INDRAMAYU, lognews.coo.id - Komitmen sering terdengar sederhana diucapkan, tetapi menjadi berat ketika harus dijalankan. Banyak rencana disusun dengan penuh keyakinan, kalender ditata dengan rapi, dan tujuan dituliskan dengan jelas. Namun dalam perjalanan, tidak sedikit komitmen yang berubah arah ketika berhadapan dengan realitas sosial.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada individu, tetapi juga dalam dunia pendidikan dan kehidupan kolektif. Ketika tradisi, kebiasaan masyarakat, atau tekanan situasi muncul, komitmen yang awalnya tampak kokoh sering kali mengalami penyesuaian.
Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apakah perubahan itu salah, tetapi sejauh mana konsistensi terhadap nilai inti tetap dijaga.
Komitmen dalam Perspektif Al-Qur’an
Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat tegas mengenai keselarasan antara ucapan dan tindakan. Dalam Surah Ash-Shaff ayat 2-3 disebutkan:
یٰۤاَیُّهَا الَّذِیْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?"
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ
Artinya: "Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan.”
Ayat ini bukan sekadar teguran moral, tetapi prinsip fundamental tentang integritas. Komitmen dalam perspektif Qur’ani bukan hanya niat baik, melainkan kesesuaian antara pernyataan, rencana, dan realisasi.
Dalam konteks pendidikan, ayat tersebut menjadi refleksi penting: apakah sistem yang dirancang benar-benar dijalankan, atau hanya berhenti sebagai konsep ideal.
Antara Niat dan Kenyataan
Dalam praktiknya, menjaga komitmen bukanlah hal yang mudah. Manusia hidup di tengah jaringan sosial yang kompleks: keluarga, budaya, tradisi, serta tekanan kolektif yang memengaruhi keputusan.
Sering kali, perubahan kebijakan atau penyimpangan dari rencana awal bukan karena kurangnya niat baik, tetapi karena kebutuhan beradaptasi dengan realitas.
Di sinilah muncul dilema: antara fleksibilitas dan konsistensi.
Islam sendiri mengajarkan keseimbangan antara keduanya. Adaptasi diperlukan, tetapi tidak boleh menghilangkan prinsip dasar yang menjadi landasan.
Istiqamah: Komitmen sebagai Jalan Panjang
Konsep istiqamah dalam Islam menggambarkan komitmen sebagai proses berkelanjutan, bukan keputusan sesaat. Istiqamah bukan berarti tidak pernah berubah, tetapi tetap teguh pada arah meskipun situasi berubah.
Hal ini selaras dengan firman Allah dalam QS Fussilat ayat 30:
اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka…”
Istiqamah menunjukkan bahwa komitmen bukan tentang kesempurnaan, melainkan keberlanjutan usaha menjaga arah.
Pendidikan sebagai Ruang Ujian Komitmen
Dalam dunia pendidikan, komitmen diuji setiap hari. Kalender akademik, program pembinaan, hingga nilai yang ditanamkan kepada peserta didik membutuhkan konsistensi pelaksanaan.
Namun ketika tradisi sosial atau kebiasaan masyarakat berinteraksi dengan sistem pendidikan, sering muncul negosiasi yang tidak mudah.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya proses transfer ilmu, tetapi juga latihan menjaga integritas kolektif.
Komitmen sebagai Akhlak
Pada akhirnya, komitmen bukan sekadar soal manajemen atau disiplin teknis. Ia adalah bagian dari akhlak.
Komitmen mencerminkan amanah kemampuan menjaga janji yang telah dibuat, baik kepada diri sendiri, kepada sesama, maupun kepada nilai yang diyakini.
Tanpa komitmen, rencana hanya menjadi dokumen. Tanpa konsistensi, visi hanya menjadi slogan.
Dan mungkin, di situlah pelajaran terbesar: komitmen tidak diuji ketika segala sesuatu berjalan mudah, tetapi ketika realitas menuntut kita memilih antara kenyamanan dan prinsip. (Sahil untuk Indonesia)


