oleh Ali Aminulloh: Disarikan dari Taushiyah Syaykh Al Zaytun
Catatan Qabliyah Jumat tentang Ramadhan, Tradisi, dan Konsistensi Pendidikan
lognews.co.id, Indonesia - Ada satu ironi dalam dunia pendidikan: kita pandai menyusun kalender, tetapi sering kalah oleh waktu yang kita ciptakan sendiri.
Kita merancang program dengan penuh keyakinan, lalu mengingkarinya dengan alasan toleransi. Kita menulis komitmen rapi di atas kertas, lalu melipatnya ketika berhadapan dengan realitas sosial.
Paradoks itulah yang mengemuka dalam Qabliyah Jumat, forum silaturahmi Syaykh dengan para pelaku didik Al Zaytun, pada Jumat, 8 Februari. Sebuah forum yang tenang, namun sarat otokritik. Bukan kepada orang lain, melainkan kepada diri sendiri.

Ramadhan dan Kalender yang Tak Pernah Utuh
“Tanggal 18 Ramadhan, shaum Ramadhan dimulakan.”
Kalimat pembuka Syaykh terdengar biasa. Namun dari sanalah percakapan bergulir jauh. Bukan sekadar tentang puasa, tetapi tentang bagaimana Ramadhan ditempatkan dalam sistem pendidikan.
Secara prinsip, Ramadhan diisi dengan shaum dan aktivitas ibadah sebagaimana mestinya. Namun Syaykh menggarisbawahi satu hal yang terus berulang:
praktik Ramadhan belum sepenuhnya selaras dengan kalender pendidikan yang telah disusun sendiri.
Awalnya, kalender itu bisa dijalankan. Lalu datang toleransi. Ada permintaan orang tua agar Idul Fitri dirayakan di rumah. Al-Zaytun memilih mengalah.
Pilihan yang manusiawi, tetapi meninggalkan konsekuensi panjang.
“Sampai sekarang kita belum bisa menjalankan kalender pendidikan yang kita buat sendiri.”
Di titik inilah refleksi berubah tajam
Syaykh menyebutnya dengan metafora sederhana namun menghantam:
kita masih dididik oleh alam, bukan mengarahkan alam.
Jika panas, manusia membuat AC (Mukayyaful hawa).
Jika ada tekanan sosial, kita menyesuaikan.
Dalam pendidikan, “alam” itu bernama wali santri dan kebiasaan sosial.
Padahal, tegas Syaykh, kumpul dan silaturahmi juga bisa dilakukan di kampus.
Masalahnya bukan pada tradisi, melainkan pada keberanian memegang komitmen.
Idul Fitri yang Ramai, Idul Adha yang Sepi
Dari kalender, Syaykh mengajak hadirin menengok tradisi.
Ucapan “minal ‘aidin wal faizin” misalnya, itu bukan tradisi Arab, melainkan khas Indonesia, khas Melayu. Demikian pula perayaan Idul Fitri seperti yang terjadi di masyarakat.
Idul Fitri dirayakan dengan gegap gempita.
Sebaliknya, Idul Adha justru sepi dari semangat berkurban.
Ironis, karena dalam budaya Jawa, Idul Adha malah disebut riyoyo besar. Jadi terbalik.
Bahkan, awal tahun Jawa dimulai dari riyoyo besar itu.
Dulu, suasana Idul Adha hidup. Pendopo masjid terbuka untuk semua warga. Ada tata nilai yang dijaga dengan ketat.
Anak yang belum khitan belum boleh masuk karena belum dianggap suci.
Penyembelihan dilakukan di depan masjid oleh orang yang benar-benar ahli, bukan sembarang orang, bukan sekadar bisa memotong, tetapi punya adab dan ilmu agama. Ia dikenal dengan Modin
Hari raya, bagi Syaykh, bukan sekadar libur.
Ia adalah ritus sosial, pendidikan akhlak, dan perayaan nilai.
Kritik yang Datang dari Dalam
Dengan nada jujur, Syaykh menyebut satu kegagalan pribadi: tidak menempatkan libur panjang di bulan Juli.
Akibatnya, terjadi kontradiksi yang getir:
kita membuat program, lalu kita sendiri yang menentangnya.
Syaykh mengutip ayat yang menjadi cermin keras bagi siapa pun yang memimpin:
“Lima taquluna ma la taf‘alun.”
Mengapa mengatakan sesuatu yang tidak dikerjakan?
Bahkan dalam praktik ibadah, konsistensi menjadi pesan utama.
Surat Ash-Shaff yang selama ini dipotong dalam shalat Jumat, dikembalikan dibaca lengkap.
Bukan soal teknis bacaan, tetapi soal komitmen terhadap apa yang telah diniatkan.
Siapa yang mengubah?
Bukan orang lain. Kita sendiri.
Libur, Rokok, dan Akhlak yang Terkikis
Libur panjang, menurut Syaykh, bukan hanya soal waktu kosong.
Yang paling berat dampaknya adalah perubahan perilaku setelah libur.
Ada anak yang pulang dengan kebiasaan baru.
Ada yang mulai mengenal rokok dilingkungannya.
Syaykh menyebutnya lugas: rokok mengikis akhlak sosial. Perokok tidak lagi mempertimbangkan orang lain.
Karena itu, kebijakan besar diambil. Libur dipindahkan dari Juni ke Februari–Maret.
Bulan Juni digunakan belajar pengganti libur bulan Ramadhan.
Belajar Ramadhan dari tanggal 1–10, belajar di masyarakat (libur) mulai 11 Ramadhan dan masuk kembali 11 Syawal atau 30 Maret. Ujian MTs dimulai 6 April 2026, diambil pada sesi awal.
Semua keputusan itu bukan semata penyesuaian jadwal.
Ia adalah upaya menjaga ruh belajar dan akhlak peserta didik.
Tanah, Tanaman, dan Kemandirian Masa Depan
Qabliyah Jumat itu tidak berhenti pada ruang kelas.
Syaykh menyampaikan kabar strategis: tanah di Subang telah dibayar DP dan diukur seluas 163 hektare.
Sebanyak 20 hektare masih dalam proses penyelesaian, dengan pengecualian kecil pada lahan 2,1 hektare di tepi jalan raya.
Lahan itu akan dikelola terukur. Pada setiap dua puluh hektar, ditanami dua ribu tanaman agar setiap tanaman bisa dirawat dengan baik.
Saung dibuat dari kontainer, maka dibutuhkan delapan unit.
Tangki air disiapkan.
Ke depan, rumah kayu akan dibangun untuk tamu dan pengawas khusus.
Semua itu bukan sekadar pembangunan fisik.
Itu strategi bertahan dan mandiri.
Syaykh mengingatkan:
ke depan, China akan menanam duren secara mandiri. Produk akan membanjiri pasar.
Siapa yang tidak menyiapkan diri dari sekarang, akan tergilas oleh arus.

Epilog: Pendidikan adalah Konsistensi
Qabliyah Jumat itu bukan ceramah normatif.
Ia adalah otokritik, arah, dan peringatan.
Bahwa pendidikan tidak cukup dengan niat baik.
Ia menuntut konsistensi antara rencana dan pelaksanaan, antara nilai dan keberanian mengambil sikap.
Di hadapan para pendidik, Syaykh seolah menegaskan:
masa depan tidak dibangun oleh kalender yang indah,
melainkan oleh manusia yang setia pada janji yang ia buat sendiri. (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah


