lognews.co.id, Banten – Kerusakan jalan dan banjir di ruas Jalan Tol Tangerang–Merak berdampak besar terhadap sektor transportasi dan logistik. Kondisi tersebut membuat waktu tempuh perjalanan semakin lama karena kendaraan harus melaju pelan, sehingga pengusaha angkutan mengalami kerugian signifikan akibat meningkatnya durasi perjalanan dan rendahnya utilitas armada.
Sekretaris Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Banten, Cahyo Hendro Atmoko, mengatakan kerusakan jalan dan banjir sangat mengganggu aktivitas transportasi dan distribusi logistik. Menurutnya, Tol Tangerang–Merak merupakan jalur vital yang menghubungkan wilayah Banten dan Jakarta, sekaligus menjadi koridor utama distribusi logistik dari dan menuju Sumatera.
“Kerusakan jalan dan banjir menambah durasi perjalanan dan sangat mengganggu waktu tempuh truk. Dampaknya, kerugian pengusaha angkutan menjadi sangat signifikan karena perjalanan lebih panjang dan utilitas truk menurun,” ujar Cahyo, Rabu (28/1/2026).
Cahyo menjelaskan, angkutan yang melintas di ruas tol tersebut didominasi bahan baku industri dan produk manufaktur untuk konsumen. Kerusakan jalan membuat distribusi barang menjadi lebih lambat, sehingga berpotensi mengganggu rantai pasok industri dan ketersediaan barang di tingkat konsumen.
“Yang kami angkut itu bahan baku industri dan produk yang digunakan konsumen. Jika distribusi terhambat, ketersediaan barang juga ikut terganggu,” katanya.
Sementara itu, Humas Aptrindo Banten, Irhamna, menambahkan kerusakan jalan yang terjadi secara cepat berdampak langsung pada kondisi kendaraan. Pengusaha angkutan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk perawatan armada.
“Jalan rusak membuat kaki-kaki kendaraan cepat rusak, ban juga lebih cepat aus. Ini memaksa pengusaha angkutan mengeluarkan biaya ekstra,” ujar Irhamna.
Ia juga menyoroti dampak kemacetan akibat kerusakan jalan yang meningkatkan konsumsi bahan bakar kendaraan.
“Kemacetan membuat penggunaan BBM meningkat, sehingga biaya operasional semakin besar,” katanya.
Selain kerugian ekonomi, Irhamna menilai kondisi jalan rusak meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas bagi pengemudi angkutan dan pengguna jalan lainnya.
“Semakin rawan tentu kondisinya bagi masyarakat dan pengemudi angkutan,” pungkasnya.
Aptrindo Banten berharap pengelola jalan tol, PT Astra Tol, segera menghadirkan solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah yang bersifat berulang setiap tahun. Menurut mereka, perbaikan struktural seperti pembangunan tanggul dan peninggian badan jalan diperlukan untuk mencegah kerusakan dan banjir terulang. (Amri-untuk Indonesia)


