Oleh: Ali Aminulloh
lognews.co.id - Desember bukan sekadar bulan penutup kalender. Ia adalah sebuah ruang tunggu besar di mana kenangan dan harapan saling berpapasan. Bagi mereka yang mau berhenti sejenak dan berpikir, setiap tanggal yang kita lalui sebenarnya memiliki "ruh". Ia bukan sekadar angka, melainkan rangkaian cerita dan makna yang Tuhan titipkan untuk kita baca.
Dalam tradisi spiritual, merenungi fenomena waktu dan kejadian di alam semesta adalah sebuah kewajiban intelektual. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Ali 'Imran ayat 190:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." Di ayat berikutnya Tuhan menciptakan sesuatu selalu ada maknanya, tidak ada yang sia sia.
Tanggal 28 Desember hadir sebagai lembar terbuka yang menuntut kita untuk menjadi Ulul Albab. Mereka yang menggunakan akalnya untuk memetik pelajaran dari empat peristiwa (28 Desember ) yang tampak berbeda, namun terikat dalam satu benang merah kehidupan, yaitu:
1. Hari Tragedi QZ8501: Sebuah Alarm Kewaspadaan
Sembilan tahun lalu, langit kelabu menyelimuti Selat Karimata. Tragedi jatuhnya AirAsia QZ8501 yang merenggut 162 nyawa adalah luka yang menetap dalam sejarah kita. Peringatan ini hadir bukan untuk membuka luka lama, melainkan sebagai alarm keras tentang kefanaan manusia. Ia mengajarkan kita tentang pentingnya kewaspadaan, keselamatan, dan kesadaran bahwa maut seringkali datang tanpa mengetuk pintu. Di titik ini, kita diajak untuk lebih menghargai setiap detik napas yang masih tersisa.
2. Hari Film Pendek: Narasi dalam Keterbatasan
Bergerak dari duka, 28 Desember juga merayakan Hari Film Pendek Nasional. Ada pesan filosofis di sini: bahwa keindahan tidak harus durasi yang panjang. Sebuah karya film pendek membuktikan bahwa dalam keterbatasan waktu dan ruang, manusia mampu menciptakan pesan yang mendalam. Ini adalah seruan bagi kita untuk terus berkarya, sekecil apa pun bentuknya, karena kontribusi yang tulus akan selalu menemukan penontonnya sendiri
3. Hari Menelfon Teman: Jembatan di Tengah Kesunyian
Di era digital yang serba cepat, kita seringkali merasa sendirian di tengah keramaian. Hari Menelepon Teman mengingatkan kita bahwa teknologi seharusnya mendekatkan, bukan menjauhkan. Menekan tombol panggil dan mendengar suara seorang sahabat adalah upaya membangun komunikasi yang harmonis. Sebuah percakapan tulus bisa jadi adalah obat bagi kesepian seseorang, sebuah pengingat bahwa kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan sandaran emosional.
4. Hari Bermain Kartu: Membangun Kedekatan Sederhana
Terakhir, ada kehangatan dalam Hari Bermain Kartu. Di balik tawa saat mengocok kartu, ada filosofi tentang kebersamaan. Ini bukan soal menang atau kalah, melainkan soal meluangkan waktu tanpa gawai, duduk melingkar, dan membangun kedekatan dalam keluarga serta pertemanan. Di atas meja permainan, kita belajar bahwa kebahagiaan sejati seringkali ditemukan dalam kesederhanaan yang dilakukan bersama-sama.
Epilog: Refleksi di Ujung Tahun
Saat mentari 28 Desember mulai condong ke ufuk barat, kita menyadari bahwa hidup adalah kombinasi dari waspada terhadap duka, semangat untuk berkarya, keberanian untuk menyapa, dan kerendahan hati untuk bermain bersama.
Tahun akan segera berganti, namun pelajaran yang kita petik hari ini akan menjadi bekal perjalanan yang abadi. Mari kita masuki tahun baru dengan hati yang lebih peka: bahwa setiap peristiwa adalah ayat-ayat Tuhan yang tak tertulis, yang menanti untuk kita maknai dengan kebijaksanaan.
Karena pada akhirnya, bukan berapa lama kita hidup yang terpenting, melainkan seberapa banyak makna yang berhasil kita syukuri dari setiap detik yang diberikan-Nya. (Amri-untuk Indonesia)


