Oleh: Mochamad Iqbal Aulia
Disarikan dari Simpulan dan Arahan Syaykh Al Zaytun pada Pelatihan Pelaku Didik ke 35
lognews.co.id, Indonesia - Dalam Pelatihan Pelaku Didik ke-35, Syaykh Al Zaytun kembali mengajak para pendidik untuk keluar dari zona nyaman cara berpikir lama dan memasuki horizon baru Islam sebagai peradaban. Arahan yang disampaikan tidak berdiri sebagai potongan gagasan terpisah, melainkan satu rangkaian utuh tentang manusia, visi ilahi, pendidikan, dan masa depan bangsa. (1/2/26)
Syaykh menegaskan bahwa orientasi pendidikan Islam tidak berhenti pada konsep Insan Kamil yang populer dalam tradisi tasawuf, melainkan harus kembali pada istilah Al-Qur’an: Basyaran Sawiyyan. Al-Qur’an tidak berbicara tentang manusia sempurna dalam arti ideal tanpa cela, tetapi tentang manusia yang seimbang, lurus, dan proporsional manusia yang hadir secara utuh sebagai makhluk spiritual, intelektual, sosial, dan ekologis. Basyaran Sawiyyan adalah manusia yang membumi, hidup dalam realitas sejarah, dan mampu menjalankan amanah peradaban, bukan manusia yang hanya mengejar kesalehan individual tanpa kontribusi sosial.
Dari sini Syaykh kemudian mengajak peserta untuk meninjau ulang makna musyrik. Syirik tidak semata dipahami secara sempit sebagai menyembah berhala, tetapi diperluas sebagai ketidaksatuan visi dengan visi ilahi. Ketika Allah menetapkan perubahan sebagai sunnatullah sebagaimana ditegaskan dalam ayat “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” maka menolak perubahan, membekukan pemikiran, dan mengabadikan stagnasi atas nama agama merupakan bentuk penyimpangan visi. Dalam perspektif ini, syirik adalah ketika kehendak manusia, tradisi, atau kepentingan kelompok diletakkan lebih tinggi daripada arah perubahan yang dikehendaki Tuhan bagi kemanusiaan.
Kesadaran inilah yang melahirkan kebutuhan akan Global Education. Syaykh menekankan bahwa pendidikan hari ini tidak boleh terkurung dalam batas lokal yang sempit, tetapi harus melahirkan global thinking, global setting, dan global solidarity. Dunia telah terhubung, persoalan kemanusiaan bersifat lintas negara, dan tantangan masa depan menuntut manusia yang mampu berpikir universal tanpa kehilangan akar nilai. Pendidikan Islam yang tidak berani masuk ke ruang global hanya akan melahirkan generasi yang saleh secara simbolik, tetapi gagap menghadapi realitas dunia.
Namun globalisasi yang dimaksud Syaykh bukanlah ketergantungan pada bangsa lain. Justru sebaliknya, kesadaran global harus dibarengi dengan kesadaran kedaulatan: bahwa membangun negara adalah tanggung jawab bangsa itu sendiri. Karena itu, Syaykh menegaskan kembali gagasan besar pembangunan pendidikan berasrama di 500 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Pendidikan berasrama dipandang sebagai ekosistem strategis untuk membentuk manusia seutuhnya jiwa, akal, etos kerja, solidaritas, dan tanggung jawab sosial tanpa tergerus oleh pengaruh destruktif lingkungan luar.
Melalui pendidikan berasrama yang terstruktur dan merata, bangsa Indonesia diharapkan mampu menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter, mandiri, dan berdaulat. Inilah jalan membangun negara dari hulu: bukan dengan ketergantungan pada modal asing atau belas kasih global, tetapi melalui investasi paling abadi manusia yang sadar, seimbang, dan satu visi dengan kehendak ilahi.
Dengan demikian, Pelatihan Pelaku Didik ke-35 bukan sekadar forum peningkatan kapasitas pendidik, melainkan ajakan untuk menggeser paradigma: dari kesalehan individual menuju tanggung jawab peradaban, dari romantisme masa lalu menuju keberanian menjemput masa depan, dan dari manusia ideal versi konsep menuju Basyaran Sawiyyan manusia seimbang yang sanggup menghidupkan dunia dan menumbuhkan kemanusiaan. (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah


