Friday, 30 January 2026

AI Mampu Prediksi Cuaca Ekstrem hingga 4 Jam Lebih Awal

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Hong Kong – Tim ilmuwan dari Hong Kong University of Science and Technology (HKUST) memperkenalkan sistem kecerdasan buatan (AI) terbaru yang mampu memprediksi badai petir dan hujan lebat dengan durasi waktu jauh lebih panjang dibandingkan teknologi konvensional.

Dalam konferensi pers pada Rabu (28/1/2026), tim peneliti mengungkapkan sistem tersebut mampu memberikan peringatan dini hingga empat jam sebelum cuaca ekstrem terjadi. Capaian ini menjadi lompatan signifikan dibandingkan sistem prakiraan cuaca saat ini yang umumnya hanya memiliki rentang prediksi antara 20 menit hingga dua jam.

Pemimpin proyek sekaligus Profesor Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan HKUST, Su Hui, menegaskan bahwa teknologi ini menjadi semakin vital di tengah meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.

Menurutnya, integrasi kecerdasan buatan dengan data satelit memungkinkan pemerintah dan layanan darurat memiliki waktu persiapan yang lebih matang dalam menghadapi potensi banjir bandang maupun badai besar yang sulit diprediksi.

Sistem yang diberi nama Deep Diffusion Model based on Satellite Data (DDMS) bekerja dengan pendekatan berbeda dari model prakiraan konvensional. DDMS menggunakan teknik AI generatif dengan memasukkan gangguan (noise) pada data pelatihan, lalu mempelajari cara membalikkan proses tersebut untuk menghasilkan prediksi cuaca yang lebih presisi.

Teknologi ini dikembangkan melalui kolaborasi dengan otoritas cuaca China dan memanfaatkan data suhu kecerahan inframerah dari satelit Fengyun-4 yang dikumpulkan pada periode 2018 hingga 2021.

Uji performa menunjukkan model DDMS mampu meningkatkan akurasi prediksi lebih dari 15 persen, dengan pembaruan data setiap 15 menit. Keunggulan utama model ini terletak pada pemanfaatan data satelit yang mampu mendeteksi pembentukan awan konvektif lebih dini dibandingkan radar darat.

Terobosan ini dinilai relevan dengan anomali cuaca yang melanda Hong Kong dan China Selatan sepanjang 2025, ketika jumlah topan dan curah hujan tercatat melampaui norma musiman dan memecahkan rekor peringatan badai tertinggi hingga lima kali dalam satu tahun.

Saat ini, Administrasi Meteorologi China dan Observatorium Hong Kong tengah mengupayakan integrasi model AI DDMS ke dalam sistem prakiraan cuaca resmi. Setelah melalui validasi data pada musim semi dan panas 2022 serta 2023, teknologi ini diharapkan menjadi standar baru dalam sistem mitigasi bencana berbasis AI di tingkat global.

Pengembangan sistem AI ini dipandang sebagai langkah konkret untuk meminimalkan kerugian materiil dan korban jiwa melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan di lini terdepan perlindungan publik.