Friday, 30 January 2026

Jika Bumi Menangis dan Hidup Kita Tetap Sama, Bukankah Itu Kerugian?

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh: Ali Aminulloh (Refleksi Tahun Baru 2026)

lognews.co.id - Awal tahun sering kita sambut dengan resolusi pribadi: target karier, kesehatan, finansial, dan gaya hidup. Namun tahun 2025 memberi kita pelajaran yang jauh lebih keras. Bencana alam datang silih berganti seperti banjir, longsor, gempa yang melanda Sumatera Utara, Sumatera Barat, Aceh, dan sejumlah wilayah lain. Alam seakan berbicara dengan bahasa yang paling tegas: ada yang salah dengan cara manusia menjalani hidupnya.

Di titik inilah resolusi tidak lagi cukup dimaknai sebagai urusan individual. Ia harus naik kelas menjadi kesadaran kolektif.

Al-Qur’an sejak lama mengarahkan manusia pada kesadaran tersebut. Dalam doa para ulul albab disebutkan:

 “Rabbana mā khalaqta hāżā bāṭilā, subḥānaka faqina ‘ażāban-nār.”

“Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali ‘Imran: 191)

Ayat ini lahir dari perenungan mendalam atas ciptaan Allah. Alam tidak pernah diciptakan tanpa makna. Maka ketika alam rusak dan murka, problemnya bukan pada ciptaan, melainkan pada cara manusia memperlakukannya.

Peringatan itu ditegaskan lagi dalam firman Allah:

 “Ẓaharal-fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aidin-nās, liyużīqahum ba‘ḍal-lażī ‘amilū la‘allahum yarji‘ūn.”

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini memberi kunci penting: bencana bukan semata hukuman, melainkan peringatan agar manusia sadar dan kembali. Kata la‘allahum yarji‘ūn menunjukkan tujuan ilahiah untuk membangkitkan kesadaran.

Di sinilah resolusi menemukan maknanya yang paling dalam. Resolusi bukan sekadar daftar target, melainkan jawaban moral atas peringatan zaman. Apalagi Islam sejak lama mengajarkan bahwa stagnasi adalah kerugian. Ungkapan masyhur yang dinisbatkan kepada Hasan al-Basri menegaskan:

hari ini sama dengan kemarin adalah rugi, lebih buruk adalah celaka, dan lebih baik adalah beruntung.

Jika bencana terus berulang, tetapi cara berpikir dan sistem pendidikan kita tetap sama, maka secara kolektif manusia sedang berada pada posisi merugi.

Kesadaran inilah yang coba dibaca dan dijawab oleh Syaykh Al-Zaytun, Syaykh AS Panji Gumilang, melalui gagasan pendidikan kontemporer. Ia menekankan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada transfer ilmu, tetapi harus menumbuhkan trilogi kesadaran: kesadaran filosofis, kesadaran ekologis, dan kesadaran sosial.

Kesadaran filosofis membuat manusia mampu bertanya tentang makna hidup dan arah peradaban. Kesadaran ekologis menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap alam sebagai amanah, bukan objek eksploitasi. Sementara kesadaran sosial melahirkan empati, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama manusia.

Inilah bentuk resolusi yang melampaui ego pribadi. Resolusi yang tidak hanya bertanya “apa yang ingin aku capai?”, tetapi lebih dalam lagi: “dunia seperti apa yang ingin kita wariskan?”

Pesan itu terumus indah dalam hymne Politeknik Al Zaytun:

“Menanam kesadaran, menumbuhkan kemanusiaan.”

Sebab hanya dari kesadaranlah lahir peradaban yang beradab. Dan hanya dari kemanusiaanlah muncul dunia yang saling menjaga.

Maka hakikat resolusi 2026 bukan sekadar hidup lebih sukses, tetapi hidup lebih sadar. Sadar bahwa alam bukan milik kita. Sadar bahwa penderitaan sesama adalah tanggung jawab bersama. Sadar bahwa perubahan kecil yang konsisten lebih bermakna daripada slogan besar tanpa tindakan.

Jika kesadaran itu tumbuh, barulah cita-cita Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin menemukan wujudnya: dunia yang saling menjaga, bukan saling merusak. (Amri-untuk Indonesia)