Sunday, 08 February 2026

IHYAUL ‘ULUM: Menghidupkan Ilmu sebagai Jalan Tengah Peradaban

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Oleh: Ridaningsih (Praktisi Pendidikan) 

Membaca Gagasan Keilmuan Syaykh Al-Zaytun

lognews.co.id - Peradaban tidak pernah runtuh karena kekurangan kitab. Ia runtuh ketika ilmu berhenti bernapas.

Sejarah manusia dipenuhi oleh tumpukan pengetahuan, tetapi tidak selalu melahirkan kebijaksanaan. 

Kitab demi kitab ditulis, teori demi teori dirumuskan, namun manusia tetap terjebak dalam krisis makna. 

Di titik inilah Syaykh Al-Zaytun, Syaykh Panji Gumilang mengingatkan kita pada satu persoalan mendasar: ilmu yang mati ilmu yang tidak lagi membentuk kesadaran, akhlak, dan tanggung jawab peradaban.

Dalam sejarah intelektual Islam, Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd kerap ditempatkan pada dua kutub yang saling berlawanan.

Al-Ghazali dipersepsikan sebagai simbol spiritualitas dan tasawuf, sementara Ibnu Rusyd dilihat sebagai representasi rasionalitas dan filsafat. Pembacaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyesatkan, karena menyempitkan makna sejarah dan memutus benang hikmah yang menghubungkan keduanya.

Syaykh Al-Zaytun pada beberapa kesempatan tausiyahnya justru mengajak kita membaca ulang sejarah secara lebih jernih. Menurutnya, Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd tidak sedang bertarung, melainkan sama-sama merespons penyakit keilmuan pada zamannya. Perbedaannya bukan pada tujuan, melainkan pada arah kegelisahan yang mereka hadapi.Untuk memahami hal ini, kita perlu kembali pada hakikat sejarah.

 Sejarah bukan sekadar catatan peristiwa masa lalu, melainkan pisau kesadaran alat untuk mengupas perjalanan manusia sekaligus mengoreksi kekeliruan yang pernah terjadi.

Sejarah hidup untuk meluruskan arah, bukan membekukan masa lalu

Hakikat korektif sejarah ini dapat dilihat secara nyata dalam perjalanan kitab-kitab samawi. Taurat hadir sebagai koreksi atas suhuf-suhuf sebelumnya dengan penegasan hukum Ilahi. Zabur kemudian menajamkan dimensi spiritual dan kehalusan rasa. Injil hadir sebagai koreksi atas kekakuan hukum dengan menegaskan cinta kasih dan pengampunan. Puncaknya, Al-Qur’an datang bukan sekadar sebagai kelanjutan, tetapi sebagai koreksi sekaligus penyempurna kitab-kitab sebelumnya.

Menurut pandangan Syaykh Al-Zaytun, Al-Qur’an dapat dipahami sebagai kitab perjanjian modern (perjanjian kesadaran) antara Tuhan dan manusia bukan dalam pengertian teologis Barat tentang perjanjian lama atau perjanjian baru, melainkan sebagai metafora peradaban. Perjanjian ini menandai fase kedewasaan manusia dalam sejarah, ketika wahyu tidak lagi sekadar memberi hukum, tetapi menuntut keterlibatan penuh akal, nurani, dan tanggung jawab moral. Dalam posisi ini, Al-Qur’an hadir sebagai koreksi sekaligus penyempurna kitab-kitab sebelumnya, menutup siklus koreksi wahyu, dan membuka horizon peradaban tauhid yang berbasis ilmu, keadilan, dan kesadaran.

Dalam kerangka inilah kegelisahan Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd menemukan tempatnya

Al-Ghazali hidup di masa keemasan tradisi ilmu. Madrasah berdiri megah, kitab ditulis tanpa henti, dan perdebatan intelektual menjadi kebanggaan. Namun justru di puncak kejayaan itu, ia menyaksikan ilmu kehilangan ruhnya.

Ilmu menjadi alat prestise, bukan sarana transformasi diri. Dari kegelisahan inilah lahir Ihya’ Ulumiddin sebuah upaya menghidupkan kembali ilmu-ilmu yang telah mati secara batiniah. Al-Ghazali tidak menolak akal, tetapi mengingatkan bahwa akal tanpa cahaya ruhani berisiko melahirkan kesombongan intelektual.

Sebaliknya, Ibnu Rusyd menghadapi situasi yang berbeda. Ia menyaksikan akal mulai dicurigai, filsafat dianggap ancaman, dan wahyu dijadikan alasan untuk berhenti berpikir. Dalam kondisi seperti ini, agama berisiko membeku dipertahankan secara simbolik, tetapi kehilangan daya hidupnya. Ibnu Rusyd menegaskan bahwa akal dan wahyu tidak mungkin bertentangan, karena keduanya berasal dari sumber yang sama: Tuhan Yang Maha Esa.

Di sinilah Syaykh Al-Zaytun menarik kesimpulan yang melampaui dikotomi lama. Ilmu bisa mati karena dua hal: kehilangan ruh atau kehilangan daya nalar. Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd sama-sama sedang melawan kematian ilmu dengan medan perjuangan yang berbeda.

Dari sinilah lahir gagasan kunci IHYAUL ‘ULUM menghidupkan ilmu-ilmu. Bukan dengan menghafalkan tradisi secara mekanis, dan bukan pula dengan meniru modernitas tanpa akar, melainkan dengan menghidupkan kembali ilmu agar tetap bernapas di setiap zaman.

Syaykh Al-Zaytun merumuskan prinsip yang sederhana namun menentukan arah peradaban:

hakikat sejarah × sensitivitas = ilmu pengetahuan

Tanpa pemahaman sejarah, ilmu hanya menjadi pengulangan tanpa jiwa. Tanpa sensitivitas terhadap realitas, ilmu berubah menjadi dogma yang kaku. IHYAUL ‘ULUM menuntut keduanya hadir sekaligus: akar yang kuat dan kepekaan yang hidup. 

Di tengah krisis keilmuan dan kegelisahan spiritual umat hari ini, persoalannya bukan kekurangan teori atau referensi. Persoalannya adalah keberanian untuk menghidupkan ilmu—agar iman tidak kehilangan akal, dan akal tidak kehilangan cahaya.

Disanalah IHYAUL ‘ULUM berdiri sebagai jalan tengah peradaban: jalan yang berakar, bernapas, dan terus hidup.

Maka tugas kita hari ini bukan menambah jumlah ilmu yang kita kumpulkan, melainkan memastikan bahwa ilmu itu masih hidup membimbing akal, melembutkan rasa, dan menuntun langkah kita kembali ke arah Tuhan dan kemanusiaan. Alhamdulillahirabbilalamin. (Amri-untuk Indonesia) 

Mendidik dan membangun semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah Swt