Wednesday, 04 February 2026

Ki Warsad Dan Sanggar Jaka Baru Menjaga Warisan Wayang Cepak Indramayu

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, IndramayuKesenian wayang cepak dan tari topeng pernah berkembang pesat di wilayah Kabupaten Indramayu, Kabupaten dan Kota Cirebon, serta daerah sekitarnya. Seiring perubahan zaman dan gaya hidup masyarakat, jumlah sanggar seni budaya tersebut kini semakin berkurang, meskipun sebagian kecil tetap bertahan menjaga warisan budaya daerah. (13/1/26)

Salah satu sanggar yang masih bertahan adalah Sanggar Jaka Baru yang berlokasi di Desa Gadingan, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu. Sanggar tersebut masih terawat dan menjadi tempat pembuatan ratusan kerajinan wayang cepak serta topeng khas Indramayu dan Cirebon.

Pendiri Sanggar Jaka Baru, Ki Warsad Darya, yang kini berusia 87 tahun, menceritakan perjalanan panjangnya dalam melestarikan seni budaya wayang cepak. Ia mendirikan sanggar tersebut sekitar tahun 1964, di tengah kondisi sosial masyarakat yang saat itu belum stabil.

Ki Warsad menjelaskan bahwa pendirian sanggar tidak berkaitan dengan situasi politik pada masa itu, melainkan berawal dari pengalaman pribadinya sebagai dalang. Ia memulai karier mendalang pada tahun 1962 dengan menyewa wayang milik kerabatnya sebelum akhirnya memutuskan membuat wayang sendiri dan mendirikan sanggar.

Nama Sanggar Jaka Baru diambil dari status Ki Warsad yang saat itu masih lajang. Sebelum memiliki sanggar sendiri, ia tampil mendalang tanpa membawa nama kelompok dan menggunakan perlengkapan pinjaman.

Pada periode 1964 hingga 1970, Sanggar Jaka Baru mengalami masa kejayaan dengan jumlah pementasan mencapai 100 hingga 150 kali dalam setahun. Ki Warsad mengaku sering berpindah dari satu lokasi pementasan ke lokasi lain tanpa sempat beristirahat, bahkan menempuh perjalanan jauh dalam waktu singkat.

Hampir seluruh wilayah Kabupaten Indramayu pernah menjadi lokasi pementasan Sanggar Jaka Baru. Pada masa itu, rombongan sanggar menggunakan sepeda dan pedati sebagai alat transportasi, sebelum kemudian beralih menggunakan oplet seiring perkembangan zaman.

Pada awalnya, Sanggar Jaka Baru menerima bayaran berupa hasil pertanian, yaitu sekitar lima kuintal padi kering untuk pementasan di desa sendiri dan desa tetangga, serta tujuh kuintal padi untuk wilayah yang lebih jauh. Memasuki era modern, pembayaran dilakukan dengan uang tunai dengan kisaran Rp10 juta hingga Rp15 juta per pementasan.

Sanggar Jaka Baru juga telah tampil di berbagai daerah di Pulau Jawa, termasuk Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal, Subang, Bandung, dan Yogyakarta. Selain itu, sanggar ini pernah tampil di Jepang pada ajang Asian Games 1994 di Hiroshima, yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi Ki Warsad dan para pelaku seni.

Memasuki era modern, jumlah pementasan Sanggar Jaka Baru terus menurun. Sejak tahun 2018, Ki Warsad berhenti mendalang karena kondisi kesehatan dan faktor usia. Peran dalang kini diteruskan oleh anak-anaknya sebagai upaya menjaga kesinambungan seni wayang cepak.

Saat ini, Sanggar Jaka Baru hanya melaksanakan sekitar 15 pementasan dalam satu tahun. Selain pementasan, sanggar juga mempertahankan keberlangsungan usaha melalui penjualan kerajinan wayang cepak, topeng, dan berokan khas Indramayu-Cirebon.

Pada Januari 2026, Sanggar Jaka Baru dijadwalkan mengirim dua paket wayang cepak ke Yogyakarta untuk kemudian dikirim ke Amerika Serikat. Hal tersebut menunjukkan bahwa karya seni tradisional Indramayu masih memiliki nilai dan daya tarik di tingkat internasional.

Ki Warsad memiliki lima orang anak, sebagian di antaranya meneruskan kiprahnya sebagai dalang wayang cepak, sementara anggota keluarga lainnya berperan dalam pendukung produksi dan busana. Melalui Sanggar Jaka Baru, Ki Warsad terus menjaga warisan budaya wayang cepak agar tetap hidup di tengah tantangan zaman. (Amri-untuk Indonesia)