Friday, 30 January 2026

Mihrab yang Melahirkan Masa Depan

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Oleh : Ali Aminulloh

Bagaimana jika masa depan pendidikan justru lahir dari ruang yang sunyi?
Ketika sekolah-sekolah berlomba mengejar angka, grafik, dan peringkat, pendidikan Al Zaytun justru memulai percakapan besarnya dari mihrab, tempat orang biasanya berdoa, bukan merancang kurikulum. Paradoks itulah yang terjadi pada Kamis, 22 Januari 2026. Dari ruang yang hening, sebuah gagasan besar tentang pendidikan dirumuskan ulang: bukan sekadar mencetak lulusan, melainkan melahirkan manusia seutuhnya.

Diskusi itu bermula ruang khas Masjid Rahmatan Lil Alamin - Al-Zaytun, ketika kurikulum tidak lagi diperlakukan sebagai daftar mata pelajaran yang terpisah. Di bawah bimbingan Syaykh AS Panji Gumilang, MP., pendidikan dipandang sebagai jalinan nilai, ilmu, dan kesadaran. Sains harus berdialog dengan etika, matematika menyentuh kemanusiaan, teknologi berpihak pada lingkungan, dan semuanya berakar pada hukum tertinggi: hukum Ilahi.

Kurikulum yang Disambungkan

Gagasan itu kemudian dirumuskan dalam kerangka LSTEAMS, yaitu Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, dan Spiritual. Bukan sebagai akronim kosong, melainkan sebagai cara berpikir. Setiap pelajaran harus saling menyambung, saling menguatkan, dan menjawab satu pertanyaan mendasar: untuk apa ilmu ini bagi kehidupan?

Di ruang diskusi, matematika tidak berhenti pada rumus. Ia dibawa ke sawah. Dari menghitung jarak tanam, jumlah anakan padi, hingga estimasi tonase beras. Di sana, sains pertanian, teknologi, ekonomi, dan kesadaran ekologis bertemu. Ilmu tidak lagi diajarkan untuk dihafal, melainkan untuk dihidupi.

Kamisan: Dari Gagasan ke Praktik

Agar gagasan besar itu tidak berhenti sebagai wacana, Tim Kurikulum di bawah bimbingan langsung Syaykh Al-Zaytun menyelenggarakan diskusi rutin bertajuk “Kamisan”. Forum ini menjadi ruang konsolidasi pemikiran, tempat kurikulum diuji sebelum diterapkan.

Diskusi Kamisan berlangsung di Ruang Khas Masjid Rahmatan Lil Alamin. Ruang ini bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi ruang perenungan. Tim yang hadir mencerminkan ekosistem pendidikan yang utuh: para eksponen, Majelis Guru, kepala sekolah lintas jenjang, Majelis Pengendali Asrama, hingga KOSMAS. Semua duduk setara, menyatukan perspektif, dengan satu kegelisahan yang sama: bagaimana pendidikan dijalankan tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.

Menilai Manusia, Bukan Sekadar Angka

Ketika tujuh unsur LSTEAMS masuk dalam satu pelajaran, penilaian menjadi kompleks. Namun jawabannya justru berlawanan dengan arus umum. Tidak semua harus diukur dengan angka. Sebagian cukup dinarasikan.

Seorang murid mungkin tidak menonjol dalam skor, tetapi memiliki kepekaan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Semua itu dicatat sebagai deskripsi kesadaran. Sejak PAUD hingga kelas 12, rapor diperlakukan sebagai potret manusia yang sedang tumbuh, bukan sekadar tabel peringkat.

lognews.co.id foto 7 berawal dari mimbar syaykh

Mihrab sebagai Laboratorium Pendidikan

Menjelang akhir diskusi Kamisan, Syaykh membawa forum kembali ke sumber nilai. Surah Maryam ayat 11–17 dibahas sebagai konsep pendidikan. Nabi Zakariya digambarkan sebagai pendidik yang berdoa di mihrab sebuah ruang sunyi tempat harapan generasi dirumuskan. Yahya hadir sebagai sosok anak yang dianugerahi hikmah sejak dini: cerdas, bertakwa, dan berbakti.

Kisah kemudian berlanjut pada Maryam. Mengasingkan diri, menjaga kesucian, hingga melahirkan basyaran sawiyyan: manusia yang utuh dan seimbang. Dalam tafsir ini, mihrab tidak lagi sekadar tempat ibadah. Ia adalah laboratorium pendidikan: tempat nilai diproses, kesadaran dibentuk, dan masa depan dilahirkan.

Menuju Insan Kamil

Tujuan akhir kurikulum LSTEAMS dirumuskan dengan jelas: melahirkan manusia basthotan fil ilmi wal jismi: luas ilmunya, kuat jasmaninya, dan matang kesadarannya. Pendidikan tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi bergerak menuju pembentukan insan kamil: sadar secara filosofis, ekologis, dan sosial.

Diskusi itu belum menutup seluruh persoalan. Kurikulum ini pun masih akan disempurnakan. Namun satu pesan mengemuka dengan tegas: pendidikan yang terpecah hanya akan melahirkan manusia yang timpang.

Epilog: Pendidikan yang Memanusiakan

Barangkali selama ini kita terlalu sibuk menghitung nilai, hingga lupa menumbuhkan makna. Dari mihrab, ruang sunyi yang sering kita anggap jauh dari dunia, justru lahir gagasan paling duniawi: bagaimana manusia seharusnya dibentuk. Jika pendidikan berani disambungkan, tidak dipisah-pisahkan, maka ia tidak hanya mencerdaskan, tetapi memanusiakan. Dan di sanalah masa depan benar-benar dimulai. (Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah