagai tokoh dan sahabat Al Zaytun dari dalam maupun luar negeri. Salah satunya adalah Peter Budiono Setiawan yang datang langsung ke Kampus Peradaban Al Zaytun untuk mengikuti rangkaian peringatan milad yang bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-73.
Dalam podcast bersama Lognews Media, Peter mengungkapkan bahwa kehadirannya ke Al Zaytun bukanlah keputusan yang mendadak. Ia telah merencanakan perjalanan tersebut sejak tahun sebelumnya, namun baru dapat terwujud pada Milad ke-27 tahun ini.
"Karena ini Milad ke-27, saya bilang saya harus balik. Tahun lalu sebenarnya saya ingin datang, tapi belum jadi. Lalu saya rencanakan lagi tahun ini," ujar Peter.
Peter mengaku hanya menghubungi Ali Aminullah pada Juli 2026 untuk memberi kabar kedatangannya. Respons yang diterimanya membuat dirinya merasa memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Al Zaytun.
"Pak Ali menjawab, 'Kalau datang ke Indonesia, Al Zaytun adalah rumah Bapak.' Jadi saya tenang datang ke sini," tuturnya.
Perjalanan Penuh Perjuangan Demi Hadir di Milad Al Zaytun
Peter menceritakan perjalanan menuju Al Zaytun tidak selalu mudah. Saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada 26 Agustus, ia sempat kebingungan mencari lokasi penjemputan di West Lobby karena selama ini hanya mengenal pintu utama bandara.
Berbekal foto yang dikirim melalui surat elektronik, ia akhirnya bertemu tim penjemput sebelum melanjutkan perjalanan menuju Indramayu.
Ia juga mengenang pengalaman pertama kali datang ke Al Zaytun beberapa tahun lalu. Saat itu ia memilih menggunakan kereta api menuju Jatibarang dengan harapan dapat menemukan transportasi langsung ke Al Zaytun.
"Ternyata tidak ada taksi ke Al Zaytun. Saya akhirnya turun di Haurgeulis dan naik motor boncengan warga sampai ke Al Zaytun. Waktu itu sudah malam dan gelap," kenangnya.
Menurut Peter, berbagai tantangan perjalanan tersebut tidak pernah mengurangi keinginannya untuk kembali ke Al Zaytun.
Milad ke-27 dan Ulang Tahun ke-73 Menjadi Momen Bermakna
Peter mengungkapkan tanggal 27 Agustus memiliki arti yang sangat personal baginya. Selain menjadi hari lahir Mahad Al Zaytun pada 27 Agustus 1999, tanggal tersebut juga merupakan hari ulang tahunnya.
"Bukan sekadar ingin bertemu. Tanggal 27 Agustus adalah ulang tahun saya. Dan Al Zaytun diresmikan tanggal 27 Agustus 1999. Buat saya ada makna tersendiri," katanya.
Ia bahkan mengaitkan perjalanan hidupnya dengan berbagai peristiwa yang menurutnya membawa makna spiritual, termasuk refleksinya terhadap perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
Menilai Visi Syaykh Al Zaytun dalam Membangun Pendidikan
Dalam perbincangan tersebut, Peter juga menyampaikan pandangannya mengenai sosok Syaykh Al Zaytun. Menurutnya, kekuatan terbesar Syaykh bukan hanya membangun institusi pendidikan, melainkan membangun semangat dan jiwa manusia.
"Syaykh itu membangun rohani orang. Membangun spirit seseorang. Itu bukan pekerjaan mudah dan tidak semua orang bisa melakukannya," ujarnya.
Ia menyebut pertemuannya dengan Syaykh sebagai sebuah blessing atau berkat yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan hidupnya.
Peter menilai sejak awal Syaykh telah memiliki peta jalan pembangunan Al Zaytun yang jelas. Ia mengisahkan bagaimana Syaykh bekerja selama bertahun-tahun di Sabah sebelum kembali ke Indonesia untuk membeli lahan dan membangun pondok pesantren secara bertahap.
"Syaykh bekerja bertahap. Menabung waktu bekerja di Sabah selama sepuluh tahun. Pulang ke Indonesia beli tanah. Bangun asrama dulu, lalu sekolah. Rahmatan lil 'alamin berjalan terus pelan-pelan," ungkapnya.
Menurut Peter, pilihan membangun Al Zaytun di atas lahan yang saat itu masih berupa rawa menunjukkan keyakinan dan visi jangka panjang yang kuat.
Membandingkan Visi Syaykh dengan Elon Musk
Peter juga menyinggung sosok Elon Musk sebagai ilustrasi mengenai pentingnya memiliki tujuan besar dalam hidup. Ia mengatakan banyak orang menganggap Elon Musk memiliki gagasan yang mustahil, tetapi tetap konsisten menjalankannya.
"Elon Musk punya tujuan besar. Banyak orang bilang dia gila, tapi dia tetap jalan. Menurut saya Syaykh juga begitu. Bedanya tujuan Syaykh adalah pendidikan dan membangun manusia," katanya.
Baginya, keberhasilan sebuah gagasan lahir dari konsistensi menjalankan visi, meski sering menghadapi keraguan dan penolakan.
Pesan untuk Al Zaytun di Usia ke-27
Memasuki usia ke-27, Peter berharap Mahad Al Zaytun terus mempertahankan semangat kemandirian yang selama ini dibangun.
Ia menilai pengembangan berbagai sektor seperti pendidikan, rumah sakit, peternakan sapi perah, hingga politeknik merupakan langkah yang tepat selama tetap berorientasi pada kemaslahatan.
"Teruskan apa yang sudah dimulai. Dengan kemampuan yang ada, kalau bisa jangan pinjam uang. Ini bukan operasi mencari keuntungan," ujarnya.
Peter juga menekankan pentingnya menjaga moral, integritas, dan hati nurani dalam setiap langkah pembangunan.
"Fokus memperbaiki pendidikan, moral, dan integritas. Tetap berjalan sesuai hati nurani yang baik. You will be okay. You will be very successful," katanya.
Mengingatkan Tantangan dari Dalam
Di akhir wawancara, Peter mengingatkan bahwa setiap organisasi besar akan menghadapi tantangan, termasuk dari orang-orang di dalamnya sendiri.
Ia mengibaratkan situasi tersebut dengan kisah Judas Iskariot sebagai simbol adanya pihak yang dapat merusak dari dalam.
"Nanti pasti ada orang seperti Judas Iskariot. Dari dalam akan ada yang mencoba menghancurkan. Jangan pernah berpikir semua orang akan suka. Itu pasti ada. Tinggal bagaimana menghadapinya," tuturnya.
Peter dijadwalkan berada di Al Zaytun hingga 30 Agustus 2026 sebelum kembali melanjutkan perjalanannya. Kehadirannya pada Milad ke-27 menjadi simbol kedekatan seorang sahabat yang menganggap Mahad Al Zaytun bukan sekadar tempat berkunjung, melainkan sebuah rumah yang memiliki makna mendalam dalam perjalanan hidupnya. ( Saheel untuk Indonesia)



