Oleh : Ali Aminulloh
lognews.co.id - Air itu turun dari langit tanpa dendam. Ia datang sebagai rahmat, bukan ancaman. Namun mengapa kini, setiap hujan lebat selalu disambut kecemasan? Mengapa bunyi rintik di atap berubah menjadi isyarat bahaya? Barangkali karena yang sesungguhnya tenggelam bukanlah kota dan desa, melainkan kesadaran manusia sendiri.
Secara ilmiah, apa yang terjadi hari ini bukan kebetulan. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan tren yang jelas dan konsisten: frekuensi hujan ekstrem di Indonesia meningkat dalam empat dekade terakhir. Jumlah hari hujan dengan intensitas tinggi: di atas 50 mm per hari, mengalami kenaikan signifikan di banyak wilayah. Bahkan akumulasi hujan dalam periode singkat (3–7 hari) kini jauh lebih besar dibandingkan masa lalu. Artinya, hujan tidak lagi turun perlahan dan merata, tetapi jatuh sekaligus dalam volume besar.
Sains iklim menjelaskan mekanismenya dengan gamblang. Pemanasan permukaan laut meningkatkan penguapan. Uap air yang berlebih membentuk awan konvektif yang cepat tumbuh dan sarat muatan. Ketika dilepaskan, hujan turun deras dalam waktu singkat. Fenomena global seperti La Niña, MJO, dan anomali suhu laut memperkuat kondisi ini. Alam bekerja sesuai hukumnya. Yang tidak bekerja sesuai hukum adalah sistem manusia.
Banjir hari ini tidak hanya terjadi di wilayah yang sejak dulu rawan. Daerah-daerah yang puluhan tahun relatif aman kini ikut terendam. Banjir datang tidak lagi patuh pada kalender musim. Ia hadir di awal, tengah, bahkan di luar puncak musim hujan. Di hulu, banjir bandang dan longsor meningkat akibat tanah jenuh dan hutan yang kehilangan fungsi. Di hilir, kota-kota padat menghadapi genangan yang lebih cepat datang dan lebih lama surut. Ini bukan anomali cuaca sesaat, melainkan pola baru iklim yang bertemu dengan tata ruang yang rapuh.
Namun sains saja tidak cukup untuk memahami kedalaman persoalan ini. Al-Qur’an sejak lama telah memberi kunci makna: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.” (QS. Ar-Rum: 41). Ayat ini tidak menunjuk langit sebagai biang masalah, melainkan tangan manusia: keputusan, kebijakan, dan cara hidup yang mengabaikan keseimbangan.
Air, dalam Al-Qur’an, adalah sumber kehidupan. “Dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.” Tetapi dalam sejarah kenabian, air juga menjadi peringatan ketika amanah dikhianati. Kisah Nabi Nuh mengajarkan bahwa air yang sama bisa menjadi keselamatan atau kehancuran. Maka hari ini, hujan yang turun adalah rahmat; banjir yang terjadi adalah akibat dari cara manusia memperlakukan rahmat itu.
Di titik inilah gagasan Trilogi Kesadaran yang digagas Syaykh AS Panji Gumilang menemukan relevansinya yang paling nyata. Pertama, kesadaran filosofis. Banjir memaksa kita bertanya ulang: untuk apa pembangunan dilakukan jika ia justru merusak ruang hidup? Tanpa kesadaran filosofis, kemajuan berubah menjadi perlombaan menumpuk beton, bukan upaya merawat kehidupan.
Kedua, kesadaran ekologis. Data curah hujan ekstrem seharusnya diimbangi dengan kebijakan yang menghormati daya dukung alam. Hutan adalah spons, rawa adalah penyangga, sungai adalah sistem kehidupan. Ketika semua dipersempit, ditutup, dan dieksploitasi, air kehilangan ruangnya. Maka ia mengambil kembali ruang itu dengan caranya sendiri.

Ketiga, kesadaran sosial. Banjir selalu lebih kejam kepada mereka yang paling rentan. Warga miskin kota, masyarakat pesisir, dan penduduk bantaran sungai menanggung risiko terbesar dari keputusan yang sering kali tidak melibatkan mereka. Di sini, banjir bukan hanya bencana alam, tetapi cermin ketidakadilan struktural.
Refleksinya menjadi terang: banjir hari ini adalah pertemuan antara data yang berteriak dan kesadaran yang terlambat. Alam telah memberi sinyal melalui statistik, grafik, dan kejadian nyata. Wahyu telah memberi peringatan melalui ayat-ayat-Nya. Tinggal satu pertanyaan tersisa: apakah manusia bersedia kembali?
Jika trilogi kesadaran: filosofis, ekologis, dan sosial, tidak segera menjadi landasan kebijakan dan perilaku, maka banjir akan menjadi kurikulum tetap peradaban kita. Ia akan mengajar dengan cara yang mahal: kerugian ekonomi, penderitaan sosial, dan kehilangan kemanusiaan.
Namun jika kita mau belajar, air akan kembali menjadi rahmat.
Karena pada akhirnya, bukan hujan yang perlu dihentikan,
melainkan kesadaran manusia yang harus dibangunkan.
(Amri-untuk Indonesia)


