lognews.co.id, Indramayu – Tradisi Ngarot di Desa Lelea kaya filosofi moral melalui baju pangsi hitam dan bunga kenanga segar, ajarkan kasinoman bagi generasi muda petani. Ritual syukur panen Sunda ini lestari sejak abad ke-17, cegah degradasi moral di era digital dengan simbol kesucian dan kerja keras. Elemen upacara yang digunakan sarat akan makna agraris, digelar Rabu ketiga Desember sebagai doa keselamatan musim tanam.
Ngarot berasal dari bahasa Sunda "nga-rot" (minum/syukur) dan Sanskerta "ngaruat" (bebaskan kutukan), simbol pembebasan bencana pertanian. Arak-arakan gadis berbunga dan jejaka berpangsi menuju balai desa diiringi gamelan, puncak doa tetua adat. Tradisi ini bekal pendidikan karakter: gadis jaga kehormatan, jejaka rajin bertani gotong royong.
Pelarangan pada Rabu Kliwon tunjuk disiplin adat demi keselamatan, relevan lestari budaya Indramayu.
Makna Filosofi Baju Pangsi Jejaka
Baju pangsi sederhana wajib dikenakan jejaka, simbol pria tangguh petani:
- Hitam Tanah Subur: Wakili kesuburan sawah, kesiapan cangkul gotong royong.
- Potongan Longgar: Kebebasan gerak di ladang, dorong semangat lelakoné.
- Ikat Pinggang Kain: Kekuatan fisik tolak kemalasan regenerasi pertanian.
Filosofi ini tanam disiplin dan tanggung jawab sosial sejak usia muda.
Simbol Bunga Kenanga Gadis Ngarot
Bunga kenanga segar di kepala gadis melambangkan kesucian jiwa sinom (muda):
- Aroma Harum: Hati murni, layu jika hilang kehormatan mitos pengingat martabat.
- Warna Kuning Cerah: Pandai tanam padi sambil pertahankan kesegaran perempuan.
- Posisi di Kepala: Pikiran bijak untuk kasinoman generasi enom.
Bunga dipetik pagi, metafor hidup alami bermoral tinggi.
Relevansi Modern dan Ajakan Lestarikan
Prosesi gamelan simbol harmoni alam, arak-arakan kebersamaan desa, selain itu Ngarot juga diharapkan dapat mencegah degradasi moral pemuda urban melalui simbol visual ini. (Amri-untuk Indonesia)


