INDRAMAYU, Lognews.co.id – Peringatan Milad ke-27 Ma'had Al Zaytun menghadirkan beragam tokoh dari berbagai latar belakang. Salah satunya adalah H. Yoyon Sujana, S.E., yang untuk pertama kalinya mengunjungi Ma'had Al Zaytun dan mengaku memperoleh pengalaman yang berbeda dari apa yang selama ini ia dengar di ruang publik.
Dalam podcast bersama Tim LognewsMedia, Yoyon menyampaikan pandangannya tentang pentingnya melihat langsung sebuah tempat sebelum memberikan penilaian. Menurutnya, masyarakat sebaiknya tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terutama yang beredar di media sosial.
Ia mengajak masyarakat untuk "berinvestasi moral" apabila belum mampu memberikan investasi dalam bentuk materi.
"Sebagus-bagusnya kita memberikan investasi, ketika tidak mampu secara material, maka berikan investasi moral. Mari kita berinvestasi akhlakul karimah. Melalui investasi akhlakul karimah dan silaturahmi, itu menjadi penangkal paling ampuh terhadap hoaks," ujar Yoyon.
Menurut Yoyon, silaturahmi menjadi cara terbaik untuk menghapus prasangka yang muncul akibat informasi yang tidak utuh. Ia menilai banyak konten di media sosial dapat direkayasa sehingga tidak selalu menggambarkan kondisi sebenarnya.
"Kalau bersilaturahmi, apa kata orang akan terhapus semua. Tapi kalau hanya memandang dari jauh, apalagi dari media sosial, sangat mudah orang merekayasa. Kata kuncinya adalah datang dan bersilaturahmi," katanya.
Kunjungan Pertama yang Mengubah Pandangan
Meski baru pertama kali datang ke Ma'had Al Zaytun, Yoyon mengatakan kunjungan tersebut membuatnya melihat langsung suasana yang menurutnya mencerminkan nilai toleransi dan kebersamaan.
Ia mengaku sebelumnya hanya mengetahui Al Zaytun dari pemberitaan dan informasi yang beredar. Namun setelah hadir secara langsung, pandangannya berubah.
"Kalau kita hanya melihat di dunia maya, hanya mendengar berita, atau hanya mendengar apa katanya, mungkin saya selamanya akan suuzan. Tapi karena melihat fakta seperti ini, saya melihat di sini ada pejuang, penggagas, dan pengembang toleransi," ungkapnya.
Yoyon menuturkan dirinya menyaksikan berbagai tokoh agama, tokoh budaya, budayawan, dan seniman dapat duduk, berdialog, serta makan bersama dalam satu kegiatan di lingkungan pesantren.
Nilai Kebinekaan di Lingkungan Pendidikan
Hal yang paling berkesan bagi Yoyon adalah suasana keberagaman yang ia lihat di Masjid Rahmatan Lil Alamin, lokasi utama kegiatan Milad ke-27 Al Zaytun.
Menurutnya, pemandangan tokoh lintas agama dan budaya berkumpul bersama di sebuah pusat pendidikan merupakan pengalaman yang jarang ia temui.
"Sementara yang saya hadiri, baru di tempat ini saya melihat budayawan, seniman, dan tokoh agama duduk bersama. Bukan dalam acara kenegaraan, tetapi di pusat pendidikan, di pondok pesantren, dan bertempat di Masjid Rahmatan Lil Alamin. Luar biasa," ujarnya.
Ia menilai pengalaman tersebut mengingatkannya pada nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 tentang keberagaman dan saling menghormati.
"Saya berpikir ini adalah fakta nyata dari apa yang termaktub dalam UUD 1945 dan Pancasila. Sebuah kebinekaan yang berbudaya dan saling menghormati," katanya.
Ajak Masyarakat Melihat Langsung
Menutup wawancara, Yoyon menyampaikan pesan kepada masyarakat Indonesia agar tidak terbiasa menilai sesuatu hanya berdasarkan kabar yang belum tentu benar.
Ia mengajak masyarakat datang langsung ke Ma'had Al Zaytun untuk melihat kondisi di lapangan sebelum membentuk opini.
"Jangan membiasakan 'katanya', apalagi berita-berita yang tidak meyakinkan. Mari suatu saat datang bersilaturahmi ke sini dan melihat fakta yang ada. Ternyata keberagaman di sini benar-benar terwujud secara nyata. Luar biasa, dan Indonesia sekali," tuturnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Yoyon dalam rangkaian Podcast Milad ke-27 Ma'had Al Zaytun bersama Tim LognewsMedia di Indramayu, Jawa Barat.
(Saheel untuk Indonesia)



