lognews.co.id, Houston — Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Senin menyusul meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan global setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. (3/3/26)
Data pasar yang dikutip dari Investing.com menunjukkan harga minyak Brent berjangka naik 6,8 persen ke level USD77,80 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 5,7 persen menjadi USD70,85 per barel. Kenaikan ini menempatkan Brent pada level tertinggi sejak Januari 2025 dan WTI mendekati puncak tertinggi sejak Juni tahun lalu.
Eskalasi konflik dipicu serangkaian serangan militer AS dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan, yang dibalas Teheran dengan serangan rudal ke sejumlah target di kawasan Timur Tengah. Ketegangan tersebut memicu kekhawatiran gangguan distribusi energi, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia.
Analis energi global Macquarie, Vikas Dwivedi, menilai durasi konflik menjadi faktor kunci bagi stabilitas pasar energi. Menurutnya, potensi penghentian arus minyak melalui Selat Hormuz dalam konflik berskala besar dapat memperparah lonjakan harga, meski masih bergantung pada eskalasi lanjutan dan respons geopolitik kedua pihak.
Di sisi lain, kelompok OPEC+ menyepakati peningkatan produksi sekitar 206.000 barel per hari sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kekurangan pasokan. Namun efektivitas kebijakan tersebut masih dipengaruhi dinamika konflik dan kelancaran distribusi global, sehingga volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek. (Amri-untuk Indonesia)



