Friday, 30 January 2026

Penyetaraan Pendidikan Jalan Strategis Membangun Keadilan Ekonomi

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh : Ali Aminulloh

“Siapa yang berjalan di tempat, akan sampai di tempat yang sama.”

Kalimat itu disampaikan Syaykh Al-Zaytun, A.S. Panji Gumilang, S.Sos., M.P., dengan nada tenang namun tegas. Bagi Syaykh, pembangunan Indonesia hari ini, jika terus dijalankan dengan pola yang sama, akan membawa bangsa ini menuju tahun 2045 tanpa lompatan berarti. Bergerak, tetapi tidak benar-benar maju.

Indonesia, menurutnya, sedang berada dalam ilusi gerak. Program berjalan, angka ekonomi tumbuh, namun fondasi peradaban melalui pendidikan belum disentuh secara mendasar. Padahal, cita-cita Indonesia Emas 2045 menuntut perubahan sistemik, bukan sekadar perbaikan di permukaan.

IPM dan Tantangan Menuju Negara Maju

Ukuran negara maju, kata Syaykh, bukan slogan politik, melainkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Angka 85 menjadi penanda kemajuan tinggi. Sementara itu, IPM Indonesia hari ini masih berada di kisaran 74. Ada jarak 11 poin yang mustahil dikejar dengan cara-cara pembangunan seperti sekarang.

Beragam program bantuan sosial memang penting untuk menjaga daya tahan masyarakat. Namun tanpa transformasi pendidikan secara menyeluruh, program tersebut hanya membuat bangsa ini bertahan, bukan melompat ke tingkat kemajuan baru.

Satu Jalan Strategis: Pendidikan yang Merata

Dalam pandangannya, Indonesia hanya memiliki satu jalan strategis jika ingin benar-benar maju: membangun pendidikan yang merata, seragam mutunya, dan tersebar di seluruh daerah. Syaykh menggagas pendirian sekitar 500 sentra pendidikan berasrama di seluruh Indonesia, dengan ukuran, kualitas, dan kurikulum yang sama.

Seluruh peserta didik tinggal di dalamnya dan memperoleh beasiswa penuh selama 15 hingga 16 tahun. Pendidikan ditempatkan sebagai investasi peradaban, bukan sekadar pos anggaran tahunan.

Syaykh Simposium 30 pendidikan solusinya

Pendidikan sebagai Penggerak Ekonomi Daerah

Syaykh membedakan antara Produk Domestik Bruto (PDB) dan pertumbuhan ekonomi dengan analogi sederhana. PDB adalah hasil panen yang bisa dimakan, sementara pertumbuhan ekonomi adalah proses penyebaran hasil panen itu ke berbagai wilayah.

Dengan pendidikan yang tersebar di 500 daerah, dana pendidikan triliunan rupiah akan berputar langsung di kabupaten-kabupaten. Daerah yang selama ini hanya menjadi penonton pembangunan akan berubah menjadi pusat aktivitas ekonomi baru. Inilah belanja produktif yang dinilai mampu mengoreksi ketimpangan struktural.

Mengaitkan Pendidikan dan Ekonomi Berkeadilan

Ahad, 28 Desember 2025, Syaykh Al-Zaytun memberikan penggulungan singkat terhadap materi yang disampaikan oleh Prof. Buyung Sarita, SE., M.Si., Ph.D., Guru Besar Ekonomi dan Bisnis Universitas Halu Oleo Kendari. Prof. Buyung memaparkan tema kesetaraan pendidikan dan pertumbuhan ekonomi negara sebagai dua agenda yang tidak dapat dipisahkan.

Menanggapi hal tersebut, Syaykh menegaskan bahwa kesetaraan pendidikan bukan hanya tuntutan moral, tetapi strategi ekonomi. Ketika pendidikan merata, pertumbuhan ekonomi akan bergerak secara adil. Sebaliknya, ketimpangan pendidikan hampir pasti melahirkan ketimpangan ekonomi.

Kurikulum L-STEAMS: Mendidik Akal dan Karakter

Seluruh sentra pendidikan dirancang menggunakan kurikulum L-STEAMS—Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, dan Spiritual. Kurikulum ini tidak hanya menyiapkan kecakapan akademik, tetapi juga membentuk karakter, etika, kreativitas, dan kesadaran spiritual.

Negara hadir penuh dalam pembiayaan pendidikan. Buku, guru, asrama, hingga kebutuhan dasar peserta didik ditanggung bersama. Dengan skema ini, tidak ada lagi anak yang terpaksa putus sekolah karena kemiskinan atau keterbatasan ekonomi keluarga.

syyakh simposium 30 pemirsa

Proyeksi Pertumbuhan: Jalan Bertahap Menuju Lompatan Ekonomi

Syaykh memaparkan proyeksi pertumbuhan ekonomi secara bertahap dengan asumsi program pendidikan berasrama dijalankan secara konsisten.

Tahun 2026 menjadi fase awal penataan. Pembangunan dan operasional sentra pendidikan mulai berjalan di berbagai daerah. Perputaran anggaran pendidikan mulai menyentuh kabupaten-kabupaten yang selama ini minim belanja produktif. Pada tahap ini, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan mencapai 5,5 persen.

Memasuki tahun 2027, dampak ekonomi mulai terasa lebih luas. Infrastruktur pendidikan telah berfungsi, tenaga pendidik terserap, dan aktivitas ekonomi pendukung tumbuh di sekitar sentra pendidikan. Distribusi fiskal menjadi lebih merata. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat menjadi 6,2 persen.

Pada tahun 2028, Indonesia memasuki fase akselerasi. Sistem pendidikan telah berjalan stabil, dan lulusan awal pendidikan terapan mulai produktif. Efek pengganda dari belanja pendidikan semakin kuat, mendorong sektor jasa, UMKM, dan ekonomi lokal. Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan mencapai 7,1 persen.

Puncaknya terjadi pada tahun 2029. Lulusan terdidik hadir sebagai tenaga produktif, pengelola usaha, dan penggerak koperasi daerah. Distribusi ekonomi semakin seimbang antarwilayah. Pada fase ini, pertumbuhan ekonomi nasional diproyeksikan menembus angka 8 persen.

Syaykh menekankan bahwa capaian ini bukan hasil kebijakan instan, melainkan buah dari investasi besar di sektor pendidikan. Dana pendidikan sekitar 3.000 triliun rupiah selama lima tahun menciptakan perputaran dana sekitar 6 triliun rupiah per kabupaten per tahun, atau 30 triliun rupiah dalam lima tahun di setiap daerah.

Koperasi dan Kedaulatan Ekonomi Bangsa

Sebagai penutup, Syaykh menekankan pentingnya membangun koperasi sejati, 

bukan koperasi semu yang hanya menjadi perpanjangan tangan perbankan. Koperasi harus dikelola oleh manusia terdidik, amanah, dan bebas korupsi. Dengan pendidikan yang merata, pusat-pusat koperasi akan tumbuh alami di setiap sentra pendidikan.

Di sinilah pendidikan menemukan makna tertingginya: bukan hanya mencerdaskan, tetapi membebaskan dan memandirikan bangsa. Dari ruang-ruang kelas berasrama itulah, jalan menuju Indonesia Emas 2045 mulai dirancang secara pelan, terukur, dan berakar kuat pada manusia terdidik.