Saturday, 07 February 2026

Saat Niat Baik Harus Dinegosiasikan dan Komitmen Mulai Bergeser

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

INDRAMAYU, lognews.co.id - Jum’at, 6 Februari 2026, pukul 10.00 Kalender pendidikan sering disusun dengan perencanaan matang, namun tidak selalu berjalan sesuai rencana ketika bersentuhan dengan realitas sosial. Hal ini menjadi tema utama dalam forum Qabliyah Jumat bersama Syaykh Al Zaytun, yang menghadirkan refleksi mendalam tentang konsistensi, tradisi, dan arah pendidikan ke depan.

Pertemuan tersebut bukan sekadar penyampaian materi keagamaan, tetapi menjadi ruang evaluasi bersama mengenai bagaimana lembaga pendidikan menghadapi dinamika masyarakat tanpa kehilangan pijakan nilai.

Alih-alih menyalahkan faktor luar, pembahasan justru menekankan pentingnya keberanian melihat kelemahan internal dan memperbaikinya.

Kalender Pendidikan dan Tantangan Realitas Sosial

Pembicaraan diawali dari konteks Ramadhan dan bagaimana bulan tersebut ditempatkan dalam sistem pendidikan. Secara konsep, aktivitas pembelajaran dan ibadah telah dirancang berjalan beriringan.

Namun dalam praktiknya, berbagai penyesuaian dilakukan seiring munculnya permintaan dari wali santri, terutama terkait tradisi pulang kampung dan perayaan Idul Fitri bersama keluarga.

Kompromi tersebut dipahami sebagai keputusan yang manusiawi, tetapi memunculkan konsekuensi jangka panjang terhadap stabilitas kalender akademik.

Syaykh menggambarkan kondisi ini sebagai situasi di mana institusi pendidikan masih mengikuti arus realitas sosial, bukan sepenuhnya mengarahkan arah perubahan.

Tradisi Hari Raya dan Pergeseran Makna

Dalam refleksi yang lebih luas, Syaykh mengajak peserta melihat kembali bagaimana tradisi hari raya berkembang di masyarakat.

Ucapan “minal ‘aidin wal faizin” disebut sebagai tradisi lokal yang tumbuh di wilayah Melayu-Indonesia, bukan bagian dari tradisi Arab. Hal ini menunjukkan bahwa praktik keagamaan sering kali dipengaruhi oleh konteks budaya.

Ia juga menyoroti perbedaan atmosfer antara Idul Fitri dan Idul Adha. Jika Idul Fitri dirayakan secara meriah, maka Idul Adha justru terasa kurang semarak, meskipun dalam tradisi Jawa dikenal sebagai riyoyo besar.

Dahulu, masjid menjadi pusat kehidupan sosial. Proses penyembelihan kurban dilakukan oleh orang yang memiliki kompetensi dan adab, yang dikenal sebagai modin, sehingga kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana pendidikan nilai bagi masyarakat.

Otokritik sebagai Bagian dari Kepemimpinan

Forum tersebut juga menghadirkan refleksi personal mengenai kebijakan yang dianggap kurang tepat, termasuk penempatan waktu libur panjang yang dinilai tidak ideal.

Pengakuan ini menegaskan bahwa kepemimpinan pendidikan tidak lepas dari proses belajar dan evaluasi.

Sebagai pengingat moral, Syaykh mengutip ayat Al-Qur’an yang menekankan pentingnya kesesuaian antara ucapan dan tindakan. Pesan ini diarahkan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan, bukan hanya peserta didik.

Bahkan aspek kecil dalam praktik ibadah, seperti pembacaan surat secara utuh dalam shalat Jumat, dijadikan simbol konsistensi terhadap komitmen yang telah ditetapkan.

Libur Panjang dan Perubahan Perilaku Peserta Didik

Salah satu perhatian utama adalah dampak libur panjang terhadap perubahan perilaku peserta didik. Tidak sedikit yang kembali dengan kebiasaan baru yang berbeda dari nilai yang dibangun selama pembinaan.

Contoh yang disinggung adalah kebiasaan merokok yang mulai dikenali sebagian siswa setelah berinteraksi dengan lingkungan luar.

Fenomena ini mendorong peninjauan ulang kalender akademik. Libur panjang dipindahkan ke periode Februari - Maret, sementara bulan Juni digunakan sebagai masa pembelajaran pengganti selama Ramadhan.

Rancangan baru ini diharapkan mampu menjaga kesinambungan pendidikan sekaligus memperkuat pembinaan akhlak.

Menuju Kemandirian: Pendidikan Melampaui Ruang Kelas

Selain membahas sistem akademik, forum tersebut juga memaparkan rencana pengembangan lahan di Subang seluas sekitar 163 hektare sebagai bagian dari strategi kemandirian institusi.

Pengelolaan lahan dilakukan secara bertahap dengan konsep penanaman terukur, pembangunan fasilitas sederhana, serta penguatan basis ekonomi pendidikan.

Langkah ini dipandang sebagai upaya menghadapi perubahan global, termasuk dinamika pasar pertanian yang semakin kompetitif.

Konsistensi sebagai Fondasi Masa Depan Pendidikan

Qabliyah Jumat tersebut menegaskan bahwa pendidikan tidak cukup dengan perencanaan yang rapi di atas kertas. Tantangan sebenarnya terletak pada kemampuan menjaga komitmen di tengah tekanan sosial dan perubahan zaman.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan ditentukan bukan oleh kalender yang ideal, tetapi oleh konsistensi manusia yang menjalankannya. (Sahil untuk Indonesia)