Saturday, 28 February 2026

Pesan Syaykh Al-Zaytun: Santri Belajar di Masyarakat bukan Liburan

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Oleh : Ali Aminulloh

Disarikan dari Taushiyah Dzikir Jumat oleh Ali Aminulloh

lognews.co.id, Indramayu – Menutup rangkaian ibadah Shalat Jumat di Masjid Rahmatan Lil Alamin (27/02/2026), Syaykh Al-Zaytun menyampaikan taushiyah penting melepas keberangkatan santri yang akan memulai masa belajar di tengah masyarakat. Mulai Sabtu besok, para santri akan menjalani masa cuti pendidikan yang bertepatan dengan momentum bulan suci Ramadhan.

Syaykh menegaskan bahwa momen ini bukanlah libur dari kedisiplinan, melainkan ujian nyata bagi santri untuk tampil sebagai teladan di lingkungan masing-masing.

Kedisiplinan Ibadah: Satu Hari Satu Juz

Selama berada di rumah, santri diinstruksikan untuk menjaga ritme ibadah yang ketat sebagaimana yang sudah berjalan di kampus, terutama dalam tadarrus Al-Qur'an.

- Target: Minimal khatam 30 juz selama sebulan (1 hari 1 juz).

- Manajemen Waktu Tadarrus: Dibagi menjadi tiga sesi; 1/3 juz di waktu pagi, 1/3 juz di siang hari, dan 1/3 juz di malam hari.

- Tarawih: Santri diminta mengikuti shalat tarawih di masjid setempat yang terdidik. Syaykh berpesan agar santri cukup memperhatikan tata cara yang ada tanpa perlu melontarkan komentar yang tidak perlu.

Budaya Literasi: "Satu Buku Selama Liburan"

Waktu luang di bulan Ramadhan tidak boleh terbuang sia-sia. Syaykh mewajibkan setiap santri untuk tetap mengasah intelektualitasnya dengan membaca.

"Gunakan waktu kosong untuk membaca. Paling tidak tuntaskan satu judul buku," pesan Syaykh.

Sekembalinya ke Ma'had nanti, santri diwajibkan melaporkan hasil bacaannya sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik selama masa cuti.

Menjaga Marwah dan Kewaspadaan Sosial

Syaykh memberikan peringatan keras agar santri tidak terpengaruh oleh sisi negatif lingkungan luar.

- Hindari Larangan: Santri wajib menjauhi segala hal yang dilarang oleh Ma'had, terutama ancaman barang-barang terlarang seperti rokok, narkoba yang kini marak menyasar anak muda.

- Etika Lingkungan: Jika melihat sampah berserakan, santri diminta mengambil dan membuangnya ke tempatnya.

- Silaturahmi: Santri didorong mengunjungi kerabat yang tinggal berdekatan untuk mempererat persaudaraan.

- Idul Fitri: Saat lebaran tiba, santri diperbolehkan melaksanakan shalat Id di Masjid Rahmatan Lil Alamin bersama orang tua atau di tempat tinggal masing-masing.

Program Khusus Santri yang Menetap di Ma'had

Bagi santri yang memilih tidak pulang, Ma'had menyediakan ruang kreasi mandiri. Santri diminta menyusun "Kurikulum Mandiri" yang dilaporkan kepada kepala madrasah. Program ini bisa berupa:

- Pendalaman Bahasa Arab atau Bahasa Inggris.

- Latihan intensif membaca Al-Qur'an.

- Studi lapangan melihat proyek-proyek pembangunan Ma'had (seperti di Cijambe atau area internal kampus) dengan izin resmi dari YPI atau LKM.

Peran Guru dan Kedisiplinan Pulang

Majelis guru dan Kepala Madrasah bertanggung jawab penuh dalam membimbing proses kepulangan serta memastikan ketersediaan pembimbing bagi santri yang menetap. Syaykh menutup taushiyah dengan satu pesan tegas: "Jangan telat kembali ke Ma'had." (Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah