Friday, 30 January 2026

Bukan Sekadar Bernyanyi: Inilah Cara MI Ma’had Al Zaytun Membangun Peradaban Lewat Musik Sejak Usia Dini

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos. Kepala MI Ma'had Al Zaytun

lognews.co.id, Indonesia - MI Ma’had Al Zaytun menaruh perhatian serius pada pengembangan seni musik sebagai bagian integral dari pendidikan pelajar. Beragam cabang musik diajarkan secara sistematis dan berjenjang, meliputi gitar, bas, drum, biola, rebana (terbangan), keyboard, dirigen, vokal, hingga angklung. Keragaman ini menunjukkan bahwa pendidikan seni di MI Ma’had Al Zaytun tidak diarahkan pada satu genre semata, melainkan membangun wawasan musikal yang luas, seimbang antara musik modern dan musik tradisional.

Pendekatan ini sejalan dengan gagasan Syaykh Al Zaytun tentang pentingnya keseimbangan kontemporer tradisional yang adil dan manusiawi. Musik modern seperti gitar, keyboard, dan drum berjalan berdampingan dengan seni tradisi seperti rebana dan angklung. Keduanya tidak dipertentangkan, tetapi dipertautkan sebagai kekayaan budaya dan ekspresi peradaban. Dengan cara ini, pelajar tidak tercerabut dari akar budayanya, sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Dalam kerangka Kurikulum L-STEAMS, seni musik berada pada domain Art, namun tidak berdiri sendiri. Musik melatih disiplin (Law) melalui keteraturan ritme dan kepatuhan pada komposisi, mengasah kepekaan ilmiah terhadap bunyi dan getaran (Science), memanfaatkan alat musik sebagai produk teknologi (Technology), memahami struktur dan harmoni sebagai bentuk rekayasa seni (Engineering), menggunakan pola dan hitungan dalam tempo dan birama (Mathematics), serta menumbuhkan kehalusan rasa, kebersamaan, dan spiritualitas (Spiritual). Dengan demikian, musik menjadi wahana pendidikan yang holistik.

lognews.co.id foto 3 pembelajaran musik pelajar terbangan

Lebih jauh, musik berperan penting dalam mengasah rasa dan kreativitas pelajar sejak dini, terutama dalam optimalisasi fungsi otak kanan. Melalui musik, pelajar belajar merasakan, bukan hanya menghafal; mengekspresikan, bukan sekadar meniru. Kepekaan rasa ini menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya empati, keindahan budi, dan keseimbangan emosional  unsur yang sering kali luput bila pendidikan hanya berfokus pada aspek kognitif semata.

Sejarah menunjukkan bahwa peradaban-peradaban besar selalu diisi oleh manusia-manusia yang berjiwa seni. Seni melunakkan kekerasan, menumbuhkan kepekaan sosial, dan memperhalus relasi antarmanusia. Dalam konteks ini, Islam tidak dipahami semata sebagai agama ritual, tetapi sebagai peradaban yang menghargai keindahan, keteraturan, dan harmoni. Seni musik menjadi salah satu medium untuk menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata pelajar.

Melalui pengembangan potensi seni musik di MI Ma’had Al Zaytun, pendidikan diarahkan untuk melahirkan manusia yang utuh: cerdas akalnya, halus rasanya, kuat karakternya, dan manusiawi sikapnya. Inilah wujud nyata pendidikan yang menanamkan kesadaran sejak dini dan pada akhirnya menumbuhkan kemanusiaan  sejalan dengan visi besar Al Zaytun sebagai pusat pendidikan peradaban. (Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah