lognews.co.id, Cirebon – Langkah-langkah kaki terdengar menyusuri jalan setapak menuju perbukitan Desa Cigobang, Kecamatan Pasaleman, Kabupaten Cirebon. Emak-emak dan bapak-bapak berjalan beriringan. Sebagian membawa tali, sementara yang lain menyiapkan tangan kosong.
Di hadapan mereka, deretan tanaman kelapa sawit setinggi dada orang dewasa masih berdiri tegak, meskipun tenggat pencabutan pada 15 Januari telah terlewati. Kondisi tersebut memicu kemarahan warga.
Di tengah kerumunan, suara Sara (55) terdengar lantang.
“Perjanjiannya PT katanya menunggu tanggal 15. Saya menunggu sampai tanggal 15. Ternyata tidak ada tindak lanjut. Jadi kami geram. Saya tidak menghendaki adanya pohon sawit di daerah saya,” ujarnya lantang, disambut pekikan setuju warga, Jumat (16/1/26).
Tanpa menunggu lama, warga langsung bergerak mencabut tanaman sawit. Sambil meneriakkan ‘tolak tanaman sawit’ dan ‘cabut sawit’, mereka mengerubungi batang-batang yang mudah dijangkau.
Akar tanaman yang kuat membuat beberapa warga jatuh bangun. Namun, satu per satu pohon sawit akhirnya berhasil dicabut dari tanah.
“Sekarang sudah lewat tanggal 15 dan tidak ada tindak lanjut. Jadi saya dan warga mencabut sendiri,” kata Sara.
Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya warga sempat diminta menunggu kembali oleh kepala desa.
“Pak Kuwu bilang, ‘tunggu nanti hari Senin’. Tapi kalau tidak ada tindak lanjut, ya dicabut lagi. Masyarakat sudah sepakat, kita cabut sendiri,” ujarnya.
Aksi tersebut bukan sekadar luapan emosi sesaat. Warga menyebut ada kekhawatiran jangka panjang terkait ketersediaan air dan keselamatan lingkungan kampung.
“Keberadaan sawit sangat memberatkan. Daerah kami kekurangan air. Kami mengebor sampai 25 meter sering tidak dapat air. Tetangga saya bahkan sudah mencoba tiga titik dan tetap tidak menemukan air,” katanya.
Warga berharap pemerintah desa dan pihak terkait segera memberikan kepastian dan solusi atas persoalan penanaman sawit di wilayah mereka, agar tidak kembali memicu konflik serupa di kemudian hari. (Amri-untuk Indonesia)


