Friday, 30 January 2026

Ihtikar Duren Duri Hitam: Ketika 32.000 Pohon Disiapkan untuk Menjadi Sentra Durian Nasional

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh Ali Aminuloh 

lognews.co.id - Kata ihtikār sering kali memantik kening berkerut. Dalam wacana fikih klasik, ia identik dengan penimbunan yang merugikan publik. Namun dalam konteks ini, maknanya bergeser dan dimurnikan: bukan menahan pasokan untuk menaikkan harga, melainkan menguasai hulu produksi agar keberlanjutan, kualitas, dan distribusi berada dalam kendali yang bertanggung jawab.

Itulah ruh dari proyek Duren Duri Hitam yang tengah dirintis. Bukan spekulasi pasar, tetapi perencanaan produksi jangka panjang. Bukan monopoli, melainkan sentralisasi kebun agar mutu terjaga dan pasokan stabil.

Dengan target 32.000 pohon Duri Hitam, langkah ini secara objektif menempatkan kawasan Al Zaytun dan jejaringnya sebagai calon sentra pemasok durian Duri Hitam nasional, bahkan internasional. Di sinilah kata ihtikār menemukan makna barunya: penguasaan produksi sebagai ikhtiar kemandirian ekonomi.

Penanaman dilakukan terukur dan tersebar: 5.000 pohon di kawasan kampus Al Zaytun, 10.000 pohon di Ciputat–Terisi, serta ribuan lainnya di Garut dan Tasikmalaya. Pola ini menunjukkan bahwa sentra tidak selalu berarti satu titik, melainkan satu sistem yang terintegrasi, terkelola, dan berorientasi kualitas.

Keyakinan itu bukan tanpa dasar. Delapan puluh lima pohon yang lebih dulu ditanam telah berbuah. Dari situlah kepercayaan tumbuh: jika yang sedikit bisa berhasil, maka yang besar pun bisa diwujudkan dengan disiplin agronomi dan manajemen yang konsisten.

1000277323

Momentum simboliknya terjadi pada Jumat, 26 Desember 2026, di ruang khas Masjid Rahmatan. Dalam tradisi makan siang bersama, lima buah Duri Hitam disajikan sebagai tester. Setiap orang mencicipi satu potong, cukup untuk menilaibdan membangun keyakinan. Komentar yang muncul nyaris seragam: gurih, tidak terlalu manis, creamy, kering tidak lengket, aroma tidak menyengat, awet di lidah, renyah namun lembut. Bukan sekadar enak, tetapi berkelas.

Dari meja makan itulah, gagasan ihtikār memperoleh legitimasi sosialnya. Ketika kualitas terbukti dan produksi disiapkan secara massif, maka sentralisasi bukan lagi kecurigaan, melainkan kebutuhan strategi.

Jika 32.000 pohon itu tumbuh dan berbuah sesuai rencana, maka Al Zaytun tidak sekadar menanam durian. Ia sedang menanam posisi sebagai sentra durian Duri Hitam nasional bahkan internasional, pemasok yang stabil, dan rujukan mutu. Di balik duri yang gelap, tersimpan manisnya kedaulatan pangan dan kemandirian ekonomi pendidikan.

Dan di situlah ihtikār berubah wajah: bukan menimbun untuk menekan, tetapi menanam untuk menguatkan. (Amri-untuk Indonesia)