Friday, 30 January 2026

Membangun Karakter Bangsa Melalui Manifestasi Tata Ruang yang Teratur dan Beradab

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Khotbah Jum’at oleh : Muhammad Agung Salam Bin Maska/Xii Mipa R1/Jakarta Timur

lognews.co.id - Alhamdulillah, kita patut bersyukur kepada Allah SWT. karena masih diberikan nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat sehat sehingga dapat melaksanakan ibadah salat Jumat di Masjid Rahmatan lil Alamin dengan penuh khidmat dan mengharap ridha Allah SWT.

Sholawat serta salam marilah kita panjatkan kepada junjungan kita Nabiyyuna wa Sayyiduna Muhammad SAW beserta para nabi lainnya yang telah mengajarkan nilai-nilai ilahi serta nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab kepada seluruh umat manusia di muka bumi.

Pada kesempatan Jumat yang mulia ini, khotib mengajak diri sendiri pada khususnya dan jamaah pada umumnya untuk senantiasa menguatkan ketakwaan kepada Allah dan syariat-Nya agar kita senantiasa dapat melaksanakan tugas dan kewajiban dengan tulus, ikhlas, dan setia hati menuju apa yang kita cita-citakan bersama.

Hadirin yang saya hormati

Peradaban sebuah bangsa tidak hanya diukur dari angka-angka statistik, melainkan juga dari manifestasi fisik yang ditinggalkan. Arsitektur dan tata ruang bukanlah sekadar tumpukan materi atau persoalan estetika belaka, melainkan sebuah pernyataan ideologi dan cermin karakter bangsa. Sebuah bangsa yang memiliki visi besar akan selalu menata ruang hidupnya dengan penuh perhitungan.

Untuk itulah, pada kesempatan Jumat kali ini, khotib membawakan khutbah yang berjudul:

Membangun Karakter Bangsa Melalui Manifestasi Tata Ruang yang Teratur dan Beradab

Hadirin yang saya hormati

Tata ruang adalah wujud penataan ruang yang disusun secara terencana. Tata ruang bukan sekadar persoalan teknis pembangunan fisik, melainkan sebuah cermin dari karakter dan peradaban suatu bangsa. Bangsa yang memiliki tata ruang yang tertib menunjukkan bahwa masyarakatnya menjunjung tinggi nilai disiplin, kepedulian, keadilan, dan tanggung jawab.

Tata ruang yang adil tidak memihak kelompok tertentu saja, melainkan memberikan akses yang seimbang bagi seluruh lapisan masyarakat. Fasilitas umum, tempat ibadah, sarana pendidikan, dan layanan kesehatan harus direncanakan dengan mempertimbangkan kebutuhan semua masyarakat, bukan hanya mengutamakan kepentingan beberapa orang saja. Keadilan dalam tata ruang akan melahirkan rasa memiliki, kebersamaan, dan persatuan di tengah masyarakat.

Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan sekitarnya. Membuang sampah pada tempatnya, mematuhi aturan tata kota, serta tidak merusak fasilitas umum adalah bentuk tanggung jawab sederhana namun bermakna besar. Jika tanggung jawab ini tertanam kuat dalam diri setiap warga, maka tata ruang yang tertib bukan hanya menjadi kewajiban pemerintah, melainkan gerakan bersama seluruh masyarakat.

Tata ruang yang beradab lahir dari kepedulian terhadap sesama manusia dan lingkungan. Kepedulian terhadap pejalan kaki, penyandang disabilitas, anak-anak, dan lansia tercermin dalam penyediaan trotoar yang aman, fasilitas umum yang ramah, serta ruang publik yang nyaman. Kepedulian terhadap alam tercermin dalam upaya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.

Rasulullah SAW telah memberikan teladan dalam membangun masyarakat yang beradab, tertib, dan berperadaban tinggi. Keteladanan beliau menegaskan bahwa iman harus terwujud dalam tatanan sosial yang rapi dan bermartabat. Ketika hijrah ke Madinah, beliau tidak hanya membangun masjid sebagai pusat ibadah, tetapi juga menata kehidupan sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat. Masjid menjadi pusat peradaban, tempat lahirnya nilai-nilai disiplin, kebersamaan, dan kepedulian sosial.

Hadirin jamaah salat Jumat rahimakumullah

Dalam konteks kehidupan berbangsa saat ini, kita dihadapkan pada tantangan urbanisasi, pertumbuhan penduduk, dan perkembangan teknologi yang pesat. Tantangan ini menuntut perencanaan tata ruang yang matang dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan. Tanpa karakter yang kuat, pembangunan fisik yang megah justru dapat melahirkan ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, dan konflik kepentingan. Oleh karena itu, pembangunan tata ruang harus sejalan dengan pembangunan karakter bangsa.

Membangun karakter bangsa melalui tata ruang yang teratur dan beradab juga membutuhkan peran generasi muda sebagai pewaris estafet peradaban. Generasi muda yang berkarakter akan menjadi agen perubahan dalam masyarakat. Mereka mampu memanfaatkan teknologi untuk mendukung perencanaan kota yang cerdas, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Dengan landasan iman dan akhlak yang kuat, generasi muda dapat menghadirkan inovasi tata ruang yang tidak hanya modern, tetapi juga beradab dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

Dalam Quran Surat As-Shaf ayat 4 disebutkan: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ

Artinya : Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.

Ayat ini menegaskan bahwa tata ruang sebuah bangsa yang tersusun rapi akan membentuk mentalitas rakyat yang kuat. Tata ruang yang teratur mendorong setiap individu untuk mematuhi aturan, menghargai batas, dan menghormati hak orang lain. Sebaliknya, tata ruang yang tidak tersusun dengan baik akan melemahkan mentalitas masyarakat dan memicu banyak pelanggaran aturan.

Hadirin yang saya muliakan

Ma'had Al-Zaytun sebagai pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi dan perdamaian memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai peradaban. Lingkungan Al-Zaytun memiliki perencanaan yang strategis dalam pembangunan dan pengembangannya, mulai dari gedung pembelajaran, asrama, sarana ibadah, kawasan pertanian, lapangan olahraga, kawasan industri, dapur, rumah makan, pertokoan, hingga sarana pendukung lainnya.

Penataan ruang yang teratur tersebut membentuk karakter penghuninya menjadi hidup tertib, disiplin, dan beradab. Selain itu, Al-Zaytun juga menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan hidup sebagai bagian dari kesadaran ekologis. Tata ruang yang teratur hari ini harus menjamin ketersediaan sumber daya bagi generasi masa depan.

Penataan ruang yang mengabaikan ekologi mencerminkan karakter yang rakus. Sebaliknya, tata ruang yang hijau, bersih, dan asri merupakan wujud syukur kepada Sang Pencipta. Kita membangun hari ini bukan untuk menghabiskan warisan anak cucu, melainkan untuk menitipkan masa depan yang lebih baik. Marilah kita tumbuhkan kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial agar cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dapat terwujud.

(Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah