Friday, 30 January 2026

PKBM Al Zaytun: Ketika Lockdown Mengunci Dunia, Ibu-Ibu Ini Justru Membuka Masa Depan

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Oleh Sri Wahyuni, S.Pd

Apa yang lahir dari keterbatasan sering kali justru melampaui rencana besar

lognews.co.id, Indonesia - Saat pandemi menutup pintu-pintu dunia, sekelompok istri civitas Ma’had Al Zaytun justru membuka jendela harapan, bukan hanya untuk diri mereka, tetapi untuk ratusan perempuan lain yang nyaris terlupakan oleh sistem pendidikan.

Tepat memasuki usia ke-6, Paguyuban Istri Peduli (PIP) menggelar refleksi. Sebuah perhimpunan yang lahir bukan dari ambisi, melainkan dari kebutuhan paling mendasar manusia: saling menguatkan di masa sulit.

1000302896

Paguyuban ini berdiri di masa Covid-19 tahun 2020, ketika Ma’had menerapkan kebijakan lockdown demi menjaga keberlangsungan pembelajaran dengan konsep new normal. Dunia seolah berhenti. Aktivitas dibatasi. Jarak menjadi norma. Namun di balik pembatasan itu, lahir satu kesadaran: solidaritas tak boleh ikut dikarantina.

Dari Ta’awuniyah ke Gerakan Sosial

Keluarga besar civitas Ma’had adalah satu kesatuan. Nilai saling menghargai, saling menopang, dan peduli satu sama lain bukan sekadar jargon. Ia menemukan wujud nyatanya ketika PIP dibentuk dengan pembina dan pengurus yang juga tutor dan warga belajar PKBM Al Zaytun, serta didampingi oleh istri Direktur PKBM, Ibu Dewi Nusantari, sebagai pembina. Sedangkan pembina utamanya Ust. Suwandi, S.Pd. Ust. Hartono, S.Pd. M.Pd. Ust. Khairun Bilal, SH. dan Ust. Joko Sairan, SH. MH. Kesemuanya adalah alumni PKBM Al Zaytun yang hari ini menjadi tutor dan penggerak PKBM.

Ikatan itu terasa hangat. Kekeluargaan tumbuh bukan hanya dalam suka, tetapi juga duka. PIP bergerak di bidang sosial: menjenguk yang sakit, membantu yang kesulitan. Di bidang ekonomi: bekerja sama dalam usaha, berbagi peluang. Dan perlahan, sebuah kesadaran baru muncul: pendidikan adalah kunci yang lama tertinggal di genggaman para ibu.

Percakapan Kecil yang Mengubah Arah Sejarah

Menengok ke belakang, PKBM Al Zaytun sejatinya sudah berjalan sejak 2019 di Gedung Tansri-Al Zaytun. Namun jumlah warga belajar tak pernah benar-benar melonjak. Hingga suatu hari, percakapan ringan dua tutor mengusik nurani.

 “Bu, sepertinya tahun ini kita terakhir ngajar di sini,”

“Lah, memangnya kenapa?”

“Yang daftar makin sedikit. Mungkin sudah habis yang belum sekolah…”

Kalimat itu terdengar sepele. Tapi ia menyisakan kegelisahan. Data berbicara lain. Alumni PKBM dari keluarga karyawan Al Zaytun baru sekitar 180 orang. Warga belajar aktif kurang dari 100. Padahal anggota Paguyuban mencapai 500 orang. Artinya jelas: masih banyak yang belum tersentuh pendidikan. Dari kegelisahan itulah PIP bergerak.

Data, Kesadaran, dan Keberanian Bergerak

Pendataan dilakukan. Nama, usia, profesi, keterampilan, hingga status pendidikan dicatat rapi. Data itu lalu dipetakan: ekonomi dan pendidikan. Kelompok-kelompok profesi dibentuk: tani, ternak, menjahit, memasak, berdagang, mengajar.

Semua dilebur dalam satu muara: penguatan ekonomi. Kecuali satu kelompok, yaitu profesi mengajar.

Dari data itulah terlihat kenyataan pahit: masih banyak ibu-ibu pendidik yang belum menuntaskan pendidikan setara SLA. Konsultasi dilakukan dengan pembina paguyuban. Solusinya sederhana, tapi berdampak besar: mendirikan satuan pendidikan PKBM.

Tempat belajar dimulai dari kantor Paguyuban di Gantar. Antusiasme luar biasa. Kelas bertambah. Tutor ditambah dari alumni IAI. Gelombang pendaftar datang hingga dari Haurgeulis. PKBM Gantar pun lahir bukan dari proyek, tapi dari kebutuhan.

“Dekatkan dengan Almamater”

Ketika kebutuhan ruang membesar, usulan diajukan ke Direktur Utama PKBM Al Zaytun, Ustadz Ali Aminullah. Arahan beliau, setelah disampaikan kepada Syaykh, sederhana namun visioner:

 “Dekatkanlah dengan almamater.”

PKBM Gantar dipersilakan menempati Gedung Tansri. Sebuah kebijakan yang awalnya membuat sebagian ibu ragu. Jarak menjadi alasan lama. Namun perlahan mereka memahami: pendidikan memang menuntut perjuangan. Dan mereka bertahan.

Sekolah yang Menghidupkan, Bukan Sekadar Mengajar

Waktu berjalan. PKBM berpindah ke Gedung Bazar. Paguyuban dan PKBM melangkah seiring. Pembelajaran tak lagi terbatas di kelas. Ada seni gamelan di Masjid RMLA, senam bersama, keterampilan pertanian, batik, hingga panggung ekspresi seni: tari, puisi, drama, pantun.

1000302900

Warga belajar tak hanya belajar: mereka hidup, tumbuh, dan percaya diri.

Motivasi tutor dan warga belajar semakin menguat ketika diingatkan: akreditasi PKBM masih B karena minim prestasi. Maka lomba-lomba diikuti. Kegiatan diperluas. Jejaring dibangun. Pejabat kabupaten hadir. Bupati memberi apresiasi. PKBM Al Zaytun dinobatkan sebagai PKBM terbaik se-Kabupaten Indramayu.

Akhirnya, Akreditasi A Unggul

Akhir 2025, usaha panjang itu berbuah. PKBM Al Zaytun resmi meraih Akreditasi A Unggul.

Sebuah capaian luar biasa: hasil kerja kolektif tutor dan warga belajar, di bawah bimbingan Direktur PKBM. Dari percakapan kecil, lahir perubahan besar. Dari paguyuban sederhana, tumbuh gerakan pendidikan yang mengakar.

1000302891

Refleksi: Perubahan besar diawali dari "peduli" 

Enam tahun PIP mengajarkan satu hal penting: perubahan besar tak selalu dimulai dari gedung megah atau kebijakan tinggi, tetapi dari empati, ketulusan, dan keberanian untuk peduli.

Saat dunia terkunci oleh pandemi, ibu-ibu ini justru membuka pintu masa depan. Ini membuktikan bahwa pendidikan, jika digerakkan dengan hati, akan selalu menemukan jalannya. Dan mungkin, di situlah makna sejati dari kepedulian.(Amri-untuk Indonesia) 

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah