Friday, 30 January 2026

Mengapa Kebangkitan Ekonomi Bangsa, lahir dari Pendidikan Berasrama?

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh Dr. Ali Aminulloh, S.Ag. M.Pd.I. ME.

lognews.co.id - Kita sering membayangkan kemajuan ekonomi lahir dari deru mesin pabrik atau gedung-gedung pencakar langit yang dingin. Namun, bagaimana jika rahasia Indonesia Emas justru tersembunyi di balik kesahajaan asrama? Di tempat di mana waktu seolah melambat untuk membentuk manusia, namun sebenarnya sedang memacu lompatan peradaban yang paling cepat. Inilah paradoks pendidikan kita: untuk melahirkan masyarakat modern abad ke-21 yang kompetitif, kita perlu kembali ke akar pendidikan yang intensif dan berkarakter.

1000284669

Di tengah riuhnya diskusi tentang digitalisasi, Pondok Pesantren Al-Zaytun tetap teguh pada jalannya. Institusi ini konsisten melakukan transformasi melalui pelatihan berkelanjutan bagi para pelaku didik. Mengusung tema besar "Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama Menuju Indonesia Modern Abad XXI dan 100 Tahun Kemerdekaan Indonesia", pelatihan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah ikhtiar intelektual yang panjang.

Pada Sabtu, 4 Januari 2026, suasana di Kampus AL-Zaytun kembali membahana. Pelatihan yang telah memasuki sesi ke-31 ini menghadirkan sosok yang mampu membedah pendidikan dari kacamata yang tak biasa: Prof. Dr. A. Jajang W. Mahri, M.Si. Seorang Guru Besar Ekonomi dan Bisnis Islam dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Pendidikan: Mesin Pertumbuhan yang Tersembunyi

Dalam paparannya, Prof. Jajang membawa sebuah pesan yang menggetarkan: "Bangsa besar tidak dilahirkan hanya oleh pertumbuhan angka, tetapi kualitas manusia." Baginya, ekonomi bukan sekadar soal GDP atau investasi asing. Ekonomi adalah tentang manusia yang terdidik secara adil.

Ada kegelisahan yang ia sampaikan mengenai ketimpangan. Pendidikan di rumah sering kali menjadi "kurikulum tersembunyi" yang melanggengkan kemiskinan. Anak dari keluarga mampu mendapatkan stimulasi luar biasa di rumah, sementara anak dari keluarga miskin harus berjuang bahkan untuk sekadar belajar. Di sinilah pendidikan berasrama atau pesantren masuk sebagai penyelamat.

"Sekolah berasrama adalah great equalizer, penyama kedudukan yang agung," ungkap Prof. Jajang. Dengan sistem asrama, negara (atau lembaga) mengambil alih peran lingkungan untuk memastikan setiap anak, dari latar belakang ekonomi apa pun, mendapatkan kualitas nutrisi, disiplin, dan stimulasi intelektual yang setara selama 24 jam sehari.

1000284666

Lima Pilar Menuju Indonesia Emas

Prof. Jajang tidak hanya datang dengan teori, ia menyodorkan lima pilar sekolah unggul yang harus menjadi fondasi menuju 100 tahun Indonesia Merdeka. Pilar-pilar tersebut mencakup mutu dan keunggulan, karakter dan akhlak, pemerataan wilayah, inklusivitas sosial, hingga kemitraan strategis antara pesantren dan negara.

Ia memuji bagaimana pesantren, termasuk Al-Zaytun, telah menjaga ilmu dan akhlak ketika sistem pendidikan formal sering kali kehilangan ruh nilai-nilainya. Pesantren bukan lagi sekadar tempat belajar agama dalam arti sempit, melainkan laboratorium peradaban yang menyiapkan manusia untuk memimpin dan mengabdi.

1000284674

Belajar dari Pesantren

Jika teori pembangunan sering terjebak pada cara keluar dari kemiskinan, maka pendidikan berasrama memberikan bukti nyata tentang bagaimana sebuah bangsa bisa bangkit. Prof. Jajang menekankan bahwa negara tidak perlu mencari model baru yang asing; negara cukup belajar dari pesantren.

Filosofi pendidikan yang memanusiakan manusia, yang membentuk disiplin secara organik, dan yang menanamkan tanggung jawab sosial adalah modal utama untuk memutus rantai kemiskinan struktural.

Menutup sesinya, Sang Profesor memberikan sebuah refleksi mendalam. Jika hari ini kita berani menanamkan investasi besar pada pendidikan berasrama yang berkualitas, maka Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekadar slogan politik. Ia akan menjadi buah nyata dari ikhtiar peradaban yang sedang dirajut di ruang-ruang kelas dan asrama hari ini.

Sejarah mungkin akan mencatat bahwa lompatan besar ekonomi Indonesia tidak dimulai dari bursa saham, melainkan ketika negara mulai belajar dari ketulusan dan disiplin sebuah pesantren. Dan Al-Zaytun, melalui pelatihan ke-31 ini, baru saja menegaskan posisinya sebagai lokomotif transformasi tersebut.(Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata untuk beribadah kepada Allah