Oleh: Sri Wahyuni, S.Pd.
lognews.co.id, Indramayu - Matahari pagi itu seolah kalah terang dengan semangat yang terpancar dari Gedung Bazar. Di tengah musim penghujan, langit justru menyuguhkan biru yang bersih, menyambut deretan kerudung merah, biru, dan oranye yang mulai memadati ruangan. Hari itu bukan sekadar upacara pembukaan pembelajaran PKBM biasa; hari itu adalah panggung pembuktian bagi mereka yang menolak menyerah pada usia dan keterbatasan.
Dari Teguran Menjadi Kekuatan
Hanya tiga pekan berselang sejak sebuah komentar jujur terlontar dari Pembina PKBM, Ustadz Khoerun, S.H. Kala itu, persiapan yang minim membuat penampilan petugas upacara terasa kurang maksimal. "Harus dipersiapkan lagi, ya... karena terlihat kurang siap," kenang para warga belajar (WB) akan teguran halus tersebut.
Namun, alih-alih ciut, teguran itu justru menjadi bahan bakar. Di bawah komando Ibu Sarmi selaku ketua kelas C2, tim petugas yang terdiri dari Ibu Nurbaiti (MC), Ibu Ramini (Dirigen), serta tim pembaca Sapta Janji tiga bahasa (Ibu Sarmi, Ibu Rihatun, dan Ibu Karsih) memutuskan untuk menempa diri.

Melampaui Ruang Kelas
Semangat mereka meledak di luar jam formal. Tak cukup dengan latihan usai senam kejasmanian, mereka sepakat menambah jam terbang dengan berlatih di kediaman tutor mereka, Ustadzah Nurdiana.
"Latihan semua saja Ustadzah, agar semuanya bisa!"
Kalimat itu meluncur dari bibir mereka saat ditanya siapa yang ingin fokus berlatih. Sebuah mentalitas juara yang jarang ditemukan: mereka tidak hanya ingin sekadar "tampil", tapi ingin "menguasai".
Panggung Pembuktian
Pukul 08.15 WIB, pembuktian itu tiba. Suara lantang MC membelah ruangan, diikuti gerakan tangan Ibu Ramini yang presisi memimpin lagu Indonesia Raya. Yang paling memukau adalah pembacaan Sapta Janji dalam bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris yang mengalir fasih tanpa celah. Bahkan, salah satu petugas yang awalnya didera grogi berat, nyatanya mampu menguasai panggung dengan sangat apik.
Ustadz Khoerun tak dapat menyembunyikan apresiasinya. "Warga belajar yang bertugas hari ini sudah bagus sekali," pujinya yang langsung disambut riuh tepuk tangan bahagia.

Pesan untuk Masa Depan
Dalam arahannya, Ustadz Khoerun mengingatkan bahwa ilmu bukan hanya soal teks di buku, tapi tentang aplikasi nyata seperti pembibitan tanaman dan pengolahan pangan yang sedang mereka tekuni. Menjelang Tes Kompetensi Akademis (TKA) pada 14 Maret mendatang, para ibu ini telah membuktikan satu hal: Usaha tidak pernah mengkhianati hasil.
Refleksi pagi itu sederhana namun mendalam: belajar tak terbatas oleh ruang kelas, usia, maupun bidang akademis. Kita belajar dari ibu ibu warga belajar PKBM: Selama ada ketekunan dan kemauan untuk bangkit dari kegagalan, siapa pun bisa menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah




